Asal Usul Joko Pinurbo Dijadikan Nama Gang di Yogyakarta
Kami awalnya tidak tahu siapa Pak Joko Pinurbo, karena bergaul sama dengan yang lain bahkan juga jadi bendahara sosial kampung.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Pemberian nama gang maupun jalan biasanya tidak asal-asalan melainkan disertai sejarah serta asal usulnya. Untuk mengenang dan sebagai bentuk penghargaan kepada penyair Joko Pinurbo, namanya diabadikan menjadi sebuah Gang di Jalan Setiyaki Wirobrajan Kota Yogyakarta.
Peresmian nama gang itu dilaksanakan, Sabtu (27/7/2024) sore. Acara diawali kirab bregada membawa papan nama gang dari Pendapa Sumarah ke lokasi. Selanjutnya dilakukan penancapan papan nama dan pentas pembacaan puisi maupun musik dan lukis hingga malam hari. Kegiatan itu diikuti ratusan warga sekitar dan para seniman di Yogyakarta.
Joko Pinurbo meninggal dunia pada usia 61 tahun, Sabtu (27/4/2024), pukul 06:03 di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Pria kelahiran Sukabumi Jawa Barat yang dikenal dengan nama pena Jokpin tersebut meninggalkan seorang Istri bernama Nurnaeni Amperawati Firmina serta tiga orang anak dan dua cucu.
Sepanjang hidupnya Jokpin memperoleh berbagai penghargaan di antaranya Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Sih Award (2001), Hadiah Sastra Lontar (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012), Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014), Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015) dan South East Asian (SEA) Write Award (2014).
Penyair itu semasa hidupnya sering diundang ke berbagai pertemuan dan festival sastra. Karya-karyanya telah diterjemahkan antara lain ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Mandarin dan Rusia.
Pentas pembacaan puisi dan musik saat peresmian Gang Joko Pinurbo. (sariyati wijaya/koranbernas.id)
"Kami awalnya tidak tahu siapa Pak Joko Pinurbo, karena bergaul sama dengan yang lain bahkan juga jadi bendahara sosial kampung. Kami tahu beliau penulis, tapi tidak tahu seberapa hebat dan besar. Karena beliau tidak pernah cerita. Saat meninggal kami kaget banyak tamu penting begitu pun karangan bunganya. Bahkan saat 40 harinya Ngarsa Dalem Sultan HB X juga membacakan puisi karya Pak Joko. Kami seperti tertampar karena selama ini tidak tahu seberapa terkenal beliau di luar," kata Agustinus Budi Sutrisno, Ketua Kampung.
Untuk memberikan penghormatan, apresiasi dan penghargaan kepada Joko Pinurbo warga kemudian berinisiatif dan sepakat memberi nama gang yang memang belum ada namanya.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada Bu Joko yang mengizinkan memberikan nama gang ini. Saya kebetulan tetangga dekat rumah,tapi baru tahu beliau sosok yang luar biasa setelah meninggal. Selama ini Pak Joko tidak pernah cerita siapa dirinya, walaupun kami akrab dan sering berkumpul di kampung," katanya.
Nurnaeni mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan juga para seniman yang sudah memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap almarhum suaminya.
Bentuk apresiasi
"Awalnya saya kaget saat Mas Kecek (panitia) datang ke rumah untuk memberitahu ada pemberian nama gang. Saya mengucapkan terima kasih karena Pak Joko namanya sudah diabadikan dalam nama sebuah gang sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan,” kata dia.
Diakui, memang selama ini almarhum tidak pernah bercerita kepada para tetangganya tentang dirinya di luar seperti apa. “Dan suami saya ini juga bergaul bersama warga yang lain pada umumnya, ikut pertemuan karena memang Pak Joko adalah bendahara di kampung ini. Begitupun saat acara 17-an juga ikut kerja bakti dan juga kumpul warga. Bahkan juga membacakan sambutan walikota," kata Nur.
Sedangkan Kecek mengatakan Jokpin memang tidak pernah menjelaskan siapa dirinya. Baru saat 40 hari dan acara Tribute to Joko Pinurbo dan Ngarso Dalem membaca puisi, orang banyak yang paham. "Ini wujud kesenangan kami memiliki Pak Joko Pinurbo. Ini bentuk penghargaan kami dan semoga abadi," katanya. (*)