PTMA Meluncurkan Program Pendidikan Dokter Spesialis
Prof Brian mengingatkan agar pengembangan PPDS tidak terjebak komersialisasi pendidikan.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) resmi meluncurkan 24 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Ini menandai sebuah langkah maju yang signifikan dalam dunia pendidikan kedokteran Indonesia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia, Prof Brian Yuliarto, menjelaskan inisiatif ini jauh melampaui sekadar ekspansi program studi.
"Program-program baru ini harus menjadi gerakan strategis untuk memperkuat kualitas layanan kesehatan nasional dan menjawab tantangan besar yang dihadapi bangsa," ujar Prof Brian saat grand launching yang digelar di Ballroom UMY Student Dormitory, Jumat (13/2/2026).
Dia mengapresiasi konsistensi Muhammadiyah yang sejak awal berdirinya telah menjadikan pendidikan dan pelayanan kesehatan sebagai bagian tak terpisahkan dari amal usaha dan pengabdian sosialnya.
Kerja kolektif
Menurutnya, pembukaan PPDS di PTMA merupakan bagian integral dari gerakan Islam berkemajuan, yang berupaya menjawab persoalan umat melalui penguatan ilmu pengetahuan dan kerja kolektif yang terintegrasi.
Dalam pidatonya, Prof Brian mengingatkan agar pengembangan PPDS tidak terjebak dalam orientasi komersialisasi pendidikan. Tujuan utama program ini adalah melahirkan dokter spesialis yang kompeten dan berintegritas, bukan mengejar keuntungan finansial semata.
Dengan memprioritaskan kualitas dan niat pengabdian, keberlanjutan institusi akan mengikuti secara alami, menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat dan berorientasi pada kemaslahatan.
Menteri Brian juga menyoroti fenomena tingginya angka masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri. Sekitar 10 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 160 triliun setiap tahunnya mengalir keluar negeri untuk layanan kesehatan.
Berkelas internasional
Kondisi ini, menurutnya, bukan hanya menjadi tantangan, tetapi juga peluang besar bagi institusi pendidikan kedokteran dan rumah sakit di dalam negeri untuk meningkatkan standar layanan hingga berkelas internasional.
Dia mendorong PTMA membangun rumah sakit Muhammadiyah yang unggul dan kompetitif secara global, sehingga mampu menjadi rujukan bagi pasien internasional.
Dengan demikian, penguatan PPDS tidak hanya akan berdampak pada kualitas pendidikan, tetapi juga pada kemandirian sistem kesehatan nasional, mengurangi ketergantungan pada layanan kesehatan asing.
Selain mutu layanan, dia juga menyatakan pentingnya menjaga akses pendidikan kedokteran agar tetap inklusif.
Amal jariyah
PTMA diminta untuk tetap memberi ruang bagi mahasiswa dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah, agar pendidikan dokter spesialis tidak hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. “Ini adalah komitmen terhadap keadilan sosial dan pemerataan kesempatan,” katanya.
Prof Brian juga mengingatkan profesi dokter dan pendidik merupakan ladang amal jariyah, karena ilmu dan pelayanan yang diberikan akan terus memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Dengan resmi meluncurkan 24 Program Studi PPDS PTMA, dia berharap langkah ini menjadi awal lahirnya dokter spesialis yang unggul secara akademik sekaligus memiliki komitmen sosial yang kuat.
“Semoga ini menjadi bagian dari ikhtiar besar menghadirkan Indonesia yang lebih sehat, lebih adil, dan lebih bermanfaat,” ujarnya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
