Bawa Nama Yogyakarta, Tiga Penyair Ini Siap Unjuk Gigi di Panggung Sastra Asia Tenggara
PPN kini telah menjadi barometer utama kepenyairan di kawasan serumpun, terutama setelah ajang Temu Sastra Indonesia tidak lagi diselenggarakan. Keistimewaan PPN terletak pada proses seleksinya yang murni berdasarkan kualitas karya
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Panggung sastra paling bergengsi di Asia Tenggara, Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII, siap dihelat di Jakarta pada 11-14 September 2025 mendatang. Di antara ratusan nama penyair terpilih dari berbagai negara, tiga sosok akan berangkat membawa bendera Yogyakarta: Ulfatin CH, Joshua Igho, dan Latief Noor Rochmans.
Keberhasilan mereka menembus proses kurasi yang terkenal sangat ketat ini menjadi bukti bahwa denyut nadi kehidupan sastra di Yogyakarta masih berdetak kencang dan penuh gairah.
Barometer Puisi Asia Tenggara
Menurut Joshua Igho, salah satu penyair terpilih, PPN kini telah menjadi barometer utama kepenyairan di kawasan serumpun, terutama setelah ajang Temu Sastra Indonesia tidak lagi diselenggarakan. Keistimewaan PPN terletak pada proses seleksinya yang murni berdasarkan kualitas karya.
“Kurasinya sangat ketat. Kurator tidak melihat kiprah penyair. Pernah baca puisi di Kutub Utara, tak berpengaruh. Seleksi murni pada puisi yang dikirim. Itulah mengapa penyair yang lolos PPN, puisinya dinilai memiliki bobot,” papar Joshua.
Puisi Joshua yang berhasil lolos berjudul “Museum Hegemoni”. Sementara itu, Ulfatin CH lolos dengan puisi “Dalam Berlayar”, dan Latief Noor Rochmans dengan “Overture Kesadaran”.
Penjaga Gairah Sastra “Kota Puisi”
Bagi ketiga penyair ini, keberangkatan mereka bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan sebuah misi untuk menegaskan eksistensi Yogyakarta sebagai kota sastra.
“Yogya kota sastra. Banyak penyair andal dan top di Yogya. Dengan ada yang mewakili, ini menegaskan bahwa kancah puisi di Yogya masih bergairah dan bergema,” ungkap Latief.
Hal senada diungkapkan Ulfatin, yang melihat PPN sebagai ajang silaturahmi dan bertukar wawasan antarpenyair Nusantara. “Kita bisa saling menimba pengalaman di antara penyair serumpun,” ujarnya.
Dukungan di Balik Keberangkatan
Perjalanan para duta sastra Yogyakarta ini tak lepas dari tantangan. Joshua mengungkapkan bahwa meski akomodasi di Jakarta ditanggung panitia, transportasi menjadi tanggungan pribadi. Upaya meminta dukungan kepada dinas terkait belum membuahkan hasil.
Namun, semangat gotong royong komunitas sastra Yogyakarta menunjukkan kekuatannya. Bantuan akhirnya datang dari Balai Bahasa Yogyakarta (BBY) dan Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) DIY.
“Kami turut mendukung kehidupan sastra di Yogyakarta. Sastra salah satu jalan ke internasional,” ujar Kepala BBY, Drs. Anang Santosa, M.Hum.
Dengan dukungan komunitas yang solid, ketiga penyair ini siap berangkat ke Jakarta. Mereka tidak hanya membawa bait-bait puisi, tetapi juga membawa semangat dan nama besar Yogyakarta untuk kembali bergema di panggung sastra Asia Tenggara. (*)
Siaran Pers
