Ari Wulu Tampil di Ngayogjazz 2025

Proses kreatif kolaborasi itu berlangsung singkat, hanya empat hari.

Ari Wulu Tampil di Ngayogjazz 2025
Penampilan Ari Wvlv, Gamellance dan Kuaetnika di panggung Ibu Ngayogjazz 2025. (anggarakzza rayyi untuk koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Hujan tipis yang turun sejak sore tak menyurutkan antusiasme penonton memadati area desa tempat Ngayogjazz 2025 digelar. Lampu-lampu kuning yang menggantung di antara pepohonan menciptakan suasana hangat.

Sementara musik dari panggung lain sesekali menyelinap, menjadi pengantar menuju salah satu suguhan yang paling ditunggu berada di Panggung Ibu yaitu kolaborasi Ari Wulu, Kua Etnika dan produser elektronik Gamellance.

Bagi Ari Wulu, tampil di Ngayogjazz selalu memberikan perasaan akrab. “Selalu menyenangkan berada di Ngayogjazz. Festival ini selalu berusaha memberikan yang berbeda setiap tahunnya,” ujarnya saat dihubungi koranbernas.id, Minggu (16/11/2025).

Tahun ini, dia tampil bersama Balan (Balance Perdana Putra, rapper, produser musik dan beatmaker dari Yogyakarta yang merupakan salah satu anggota inti dari grup Jogja Hip Hop Foundation - red) setelah menerima undangan khusus untuk merespons repertoar Kuaetnika, sebuah kelompok musik etnik kontemporer legendaris yang telah menjadi bagian penting dari lanskap musik Jogja.

Berlangsung singkat

Proses kreatif kolaborasi itu berlangsung singkat, hanya empat hari. Ari mulai dengan mendengarkan ulang karya-karya Kua Etnika, menelusuri rekaman mereka sejak album awal hingga yang terbaru. Dari situ ia memilih materi yang akan mereka interpretasi ulang di panggung.

“Saya jadi mengikuti perkembangan musik mereka dari dulu sampai sekarang. Kami lalu saling memberikan gagasan. Saya belajar banyak dari musikalitas Kua Etnika,” katanya.

Gamellance, yang selama ini dikenal lewat produksi elektronik dan hip-hopnya, melengkapi formasi. Pertemuan tiga karakter musikal itu menghasilkan ruang eksperimen yang luas. Kuaetnika, kata Ari, memberi kebebasan penuh. “Mereka membebaskan saya dan Balan untuk berkreasi," ujarnya.

Meski begitu, Ari mengaku tetap merasakan tantangan psikologis. “Tantangan terbesarnya adalah mengatasi kegugupan saya bermain bersama para pepunden,” ujarnya tertawa.

Ritme etnik

Namun kegugupan itu justru menjadi energi yang merangsang eksplorasi. Perpaduan elektronik, tradisi, dan ritme etnik disatukan menjadi pengalaman sonic yang disebut sebagai “bunyian lintas semesta”. Baginya, kolaborasi ini adalah upaya mempresentasikan tonal Nusantara hari ini.

Perkembangan musik eksperimental dan etnik kontemporer di Jogja, menurut Ari, juga berada dalam fase terbaik. “Sejak 2018, Indonesia sudah dikenal dunia sebagai salah satu pusat perkembangan musik eksperimental,” katanya.

Menurutnya, Ngayogjazz menjadi salah satu ruang yang memberi tempat bagi dinamika tersebut. Festival ini memang dikenal sebagai perayaan musik yang membuka pintu bagi kemungkinan-kemungkinan baru, dari jazz tradisional, kolaborasi lintas-genre hingga pertunjukan eksperimental.

Keunikan Kuaetnika sebagai kelompok dengan musikalitas mapan dan Gamellance sebagai produser elektronik yang produktif -- ditambah keberanian Ari dalam mengeksplorasi batas bunyi membuat penampilan ini relevan disuguhkan kepada penonton Ngayogjazz 2025.

Lebih muda

“Pertemuan ini menjadi menarik karena Kua Etnika, sebagai abang-abangan kami, membuka diri terhadap kemungkinan lain dari yang lebih muda,” ujar Ari.

Ketika cahaya lampu meredup dan terang serta tepuk tangan mengisi udara, jelas bahwa eksperimen lintas-genre itu tidak berhenti di panggung. Ia menjadi pertemuan generasi, dialog estetika, dan pengingat bahwa musik Jogja terus bergerak.

Tentang rencana lanjutan setelah proyek ini, Ari tidak menyebutkan secara konkret tetapi menyiratkan bahwa pintu eksplorasi selalu terbuka.  Ngayogjazz, bagi dirinya, adalah ruang yang membuat hal itu mungkin -- tahun ini dan mungkin pada tahun-tahun berikutnya. (*)