Banyak yang Masih “Buta” Sinyal, TelkomGroup Bertekad Menembus Batas Wilayah 3T
TelkomGroup raih tiga penghargaan Konektivitas Digital 2026 atas keberhasilan menjaga jaringan di wilayah 3T. Inilah bukti nyata sinergi infrastruktur fiber optik dan satelit dalam memperkuat ketahanan digital Indonesia
KORANBERNAS.ID, JAKARTA--Di saat banyak orang hanya memikirkan kecepatan internet di kota besar, ada perjuangan masif yang tak terlihat untuk menjaga Indonesia tetap terhubung. Dari pelosok pegunungan di Papua hingga pulau terluar di batas negara, jaringan digital bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan oksigen bagi ekonomi dan pendidikan.
Kerja keras menjaga resiliensi jaringan inilah yang akhirnya membawa TelkomGroup memborong tiga penghargaan bergengsi dalam ajang Apresiasi Konektivitas Digital 2026 yang digelar di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Penghargaan ini bukan sekadar piala di atas meja. Ini adalah potret nyata bagaimana Telkom, Telkomsel, dan Telkomsat berbagi peran untuk memastikan tidak ada lagi wilayah yang "buta" sinyal.
Direktur Network Telkom, Nanang Hendarno, menegaskan bahwa bagi mereka, membangun infrastruktur di medan yang sulit bukanlah beban, melainkan misi vital.
“Konektivitas adalah enabler. Tanpa infrastruktur yang andal di wilayah 3T, akses kesehatan, pendidikan, dan ekonomi masyarakat di sana akan terputus,” ujarnya.
Mengubah Wajah Pelosok Nusantara
Keberhasilan TelkomGroup dalam menjaga ketahanan jaringan nasional memang tidak datang dalam semalam. Sinergi lintas lini—mulai dari backbone fiber optik yang melintasi dasar laut hingga teknologi satelit mutakhir—menjadi kunci mengapa Indonesia kini perlahan mampu meminimalisir area blank spot. Telkomsel terbukti menjadi perintis yang paling berani menyentuh wilayah terpencil, sementara Telkomsat memberikan solusi bagi daerah yang secara geografis tidak mungkin dijangkau kabel darat.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, pun mengakui bahwa pemerataan konektivitas adalah pekerjaan rumah raksasa yang mustahil selesai tanpa kolaborasi kuat antara pemerintah dan pelaku industri. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa ketika korporasi dan negara bergerak dalam frekuensi yang sama, kesenjangan digital bukanlah hal mustahil untuk dipangkas.
Bagi jutaan masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar, jaringan yang stabil kini bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan hak dasar yang membuka pintu menuju peluang ekonomi baru dan masa depan yang lebih cerah. (*)
Siaran Pers
