Menikmati Tumirah Mahasiswa Sastra UGM
Oleh: Aprinus Salam
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Dalam cuaca yang mendukung, saya menikmati pertunjukan teater Tumirah Sang Mucikari karya Seno Gumira Ajidarma, yang dipentaskan oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra FIB UGM yang tergabung dalam Teater Kami Bercerita, pada Senin 1 Desember 2025. Petunjukan teater tersebut sebagai penutup dalam rangkaian Bulan Bahasa 2025 yang berlangsung hampir dua bulan.
Ini kisah tentang perjuangan seorang pelacur, Tumirah, yang kemudian menjadi mucikari dan mengelola tempat pelacuran di sebuah pinggir hutan. Tempat itu menjadi semacam “ruang batas” pergolakan antara pihak penguasa resmi berhadapan dengan semacam gerilyawan yang menentang penguasa resmi.
Sebagai “ruang batas” para pelacur menjadi samsak berbagai kepentingan politik, ekonomi, hukum serta berbagai niat baik dan buruk dari kedua belah pihak. Dihajar berbagai tipuan dan kekerasan, baik dari pihak penguasa resmi maupun yang sedang melakukan perlawanan terhadap penguasa. Komunitas pelacuran Tumirah babak belur.
Hancur lahirnya karena mendapatkan kekerasan fisik dan berbagai bentuk pemerkosaan. Porak-poranda batinnya karena menjadi ajang fitnah, hinaan, tapi sekaligus dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Tumirah yang cerdas dan berpengalaman mencoba bertahan dalam rasa kemanusiaannya yang indah.
Adegan dibuka dengan tarian dangdut kampungan dan cenderung tidak berpola. Hal ini memberi sinyal bahwa pertunjukan akan digarap secara “semi surealis” atau semi realis. Akan ada banyak percampuran penanda dalam pentas tersebut, baik dari segi setting, kostum dan aksi acting para pelakon. Ini sekaligus menyiratkan bahwa dunia pelacuran adalah “dunia liar” yang bisa jadi serba tak terduga.
Jumlah pemain tampaknya sebelas aktor. Akan tetapi, karena mungkin ada ganti-ganti kostum, terlihat pemainnya banyak. Saya menduga mungkin ada dobel peran juga. Tidak tahulah apa dugaan saya ini benar apa salah. Dengan biaya sekitar 20 juta rupiah, dan masa latihan 3 bulan, tampilan terkesan kolosal tersebut sungguh keajaiban.
Tumirah terlihat paling menghayati perannya. Ia menghadirkan dirinya sebagai mantan pelacur yang pantas diteladani. Cara berbicaranya terlihat tenang dan gerakan tubuh yang terkontrol. Tumirah adalah contah wanita yang telah banyak mengalami penderitaan lahir batin. Ia membiarkan tubuhnya direndahkan, sesuatu yang juga diwariskan kepada anak didiknya, tetapi sangat mempertahankan harga diri dan kebersihan cintanya kepada kekasihnya Sukab. Tubuhnya menjadi ajang tipuan, tapi cintanya tidak tertipu.
Sukab, walaupun tidak cukup banyak tampil, lebih sebagai lelaki lugu yang tidak tahu apa-apa. Ia tahu Tumirah seorang hina dan pelacur senior, tapi cinta Sukab kepada Tumirah adalah cinta seorang laki-laki sederhana. Ia tampil sebagai laki-laki renta, tidak berdaya menghadapi berbagai kuasa dan kekuatan. Acting Sukab, dengan tubuh tinggi kurus dan pelo menghadirkan sesuatu yang kontras dibanding Tumirah.
Tentu yang paling banyak menghibur dalam suasana kekerasan dan ketakutan adalah para pelacur, baik dalam gangguan orang-orang penguasa resmi maupun dalam gangguan para ninja (dan ini entah siapa) dan para gerilyawan. Mulai dari gerakan tubuh, cara menarikan tubuh dalam sedikit kegembiraan karena masih bisa bertahan hidup, dan ujaran-ujaran di panggung, semua sedap dilihat dan didengar. Beberapa adegan terlihat lucu dan sangat teatrikal.
Didukung dengan lighting yang lumayan menghidupkan suasana muram di satu sisi, dan cahaya-cahaya yang kompak dalam menyorot panggung yang jembar di sisi lain. Tidak kalah aduhainya adalah alunan musik yang menawan, yang melengkapi suasana kontradiktif. Yang lebih mempesona, sekawanan pemusik dan penyanyi semua adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UGM. Mereka mengawal dimensi irama permainan secara tangkas.
Awalnya, saya hadir menikmati Tumirah lebih sebagai rasa tidak enak jika tidak setor muka. Belakangan ini, setelah mengikuti beberapa pentas teater, teater tampil sebagai ruang bermain ala kadarnya. “Apalagi ini dimainkan mahasiswa yang baru semester 1 dan 3 di UGM. Memang, apa yang akan mereka janjikan!” begitu batinku. Ternyata, mereka tampil mengejutkan. (*)
-@Berita
