Orang Tua Siswa Khawatir Keracunan MBG di Purworejo Terulang Lagi
Lebih baik bantuan MBG diganti dalam bentuk bahan mentah atau uang, biar diolah sendiri agar lebih sehat.
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Para orang tua korban keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) di Kabupaten Purworejo mengaku trauma apabila anaknya harus kembali mengkonsumsi MBG. Mereka tidak ingin kejadian serupa terulang lagi dan kembali menimpa anaknya.
Orang tua dari Emilia Stevania siswa kelas XI SMA Negeri 3 Purworejo, merupakan korban keracunan MBG dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Purwosari Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo.
Emilia mengalami keracunan, Jumat (3/10/2025), dilarikan ke RS Tjokronegoro Purworejo dan masih dirawat hingga Sabtu (4/10/2025).
"Saat ini anak saya masih mendapatkan perawatan kesehatan di RS Cokronegoro. Kondisi anak saya masih merasa pusing, mulut terasa pahit dan mual. Ke depan saya tidak mengizinkan anak saya menyantap MBG lagi," ungkapnya, Sabtu (4/10/2025).
Lebih sehat
Menurutnya larangan untuk anaknya mengkonsumsi MBG karena khawatir akan terjadi hal serupa (keracunan). Lebih baik bantuan MBG diganti dalam bentuk bahan mentah atau uang, biar diolah sendiri agar lebih sehat.
Warga Purworejo lainnya Sarwoto, mengungkapkan kekhawatirannya terkait dugaan makanan yang kurang layak konsumsi yang diduga menjadi penyebab keracunan massal di Kabupaten Purworejo, Jumat (3/10/2025).
Dia kini tak memperbolehkan anaknya makan dari Program MBG. Dia lebih memilih membekali anaknya dengan bekal dari rumah ketimbang mengambil resiko keracunan.
"Setelah kejadian ini kita nggak cocok dengan MBG, tak bawakan bekal saja dari rumah lebih aman," kata Sarwoto di SMP 8 Purworejo.
Tidak segar
Sarwoto menambahkan, anaknya juga tidak mau lagi memakan makanan yang disediakan. Dia menilai menu yang disediakan kurang disukai siswa.
"Ya, anak saya sudah tidak mau makan," ujar Sarwoto, menjelaskan bahwa anaknya enggan memakan makanan yang diduga sudah tidak segar lagi.
Dia sudah mengingatkan anaknya untuk tidak memakan makanan yang dirasa tidak enak.
Dia juga berharap agar pihak penyelenggara lebih memperhatikan kualitas makanan yang disajikan, terutama kebersihan dan kesegaran. Inilah pentingnya memastikan makanan yang disajikan aman dan layak konsumsi agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan anak-anak. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
