Kamis, 27 Jan 2022,


menilik-sejarah-236-tahun-pangeran-diponegoro-lewat-wayang-babad-Pagelaran Wayang Kulit Diponegoro dengan lakon “Tumusing Jangka" di nDalem Yudonegaran, Kamis (11/11/2021) malam. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Menilik Sejarah 236 Tahun Pangeran Diponegoro Lewat Wayang Babad

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Memperingati Hari Milad Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro yang jatuh pada Kamis (11/11/2021),  Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) bekerja sama dengan nDalem Yudonegaran menyelenggarakan Pagelaran Wayang Kulit Diponegoro dengan lakon “Tumusing Jangka”.

Lakon ini disarikan dari Babad Diponegoro, sebuah biografi fenomenal karya BPH Diponegoro selama menjalani pengasingan di Manado, Sulawesi Utara hingga Makassar, Sulawesi Selatan.

Kisah ini terinspirasi dari sebuah peristiwa yaitu ketika Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hageng/GKR Tegalrejo, permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I bersama cicit bayi RM Mustahar (nama kecil BPH Diponegoro) sowan kepada Sri Sultan HB I.

Sebagaimana kita ketahui bersama, RM Mustahar adalah putra dari RM Surojo (kelak diangkat menjadi Sri Sultan HB III) dan ibu bernama Raden Ayu (R.Ay) Mangkarawati.

Sri Sultan HB I berkata bahwa nantinya RM Mustahar akan mengobarkan perlawanan terhadap Belanda, hingga akan menimbulkan kerugian yang lebih dahsyat dibanding dengan dirinya.

Untuk itu, beliau meminta kepada GKR Hageng agar mendidik dan membesarkan RM Mustahar dengan baik. Selang beberapa waktu kemudian, ucapan Sri Sultan HB I terbukti.

Perang Jawa (1825-1830) yang dikobarkan BPH Diponegoro berdampak luar biasa. Perang ini telah merenggut nyawa 200.000 jiwa rakyat Jawa, 8.000 tentara Belanda dari Eropa, 7.000 serdadu Londo Ireng (pribumi yang berpihak kepada Belanda-red).

Hal ini ternyata berimbas pada kerugian keuangan Pemerintah Belanda yang mencapai kurang lebih 20 juta Gulden, akibatnya Pemerintah Kolonial Hindia Belanda bangkrut.

"Kebangkrutan ini juga berdampak pada kemerdekaan Belgia," ungkap Rahadi Saptata Abra, Ketua Umum Perkumpulan Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi), disela pentas wayang Babad Diponegoro.



"Belgia kan merupakan negara jajahan belanda. Namun berkat perang diponegoro selama lima tahun itu, belanda akhirnya bangkrut dan belgia akhirnya bisa merdeka," imbuhnya.

  • Dibuka Wapres, 5.000 Pemuda Muhammadiyah Penuhi UMY
  • Sleman Kirim Misi Kebudayaan ke Surabaya

  • Ki Catur Kuncoro dipilih memainkan wayang Diponegoro kali ini. Adik mediang Ki Seno Nugroho ini adalah seorang dalang yang berpengalaman dan telah malang melintang di jagad kesenian, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

    "Karena membaca [babad] lebih sulit dibanding melihat secara visual [wayang]. Di wayang kan ada interaksi dan edukasi, juga ada hiburannya gitu. Diharapankan, dengan diangkat kedalam wayang, sejarah-sejarah tentang kepahlawanan tentang perjuangan itu akan dipahami oleh generasi muda," tandasnya.(*)


  • Perencanaan Pembangunan Pusat dan Daerah Belum Sinkron
  • Masih Ada Kos-kosan Seharga Rp 50 Ribu di Rusia



  • SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini