air-proyek-p2at-ceporan-diperjualbelikanPengelola sumber air di Desa Ceporan Kecamatan Gantiwarno mengisi galon dan jerigen warga yang datang membeli air bersih. Pengelola air mematok tarif Rp 2000 per galon. (masal gurusinga/koranbernas.id)


Masal Gurusinga
Air Proyek P2AT Ceporan Diperjualbelikan

SHARE

KORANBERNAS.ID,KLATEN - Desa Ceporan Kecamatan Gantiwarno Kabupaten Klaten, kini ramai diperbincangkan warga. Pasalnya, di desa itu terdapat sumber air yang diyakini bisa langsung dikonsumsi tanpa harus direbus terlebih dahulu. Karena keyakinan itulah, banyak warga yang mengambil air tersebut untuk dikonsumsi sendiri maupun dijual lagi.


Namun untuk mengambil air di sumber itu, tentu tidak gratis. Pengelola mematok tarif Rp 2000 per galon. Kabarnya, pendapatan dari menjual air itu rata-rata Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu per hari.

  • UGM Lansir Enam Korban Lion Air
  • Hakim Tinggi Lulusan UGM juga Jadi Korban Lion Air

  • "Per hari rata-rata sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Tapi saya menyebutnya bukan menjual karena hanya Rp 2000 per galon," kata Asarno, pemilik lahan lokasi sumber air itu.

    Ditemui di rumahnya yang terletak di Selatan Kantor Desa Ceporan beberapa hari lalu, Asarno menceritakan jika yang mengelola air itu adalah warga Ceporan juga. Hitung-hitung memberikan lapangan kerja untuk warga. Pengelola mematok tarif air itu hanya Rp 2000 per galon. Tarif Rp 2000 ribu per galon itu kata dia, lebih tepat disebut iuran. Sebab, di lokasi sumber air itu ada tenaga yang mengelola, membersihkan dan mengisi galon warga.

  • Warga Gunungkidul Mirip Sultan Ini jadi Korban Lion Air

  • Lokasi sumber air dengan rumah Asarno cukup jauh. Setidaknya berjarak 1 kilometer ke arah Barat. Untuk menuju lokasi sumber air harus nelalui jalan desa dan jalan usaha tani (JUT), sebab lokasi sumber air berada di pinggir jalan yang di sekitarnya terdapat areal persawahan.

    Asarno menceritakan, sumber air itu dulunya peninggalan proyek air tanah (P2AT) pada masa Pemerintahan Soeharto yang fungsinya untuk irigasi. "Waktu itu ada beberapa titik yang di bor di sekitar sana untuk irigasi. Jadi tidak hanya di tanah kakek saya bernama Wongsorejo," ujarnya.

    Berbeda dengan sumur bor di tempat lain yang sudah tidak berfungsi karena tidak ada airnya, sumber yang dibangun di tansh Wongsorejo masih saja mengeluarkan air meski tidak menggunakan disel. 

    Melihat kondisi air yang sangat bening, tidak sedikit warga meyakini air dari sumur bor peninggalan proyek P2AT di lahan milik Wongsorejo itu bisa langsung diminum. Akibatnya, pemilik lahan dan pengelola air itu memasang paralon dan kran dari sumur bor itu hingga pinggir jalan. Tujuannya agar air tidak terbuang sia-sia dan memudahkan melayani warga yang mengambil air.

    Benar saja, setiap hari banyak sekali warga yang mengambil air di sana. Sampai-sampai pengelola sumber air itu kewalahan melayani warga yang antri mengosi, Ada yang datang membawa mobil pikap dengan puluhan galon dan jerigen, serta ada juga yang datang menggunakan sepeda motor.

    Meski setiap hari banyak galon dan jerigen berjejer antri menunggu giliran diisi namun pengelola dan warga tetap sabar menunggu.

    "Airnya bening sekali dan bisa langsung diminum. Saya sudah beberapa kali ke sini mengambil airnya," terang Agung, warga Desa Ceporan.

    Kepala Desa Ceporan, Sutopo mengatakan sumber air itu dulunya bantuan pemerintah untuk keperluan irigasi. Namun saat itu dibangun di lahan warga. Karena airnya sangat bening kata dia, sudah ada beberapa pihak yang mensurvei lokasi dan melakukan penjajakan. (*)


    TAGS: air  ceporan  klaten 

    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini