Kurs Dolar Melonjak, Bos Qhomemart Tetap Optimistis: Pasar 280 Juta Penduduk Jadi Kekuatan Ekonomi
Henky Sampatti Huang optimistis ekonomi Indonesia tetap bergerak meski kurs dolar melonjak. CEO Qhomemart menilai program pemerintah, pembangunan rumah, dan pertumbuhan usaha kafe menjadi penopang kuat sektor retail bangunan di Yogyakarta
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Di tengah menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat dan berbagai tantangan ekonomi global, pelaku usaha retail bahan bangunan di Yogyakarta justru melihat peluang besar yang masih terbuka lebar di pasar domestik. Besarnya jumlah penduduk Indonesia serta berbagai program pembangunan pemerintah dinilai menjadi penopang utama pergerakan ekonomi nasional.
Hal ini disampaikan pengusaha retail bangunan sekaligus CEO Qhomemart, Henky Sampatti Huang. Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar berupa populasi lebih dari 280 juta jiwa yang terus menciptakan kebutuhan di berbagai sektor.
“Indonesia punya penduduk sekitar 280 juta. Populasi sebesar itu pasti memiliki kebutuhan yang sangat besar. Semua orang butuh tempat tinggal, renovasi rumah. Banyak juga yang butuh gudang, membangun kafe, kos-kosan, hingga berbagai fasilitas usaha lainnya. Itu menjadi pasar yang sangat luas bagi kami,” ujar Henky.
Sebagai perusahaan retail bahan bangunan dan perlengkapan rumah, Qhomemart melayani beragam kebutuhan pembangunan mulai dari pembangunan rumah tinggal, usaha kuliner, gudang, kos-kosan hingga berbagai proyek komersial lainnya.
Menurut Henky, meskipun terjadi perlambatan daya beli pada sejumlah sektor, kebutuhan dasar masyarakat terhadap perbaikan dan pembangunan properti tetap berjalan.
“Kebutuhan tertentu tidak bisa ditunda. Atap rumah bocor harus segera diperbaiki. Kompor rusak harus diganti karena orang harus memasak. Mesin air rusak juga harus segera diganti karena menyangkut kebutuhan sehari-hari. Itu sebabnya sektor retail bangunan masih memiliki daya tahan yang cukup baik,” katanya.
Program Pemerintah Jadi Motor Penggerak Ekonomi
Henky yang juga pengurus APRINDO menilai berbagai program pemerintah saat ini turut memberikan dampak positif terhadap dunia usaha, khususnya sektor retail bahan bangunan dan perlengkapan pendukung pembangunan.
Program renovasi rumah, pembangunan infrastruktur, koperasi desa, Sekolah Rakyat, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut telah menciptakan permintaan baru di berbagai daerah.
“Kami merasakan dampaknya secara langsung. Banyak kebutuhan yang muncul dari program-program pemerintah tersebut. Bahkan kami mendapatkan permintaan hingga wilayah Jawa Tengah. Untuk program MBG misalnya, kami menyediakan berbagai peralatan memasak yang dibutuhkan,” ungkapnya.
Selain itu, program bedah rumah yang dijalankan pemerintah di berbagai daerah juga dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan penjualan sektor bahan bangunan.
“Program bedah rumah dalam jumlah ribuan unit tentu sangat berdampak bagi industri kami. Tidak hanya retail bangunan, tetapi juga berbagai sektor lain yang terkait,” tambahnya.
Menjamurnya Kafe Baru Jadi Pasar Potensial
Fenomena menjamurnya kafe dan usaha kuliner baru di Yogyakarta juga menjadi salah satu faktor yang menjaga perputaran ekonomi daerah. Henky melihat geliat usaha tersebut tidak hanya terjadi di pusat Kota Yogyakarta, tetapi sudah merambah hingga wilayah kabupaten dan kawasan pelosok.
“Kafe-kafe baru bermunculan sampai ke pelosok Jogja dan kabupaten. Ini menjadi pasar yang besar. Mungkin nilainya per proyek tidak sebesar pembangunan skala besar, tetapi jumlahnya sangat banyak sehingga tetap menciptakan perputaran ekonomi yang baik,” jelasnya.
Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai "kue yang lebih kecil tetapi jumlahnya lebih banyak", sehingga tetap mampu menopang pertumbuhan usaha.
Selain mengandalkan pasar pembangunan, Henky juga meyakini industri event dan pariwisata akan menjadi salah satu penggerak ekonomi Yogyakarta dalam beberapa tahun ke depan.
Sebagai bentuk kontribusi terhadap pergerakan ekonomi daerah, Qhomemart tengah mempersiapkan penyelenggaraan Mantra Fun Run 2026 yang dirancang sebagai event berskala internasional.
Menurutnya, semakin banyak event yang digelar di Yogyakarta akan semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Ekonomi akan bergerak ketika banyak event diselenggarakan di Jogja. Wisatawan datang, hotel terisi, UMKM hidup, kuliner bergerak dan berbagai sektor lainnya ikut merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Meski optimistis terhadap ketahanan pasar domestik, Henky berharap kondisi ekonomi makro nasional dapat segera membaik sehingga dunia usaha memiliki ruang tumbuh yang lebih besar.
“Tentu kita semua berharap kondisi ekonomi secara makro semakin baik sehingga dunia usaha dan masyarakat bisa berkembang bersama,” katanya. (*)
---
