warga-keberatan-terhadap-keberadaan-keraton-agung-sejagadKepala Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, Slamet Purwadi (tengah) didamping Polsek Kecamatan Bayan Abdul Aziz dan Camat Bayan Moeharjono. (w asmani/koranbernas.id)


asmani

Warga Keberatan terhadap Keberadaan Keraton Agung Sejagad

SHARE

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Kepala Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, Slamet Purwadi, melaporkan keberadaan Keraton Agung Sejagad ke Kecamatan Bayan, Senin (13/1/2020). Menurut Slamet, warganya merasa resah dengan ritual yang dilakukan pihak keraton tersebut.

"Warga kami mengeluhkan aroma dupa yang menyengat di malam hari," kata Slamet, kepada wartawan, Senin (13/1/2020).


Baca Lainnya :

Menurut Slamet, pihak keraton hanya melakukan pemberitahuan dan ijin pembuatan keramaian. Pertama, 29 Desember tahun lalu saat pemindahan batu prasasti dari Kecamatan Bruno ke lokasi keraton. Bersamaan saat itu dengan pembuatan prasasti baru disertai sesaji yang sangat banyak.

Kegiatan berikutnya, wilujengan dan kirab keraton menyambut kedatangan Maharaja dan Maharatu Jawa kembali ke tanah Jawa, setelah berakhirnya perjanjian 500 tahun.

"Intinya warga keberatan Keraton Agung Sejagat berada di desa Pogung Jurutengah," tandas Slamet Purwadi.

Camat Bayan, Moeharjono, membenarkan telah mendapat pengaduan dari Kepala Desa Pogung Juru Tengah terkait keberadaan keraton baru di desa tersebut. "Kami sudah menerima laporan dari Kades Pogung, dan kami langsung mengumpulkan forum komunikasi kecamatan (forkomcam) Bayan untuk meneruskan laporan ke Bupati," kata Camat Bayan.

Menurut Moeharjono, pihaknya menerima laporan bahwa Kepala Seksi Pelayanan Desa Pogung Juru Tengah terlibat sebagai anggota keraton baru. "Rencananya Kasi Pelayanan desa Pogung dalam 3-4 hari kedepan akan dipanggil untuk dimintai keterangan," paparnya.

Keberadan Keraton Agung Sejagad menimbulkan pertanyaan dari warga sekitar. Menurut YN, warga di sekitar keraton baru sangat terkejut dengan ritual Wilujengan dan Kirab Keraton Agung itu. "Tiba-tiba saja ada arak-arakan dengan pakaian tradisional," bebernya.

 

Namun menurut YN, diriya merasa heran karena kirab budaya biasanya dihadiri petugas keamanan dan pejabat terkait, tetapi dalam acara yang di gelar Jumat (10/1/2020) itu tidak tampak seorang petugas keamanan maupun pejabat desa.

Warga lainnya, RT, mengeluhkan kegiatan keraton selalu jatuh di malam hari, saat warga sedang beristirahat. "Hal itu tentu saja mengganggu warga yang sedang istirahat," ujar RT. (eru)


Baca Lainnya :


TAGS:

SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini