Sanggar Kinanti Sekar Rayakan Satu Dasawarsa, dari Mimpi Sederhana Menjadi Enam Lokasi
Sejak 2015, Sanggar Seni Kinanti Sekar tidak hanya mengajarkan gerak dan lagu, tetapi juga membuka pintu lebar-lebar bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- “Sudah saatnya kamu punya bendera sendiri, ingat apa cita-citamu?” Pertanyaan sederhana dari teman hidup itulah yang mengubah mimpi Kinanti Sekar Rahina menjadi kenyataan.
Sepuluh tahun silam, dia hanya bermimpi memiliki studio tari sendiri. Kini, Sanggar Seni Kinanti Sekar yang didirikannya telah berkembang menjadi rumah bagi 264 siswa di enam lokasi berbeda.
Di tengah riuhnya ragam kebudayaan di Yogyakarta, sebuah sanggar tari menciptakan revolusi kecil dalam dunia pendidikan seni. Sejak 2015, Sanggar Seni Kinanti Sekar tidak hanya mengajarkan gerak dan lagu, tetapi juga membuka pintu lebar-lebar bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Menari adalah hak setiap tubuh,” tegas Kinanti Sekar Rahina, seniman sekaligus pendiri sanggar saat memperingati satu dasawarsa sanggarnya, Minggu (27/7/2025).
Peringatan satu dasawarsa Sanggar Seni Kinanti Sekar di Kelas Pagi Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)
Filosofi sederhana ini menjadi pembeda utama sanggar yang bermula dan masih di Rumah Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) ini. Perjalanan satu dekade tidak selalu mulus.
Sekar mengakui bahwa semakin berkembang dan semakin tinggi, tentunya semakin kuat juga angin yang akan menerpa. Namun, dengan menguatkan akar -- konsistensi terhadap tujuan -- sanggar ini tumbuh dari tim tiga-empat orang menjadi keluarga besar dengan 32 kelas aktif.
“Sanggar ini bukan hanya ruang kerja, tapi juga keluarga,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca saat menyampaikan apresiasi kepada tim manajemen yang bekerja hingga 24 jam.
“Kami ingin memberikan ruang bagi anak-anak dalam mengolah diri, agar menjadi pribadi yang berani menuangkan gagasan, bertanggung jawab, dan cakap dalam berinteraksi sosial,” tandasnya.
Pembelajaran ganda
Yang membuat Sanggar Kinanti Sekar istimewa bukan hanya jumlah siswanya, tetapi pendekatan revolusioner dalam pembelajaran seni. Fetria Ana Rachmawati selaku Kepala Divisi Kurikulum menjelaskan sistem pembelajaran ganda yaitu seri dan paralel.
“Sistem seri mengharuskan siswa belajar bertahap sesuai tingkat kesulitan gerak dan makna tarian. Sementara sistem paralel memberikan kebebasan siswa memilih tarian yang ingin dipelajari,” jelasnya.
Tidak hanya itu, program “Kelas Alam” mengajak siswa mengeksplorasi tubuh mereka di alam terbuka, melatih wiraga, wirama dan wirasa sambil merasakan elemen alam secara langsung.
Pengakuan dunia internasional datang sejak 2017 ketika sanggar ini bergabung dengan program Creative Youth at the Indonesian Heritage Sites UNESCO Jakarta. Setahun kemudian, mereka memenangkan Youth Creative Competition UNESCO dengan pendampingan yang berlanjut hingga kini.
Penghargaan
Puncaknya, berbagai penghargaan berdatangan mulai dari apresiasi Kementerian Luar Negeri (2022), penghargaan dari Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X (2023), hingga apresiasi dari Istana Kepresidenan Yogyakarta (2024).
Tahun 2025 menjadi tahun bersejarah dengan kerja sama strategis bersama Institut Seni Indonesia Yogyakarta, SMKI Yogyakarta dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X. Program Cultural Experience yang ditawarkan kini menjadi magnet bagi wisatawan domestik dan mancanegara yang ingin merasakan kearifan budaya Jawa.
Program ekstra seperti “Pentas Nyawiji” berupa pentas bersama seluruh siswa setiap empat bulan, menjadi ajang apresiasi dan pelatihan kepercayaan diri. “Sowan Sanggar” memfasilitasi pertukaran ilmu dengan sanggar lain, sementara kolaborasi dengan komunitas Jawacana menghadirkan kelas baca tulis aksara Jawa.
Dengan 4-5 tingkatan di setiap klasifikasi kelas dan batasan maksimal 10 siswa per kelas untuk menjaga kualitas pembelajaran, Sanggar Kinanti Sekar terus berkomitmen pada visi awalnya mengembangkan potensi seni sebagai aktivitas kebebasan ekspresi. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
