Sambut Ramadan,Warga Jodog Gelar Nyadran
KORANBERNAS.ID, BANTUL--Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Warga Jodog Kalurahan Gilangharjo Pandak Bantul menggelar nyadran di makam Ki Seco Gendero,Jumat (21/2/2025) sore. Acara nyadran diisi dengan doa bagi para lelulur dilanjutkan pembagian ambeng atau berkatan.
Pada malam sebelumnya warga mengikuti malam pinuwunan berupa doa,pengajian dan makan nasi gurih lauk ingkung bersama-sama.
Slamet Budi Waluyo Ketua Pengurus Makam Ki Seco Gendero mengatakan mereka yang ikut nyadran adalah warga di RT 2 , 3 dan 4 Jodog ataupun orang luar yang memiliki ahli waris maupun keluarga yang dimakamkan di makam tersebut.
“Nyadran adalah tradisi turun temurun dan disini dilakukan setiap tanggal 22 ruwah bertujuan untuk membersihkan makam sekaligus mendoakan bagi arwah para leluhur yang telah mendahului kita sebelum memasuki bulan puasa,” kata Slamet
Dalam tradisi nyadran tersebut warga datang dengan membawa ambeng atau berkatan boleh berupa masakan matang ataupun yang bahan mentah seperti beras, mie instan, minyak, kecap ataupun bahan makanan yang lain dan dikemas dalam wadah seperti besek,tas ataupun kardus
Untuk setiap Kepala Keluarga atau KK membawa dua ambeng dan bagi yang tidak membawa mereka bisa menyerahkan uang atau istilahnya buwuh senilai Rp 50.000.
Setelah dilakukan tahlil dan doa selanjutnya ambeng tersebut dibagikan kepada semua yang hadir dengan setiap orang mendapat satu.
Selain itu ambeng tadi juga dibagikan warga yang hidupnya membutuhkan atau kurang mampu dengan diantar ke rumahnya.
“Maka sekaligus nyadran ini sebagai bentuk kerukunan dan juga membantu sesama warga di Pedukuhan Jodog,” katanya.
Bayu Yunarko Dukuh Jodog menambahkan jika tradisi nyadran tersebut selalu dilaksanakan setiap tahun dan tanggalnya tidak berubah yakni 22 ruwah.
“Ini untuk memudahkan bagi ahli waris di luar Jodog yang ingin mengikuti kegiatan nyadran karena biasanya mereka pulang dari luar kota,” katanya.
Menurut Bayu antusias masyarakat untuk mengikuti tradisi nyadran ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Terbukti sedekah yang mereka berikanpun bertambah. Misal untuk ingkung ayam jika nyadran tahun lalu ada 10 ingkung pada nyadran tahun ini terkumpul 17 ingkung dari 17 orang warga,” katanya.
Sementara itu tokoh masyarakat Gilangharjo , Muh Zainul Zain S.Ag yang juga ketua Bamuskal mengatakan bahwa tradisi nyadran yang sudah dilakukan setiap tahun tersebut rencananya ke depan akan dikemas lebih baik dan lebih rapi serta lebih besar .Sehingga menjadi sebuah agenda budaya yang menarik orang untuk datang dan menyaksikan.
“Saya ada usulan serta pemikiran untuk mengirab ingkung yang dibawa tadi menuju ke lokasi makam Ki Seco Gendero dari rumah Pak Dukuh. Lalu dilakukan tahlil dan doa. Sementara untuk malam pinuwunan yang biasanya warga bersama-sama menikmati nasi gurih ingkung nanti akan kita ganti dengan hidangan yang lain Jadi ingkungnya akan kita kirab di saat hari pelaksanaan nyadran,” kata Zainul.
Diharapkan dengan tradisi nyadran berkonsep budaya tersebut akan mendapat perhatian dari pemerintah sehingga nanti bisa didukung dengan dana Keistimewaan Yogyakarta. Selain tentunya ada swadaya masyarakat. (*)