UGM dan IHC Menyiapkan Ribuan Praktisi Hipnoterapi Klinis

UGM dan IHC Menyiapkan Ribuan Praktisi Hipnoterapi Klinis
Kegiatan Pelatihan Sertifikasi Transpersonal Clinical Hypnotherapy bersama Indonesian Hypnosis Centre (IHC), Sabtu (28/3/2026), di Fakultas Psikologi UGM, Kampus UGM Yogyakarta. (muhammad_zukhronnee_ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Menanggapi meningkatnya kasus self-harm dan bunuh diri di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjalin kolaborasi strategis dengan Indonesian Hypnosis Centre (IHC).

Sinergi ini bertujuan mencetak tenaga kesehatan mental profesional melalui Pelatihan Sertifikasi Transpersonal Clinical Hypnotherapy yang digelar di Yogyakarta, Sabtu (28/3/2026).

Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar berupa ketimpangan jumlah tenaga ahli kesehatan mental. Dengan populasi 288 juta jiwa, Indonesia hanya memiliki sekitar 3.000 psikolog.

Kondisi ini menyebabkan lebih dari 90 persen masyarakat tidak memiliki akses ke layanan kesehatan mental yang memadai.

"Sebelum bunuh diri biasanya terjadi self-harm. Jika seseorang tidak kuat menanggung beban psikis, mereka mengonversinya ke fisik," ujar Direktur IHC, Avifi Arka, Ph.D., di sela acara Pelatihan Sertifikasi Transpersonal Clinical Hypnotherapy bersama Indonesian Hypnosis Centre (IHC), Sabtu (28/3/2026), di Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta.

"Kondisi ini sebenarnya bisa dicegah melalui intervensi psikis yang tepat," lanjutnya.

Melalui Laboratorium Hypnotic Guided Imagery (HGI), kolaborasi ini menyiapkan para praktisi untuk menangani spektrum masalah yang luas, mulai dari depresi, Non-Suicidal Self-Injury (NSSI), hingga Intimate Partner Violence (IPV). 

Keunggulan metode ini terletak pada efisiensinya; riset menunjukkan hipnoterapi mampu memberikan dampak signifikan hanya dalam enam sesi.

Ketua Umum DPN KITA IHC, Dr. Fauzan Asmara, M.Psi., menekankan bahwa misi utama kolaborasi ini adalah pengabdian masyarakat. 

"Kami ingin hipnosis menjadi alat bantu praktis yang bisa menyentuh lapisan masyarakat luas dalam mengatasi problem psikologis harian," tegasnya.

Program ini memungkinkan ribuan alumni IHC untuk terjun langsung ke berbagai instansi seperti Puskesmas dan Rumah Sakit dengan standar kompetensi yang diawasi langsung oleh pakar dari UGM. 

Harapannya, akses layanan kesehatan mental tidak lagi menjadi kemewahan, tetapi dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat guna mendukung fungsi flourishing atau pengembangan diri warga negara.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Prof. Dr. Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med.Sc., Ph.D., menegaskan pentingnya mitigasi keilmuan dalam praktik ini.

“Kami memasukkan mitigasi keilmuan dengan sangat fokus agar clinical hypnosis ini tidak dianggap sebagai ilmu ‘luar angkasa’, tetapi sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ujarnya.

Sertifikasi ini juga terintegrasi dengan Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM. Dia menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari penelitian disertasi mahasiswa S3.

Hal ini bertujuan untuk menguji efikasi hipnoterapi terhadap berbagai kasus medis seperti nyeri kronis, diabetes, hingga kanker secara saintifik. (*)