Senin, 25 Jan 2021,


senyuman-tuhan-kepada-abu-nawasSudjito Atmoredjo (istimewa)


--

Senyuman Tuhan kepada Abu Nawas


Oleh: Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.
SHARE

DALAM dialog imajiner, Abu Nawas mengadukan berbagai permasalahan yang berkecamuk terkait pandemi Covid-19. “Tuhan, hambaMu sudah lelah. Tak berdaya menghadapi pandemi Covid-19. Kehidupan kami semakin menderita. Kami porak-poranda. Kami terpecah-belah. Kami saling menyalahkan. Dan … dalam hitunganku, hamba-hambaMu yang ingat padaMu semakin sedikit. Mengapa kondisi demikian Kau biarkan terus berlangsung? Tidakkah Kau kuasa menormalkannya kembali? Tuhan, Tuhan, Tuhan… Hamba harus berbuat apa lagi?”.

Abu Nawas menangis. Terbayangkan olehnya, Tuhan akan iba. Segera menolongnya. Tetapi, Tuhan ternyata hanya tersenyum. “Tuhan, mengapa aduan kami Kau jawab hanya dengan senyuman? Apa yang lucu dan aneh atau menggelikan? Sungguh, hambaMu ini tak paham arti senyumMu.


Abu Nawas (756 -814 M) adalah seorang pujangga Arab. Dia dilahirkan di kota Ahvaz, Persia. Sosok Abu Nuwas dikenal dan tersohor lewat cerita-cerita humor, bijak, dan sufi. Kepiawaiannya bermain kata-kata, selera humor tinggi, mengantarkannya menjadi legenda budaya. Di tangan Abu Nawas, persoalan rumit dan sensitif, dapat dikritik dengan bijak melalui logika nyleneh, sehingga tak ada alasan, dia dipersalahkan atau ditangkap karena kritiknya.

Bagi orang biasa, senyuman, umumnya dimaknai sebagai ekspresi suka-cita. Ketika dua sahabat bertemu, keduanya menebar senyuman, lahirlah suasana bahagia. Tetapi bagi orang-orang bijak tingkat tinggi, senyuman dapat mengandung 1001 makna. Selain bahagia, senyuman bisa bermakna pelecehan, santai, enteng, dan sebagainya. Pendek kata, senyuman bersifat kontekstual, bisa bermakna positif hingga negatif. Itulah, jangan anggap remeh soal senyuman. Tersenyum mesti hati-hati. Salah-salah tersenyum untuk suatu hal, bisa dilaporkan ke aparatur negara, karena dianggap pelecehan, menebar kebencian, dan sebagainya.


Abu Nawas, terkesan kecewa. Permohonannya, agar Tuhan tegas dalam penghentian pandemi Covid-19 tak kunjung dikabulkan. Justru hanya dibalas senyuman. Pada momentum dan kasus ini, tampak Abu Nawas lemah, bodoh, bahkan emosional. Bukankah para ahli spiritual telah mengajarkan bahwa senyuman itu tak ubahnya pedang samurai Jepang. Sangat tajam. Sekeras apapun persoalan, akan tuntas ditebas samurai. Perang dunia ke III dapat dicegah dengan senyuman. Benarkah demikian? Bagaimana penjelasannya?

Penjelasan diawali dari hal-hal mendasar dan esensiil. Adakah Tuhan pernah berbuat aniaya terhadap hambaNya? Oh… Tidak. Hamba-hamba itulah yang berbuat aniaya terhadap diri sendiri. Tak sedikit, mereka lantang bicara: “Saya berbuat demikian demi kebaikan negara, dan dunia”, tetapi perilakunya rakus mengejar jabatan, kekuasaan, harta-benda, dan popularitas.  Lupakah terhadap banyak orang menjadikan firman Allah SWT sebagai bahan olok-olok? Lupakah terhadap oligarki dunia sebagai transformasi neokolonialisme? Bukankah perilaku-perilaku demikian identik dengan berbuat kerusakan? Sesama hamba Tuhan sering terjadi tipu-menipu. Siapa lengah akan menjadi korban penipuannya.

Tetapi, tidak demikian dalam hubungan hamba dengan Tuhannya. Tuhan tahu segalanya. Bahkan tahu apa yang ada di dalam hati seorang hambaNya. Itulah maka, senyum Tuhan, boleh jadi karena geli melihat hamba-hambaNya coba-coba menipu atau membohongiNya. Dialog imajiner di atas, sekadar gambaran sisa-sisa warisan spiritual-religius, bahwa ternyata senyuman bisa digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu, ataupun penyelesaian masalah yang kompleks, luas, tak terbatas. 

Sebagaimana terlihat pada kasus-kasus selama pandemi Covid-19, tidak sedikit hamba Tuhan menangis, menceritakan tentang apa yang terjadi. Bahkan, sebagian yang menangis itu mengklaim sebagai hamba-hamba dekat dengan Tuhan. Mereka mengklaim sebagai hamba yang taat pada perintahNya dan menjauhi laranganNya. Namun, tidak sedikit juga, mereka merasa tak perlu bertuhan.

Setelah disimak secara cermat, direnungkan mendalam, ternyata hamba-hamba demikian, tidak pernah (jarang) menengok ke dalam, introspeksi, mawas diri. Pandangan senantiasa tertuju ke orang lain. Pihak lain dituduh salah, dan terus-menerus diungkit-ungkit kesalahannya. Sesama hamba Tuhan, saling bercerai-berai. Sesama agama, tidak pernah akur. Sama-sama abdillah, tetapi tidak sepenuh hati, bukan demi Illahi, tetapi demi harga diri.

Senyuman Tuhan, dapat bermakna sebagai tatapan mata, penuh pengertian, ekspresi pesan-pesan spiritual-religius, agar vibrasi-vibrasi indah dalam kehidupan dunia dapat dipahami dan direngkuh kembali dengan benar. Bila makna senyum Tuhan demikian dapat ditangkap kalbu, dicerna akal, dan ditransformasikan menjadi sikap bijak, elegan, dan santun, maka terjawablah pertanyaan-pertanyaan Abu Nawas. Tidak sepantasnya, mengaku hamba Tuhan hanya ketika tertimpa pendemi Covid-19, melainkan kapanpun, dalam urusan apapun, mesti terus berlangsung.

Kandungan pesan spiritual-religius lainnya, bahwa senyuman manis ataukah senyuman pahit, wajah cerah ataukah wajah cemberut, sikap lembut ataukah tegas, segalanya dapat dijadikan sebagai awal kesadaran pengelolaan kehidupan duniawi secara total, beradab, berakhlak. Pergunakan maksimal bibir untuk tersenyum manis alias ikhlas dan jujur. Pantangkan penggunaan bibir untuk tersenyum pahit alias munafik dan tendensius. Pandemi Covid-19 dipastikan akan mereda bila senyuman Tuhan dapat ditangkap sebagai peringatan dan arahan agar hamba-hambaNya kembali ikhlas dan jujur berperilaku demi keridhaan Illahi.

Manakala Abu Nawas mampu menebarkan inspirasi, maka penting sekali menatap dan memaknai merebaknya pandemi Covid-19 sebagai rangkaian ornamen, orchestra, mozaik, atau ontologi puisi jiwa-jiwa hamba Tuhan yang sakit.  Selanjutnya, setelah wajah-wajah cerah terhiasi senyuman manis, dan tatapan mata bebas dari penghakiman terhadap pihak lain, maka dipastikan energi kasih-sayang (compassion) bermunculan, saling mengisi dan melengkapi. Kehidupan duniawi menjadi indah, harmoni, warna-warni, sarat senyuman manis. Perang dunia dapat dicegah. Kebersatuan bangsa kembali dapat diwujudkan.

Gabungan antara senyuman manis dengan pikiran cerdas, kelincahan aktivitas, serta konsistensi terhadap visi dan misi kehidupan bersama, menjadi tonggak kokoh terwujudnya bangunan berbangsa dan bernegara. Sejuknya senyuman manis, adalah senyuman Tuhan dan sekaligus senyuman hambaNya. Di tengah bumi yang semakin kacau-balau karena pandemi Covid-19, masih layak disyukuri ada Abu Nawas yang mampu merepresentasikan hamba-hamba Tuhan dan terus berkomunikasi denganNya, demi ditemukannya solusi atas permasalahan pandemi Covid-19. Wallahu’alam. ***

Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.

Guru Besar Ilmu Hukum UGM.

 

 



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini