Selasa, 20 Apr 2021,


terjadi-tibatiba-hujan-es-mengguyur-jogjaPohon tumbang di UGM akibat hujan es dan angin kencang, Rabu (3/3/2021). (istimewa)


Yvesta Putu Ayu Palupi
Terjadi Tiba-tiba, Hujan Es Mengguyur Jogja

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Hujan es dan angin kencang tiba-tiba mengguyur sejumlah wilayah di Kota Yogyakarta dan Sleman, Rabu (3/3/2021) pukul 13.00 WIB. Kejadian ini tidak hanya mengagetkan warga namun juga menimbulkan sejumlah kerusakan.

Berdasarkan laporan dari Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) DIY, hujan lebat disertai angin kencang mulai terjadi sekitar pukul 12.15 WIB di hampir diseluruh wilayah DIY. Sekitar pukul 13.15 WIB, tiba -tiba terjadi hujan es di sejumlah wilayah. Di antaranya di Jetis, Jalan C Simanjuntak, Girikerto Turi, Murangan Triharjo Sleman dan UGM.

Sejumlah pohon ambruk karena diterjang angin kencang. Di UGM tercatat tiga pohon tumbang seperti di FKH UGM dan Lapangan Pancasia. Selain itu pohon tumbang juga terjadi di Pakualaman, Kantongan, Merdikorejo, Tempel, Sleman, Kepatihan serta Randusongo, Donokerto, Turi.

"Tiba-tiba ada suara mak grubyuk. Ternyata pohon tumbang dekat kantor," ujar Rhiana, karyawan RSH dr Soeparwi yang menjadi saksi mata.

Akibat peristiwa tersebut, sejumlah kerusakan terjadi. Di antaranya di DPRD DIY, dua rumah di Randusongo Donokerto Turi, empat kandang kelompok Turi, Sleman, warung siomay Taman Kuliner Pakualaman dan Gedung Yayasan Bakti Sosial Tegaltirto, Berbah, Sleman

Kepala Stasiun Klimatologi Sleman, Reni Kraningtyas, mengungkapkan fenomena hujan es terjadi di Turi dan Kota Yogyakarta biasa terjadi pada musim hujan dan juga pada saat pancaroba. Hujan es tersebut sifatnya sangat lokal dengan radius 2 km yang disebabkan oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus lebih dari 10 km.

"Saat udara hangat, lembab dan labil terjadi di permukaan bumi, maka pengaruh pemanasan bumi yang intensif akibat radiasi matahari akan mengangkat massa udara tersebut ke atas/atmosfer dan mengalami pendinginan," jelasnya.

Dari kondensasi itu, lanjut Reni, terbentuk titik-titik air yang terlihat sebagai awan Cumulonimbus (Cb). Karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi, maka puncak awan sangat tinggi hingga sampai freezing level.

Freezing level ini terbentuk kristal es dengan ukuran yang cukup besar. Sebab saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air, maka terjadi hujan lebat disertai es.

"Es yang turun ini bergesekan dengan udara sehingga mencair dan ketika sampai permukaan tanah ukurannya lebih kecil," jelasnya. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini