atas1

Pemudik Ditolak, Desa Sediakan Tempat Karantina

Jumat, 03 Apr 2020 | 08:35:46 WIB, Dilihat 380 Kali
Penulis : Sari Wijaya
Redaktur

SHARE


Pemudik Ditolak, Desa Sediakan Tempat Karantina Gedung Semaul untuk karantina pemudik. (sari wijaya/koranbernas.id)

Baca Juga : Untuk Mencegah Penularan Covid-19, Napi Menjalani Asimilasi di Rumah


KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Lima orang pemudik yang baru kembali dari Bandung ditolak untuk tinggal di rumah kontrakkanya di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro. Pemerintah Desa setempat kemudian menyediakan tempat karantina di Gedung Semaul yang tidak jauh dari Puskemas Bambanglipuro yang baru. Bangunan yang desainnya mirip dengan gedung putih tersebut lokasinya berada di tanah lapang, jauh dari pemukiman penduduk.

Gedung untuk karantina itu ditinjau oleh Kepala DPPKB Bantul Sri Nuryanti, Camat Bambanglipuro Lukas Sumanasa Mkes, Kapolsek AKP Wahyu Sudadi, perwakilan Koramil, Kepala Puskemas Dr Glory, Lurah Desa Sumbermulyo Ani Widayani MAP serta jajaran perangkat desa.

"Sesuai dengan Surat Edaran Menteri Desa nomor 8 tahun 2020, semua desa harus memiliki ruang isolasi desa. Maka kami tim satgas siaga Covid 19 Desa Sumbermulyo membuat gedung karantina desa. Jauh dari pemukiman penduduk dan dekat dengan Puskemas," kata Lurah Ani, Kamis (2/4/2020).

Gedung ini adalah gedung BUMDEs dan saat ini sedang tidak digunakan berkegiatan. Gedung bisa menampung 20 orang dengan fasilitas selain bangunan yang memadai juga ruang tamu, kamar mandi dan dapur.

"Kalau pemudik yang tidak diterima masyarakat biasanya karena rumah yang dituju ada Balita, Lansia atau ada yang sakit seperti stroke, diabetes, jantung ataupun penyakit yang lain," katanya.

Mereka yang dimasukkan gedung karantina akan menjalani isolasi selama 14 hari dan kebutuhan makan ditanggung oleh desa sebanyak 3 kali dengan sekali makan dianggarkan Rp 12.500. "Saat ini baru diisi 5 orang, namun data terus berkembang melihat situasi di lapangan," katanya.

Dana yang digunakan bagi penanganan Corona adalah dari pergeseran anggaran yang tidak mungkin dilaksanakan. Misal anggaran pelatihan dan penanganan kapasitas ke anggaran sub tanggap darurat bencana sebesar Rp 203 juta. Dana tidak hanya untuk keperluan karantina, namun juga penyiapan sembako bagi 800 KK miskin di desa itu.

"Nanti kita akan lihat mungkin tidak hanya sekali namun bisa dua kali hingga tiga kali pemberian. Atau kita lihat di lapangan perkembangan seperti apa," katanya.

Sementara dokter Glory mengatakan, semua pemudik diminta mengisi gugel form sehingga ada pantauan sampai 14 hari. "Ketika nanti bergejala, akan ditangani tim medis," katanya. (eru)



Kamis, 02 Apr 2020, 08:35:46 WIB Oleh : W Asmani 490 View
Untuk Mencegah Penularan Covid-19, Napi Menjalani Asimilasi di Rumah
Kamis, 02 Apr 2020, 08:35:46 WIB Oleh : Nanang WH 397 View
Ratusan ODP Diduga Belum Terdata Gugus Tugas Covid-19 Kebumen
Kamis, 02 Apr 2020, 08:35:46 WIB Oleh : Sari Wijaya 376 View
RSPAU Harjolukito Butuh Banyak APD

Tuliskan Komentar