Wacana Reaktivasi Adisutjipto Tidak Pengaruhi Peran Strategis YIA

Belum ada keputusan resmi dari pemerintah pusat terkait reaktivasi penerbangan komersial di Adisutjipto.

Wacana Reaktivasi Adisutjipto Tidak Pengaruhi Peran Strategis YIA
Bandara Adisutjipto Yogyakarta saat operasional tahun 2019. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, KULONPROGO – Wacana reaktivasi Bandara Adisutjipto untuk kembali melayani penerbangan komersial memperoleh beragam respons, termasuk munculnya kekhawatiran terhadap perkembangan ekonomi kawasan sekitar Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulonprogo.

Bupati Kulonprogo Agung Setyawan menyatakan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir apabila pemerintah memutuskan mengaktifkan kembali penerbangan komersial di Adisutjipto karena tidak mempengaruhi peran strategis YIA.

“Saya melihat karakter operasional kedua bandara berbeda. YIA tetap menjadi bandara utama untuk pesawat berbadan besar dan rute-rute utama, sedangkan Adisutjipto kemungkinan akan lebih banyak melayani pesawat berkapasitas kecil atau penerbangan tertentu," kata Agung, Minggu (7/6/2026).

Menurut bupati, hingga saat ini belum ada keputusan resmi dari pemerintah pusat terkait reaktivasi penerbangan komersial di Adisutjipto. Karena itu, masyarakat diminta menunggu kebijakan yang nantinya ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan.

Penerbangan terbatas

Pada kesempatan yang sama, General Manager Yogyakarta International Airport (YIA), Thamrin, menyatakan pihaknya akan mengikuti setiap kebijakan dan arahan resmi pemerintah.

Saat ini Bandara Adisutjipto masih melayani penerbangan domestik terbatas menggunakan pesawat propeler. Apabila pemerintah memutuskan kembali mengoperasikan penerbangan jet di Adisutjipto, menurut Thamrin, diperlukan kajian menyeluruh yang mencakup aspek kapasitas, keselamatan dan keamanan penerbangan, kualitas pelayanan, kenyamanan pengguna jasa, serta konektivitas transportasi menuju bandara.

"Kami akan mengikuti kebijakan regulator dan menyesuaikan skenario operasional sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah," ujarnya.

Wacana tersebut menjadi perhatian karena YIA merupakan salah satu proyek infrastruktur strategis yang dibangun dengan investasi sekitar Rp 11,3 triliun dan memiliki kapasitas hingga 20 juta penumpang per tahun. Meski demikian, jumlah penumpang yang dilayani masih jauh di bawah kapasitas terpasang. Sepanjang 2024, pergerakan penumpang di YIA tercatat sekitar 4,1 juta hingga 4,3 juta orang.

Harapan PHRI

Ketua PHRI Kulonprogo Sumartoyo mengaku pelaku usaha perhotelan berharap YIA tetap menjadi pusat utama penerbangan di DIY. Menurutnya, sektor perhotelan di Kulonprogo masih menghadapi tantangan karena tingkat okupansi sebelum musim embarkasi haji rata-rata masih berada di bawah 25 persen.

"Kami berharap konektivitas dan jumlah penerbangan di YIA terus ditingkatkan agar aktivitas ekonomi di Kulon Progo semakin berkembang," katanya.

Menurut Sumartoyo, keberadaan embarkasi haji di YIA turut membantu meningkatkan tingkat hunian hotel. Namun pertumbuhan ekonomi kawasan masih membutuhkan dukungan peningkatan jumlah penumpang dan aktivitas penerbangan.

Wacana reaktivasi Adisutjipto dinilai perlu dikaji secara cermat agar mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan layanan transportasi udara masyarakat dan optimalisasi investasi besar yang telah ditanamkan di YIA beserta kawasan pendukungnya. (*)