menengok-ponpes-rehabilitasi-narkoba-di-lereng-merapi-santri-tak-dipandang-sebelah-mataKhotmil Quran Pondok Pesantren (Ponpes) Bidayatussalikin, Turgo Sleman. (sholihul hadi/koranbernas.id)


Siaran Pers
Menengok Ponpes Rehabilitasi Narkoba di Lereng Merapi, Santri Tak Dipandang Sebelah Mata

SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN – Puluhan santri mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana hitam serta pecis hitam, duduk bersila melantunkan ayat-ayat Kitab Suci Al Quran. Aura wajahnya terlihat tenang seperti menemukan keasyikan tatkala secara Bersama-sama melafalkan surat demi surat juz 30, dimulai dari Ad Dhuha diakhiri An Nas.


Mereka adalah santri Pondok Pesantren (Ponpes) Bidayatussalikin. Ponpes yang berada di kawasan lereng  Gunung Merapi  tepatnya di Tritis Turgo Purwobinangun Pakem Sleman ini, memang fokus melakukan rehabilitasi pecandu penyalahgunaan narkoba.


Menengok ponpes dengan bangunan bertingkat sebagai tempat santri tinggal serta mengaji, suasana di sekitarnya relatif sepi dan nyaman, jauh dari hiruk pikuk kota. Udaranya sejuk.

Di tempat inilah, Pimpinan Pondok Pesantren Bidayatussalikin, Dr KH Abdullah Deny Setiawan Wayoi SE M Pd bersama guru-guru pondok, mencengkeram, dalam tanda kutip, mendidik serta mengurus mereka sehingga menjadi orang yang baik.


Mereka tidak lagi dipandang sebelah mata. Ini terbukti saat para santri dan santriwati tampil penuh percaya diri mengikuti Khotmil Quran, Penyerahan Syahadah Tahfidzul Quran dan Pengajian Akbar di pondok pesantren tersebut, Rabu (10/8/2022).

Acara itu dihadiri warga setempat maupun wali santri.  Hadir pula Wakil Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono selaku pengawas Pondok Pesantren Bidayatussalikin, jajaran BNNP DIY, BNNK Sleman, Kanwil Kemenag DIY, Kemenag Sleman, Dinas Sosial DIY, Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Dispora, Dinas P3AP2KB DIY, Dinas P3AP2KB Sleman, lurah,  camat dan Polsek setempat.

Bagi orang awam, kegiatan khotmil Quran mungkin dianggap biasa dan sering diselenggarakan ponpes, lembaga maupun instansi serta masjid. Yang luar biasa di sini, acara itu diikuti santri yang benar-benar sedang berjihad.

“Santri di pondok pesantren ini adalah orang yang mau berjihad dengan sungguh-sungguh melawan hawa nafsu, tidak mau dan tidak ingin kembali ke jalan yang tak benar,” ungkap kiai Abdullah Deny Setiawan kepada wartawan di sela-sela acara.

Pada situasi normal, seseorang mampu menghafal juzz 30 itu sudah luar biasa. Di ponpes ini, ada yang mampu hafal juz 1 sampai juz 5 dan 10 juz.

Itulah yang kemudian menggerakkan Kiai Abdullah Deny Setiawan mengangkatnya menjadi disertai program S-3, berjudul Pengembangan Model Manajemen Santri di Pesantren Rehabilitasi Narkoba dalam Meningkatkan Perilaku Spiritual.

Ternyata Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) juga memberikan dukungan. Disertasi itu ada hasilnya ketika diterapkan di ponpes tersebut. “Mantan pecandu narkoba tidak lagi dipandang sebelah mata,” ujarnya seraya menambahkan narkoba lewat mata atau narkolema juga tidak kalah berbahaya.

Santri Pondok Pesantren (Ponpes) Bidayatussalikin unjuk kebolehan bermain musik. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dengan sikap dan gerak cepat, keberhasilan itu membuat orang tua santri merasa bahagia melihat anaknya kembali menjadi orang yang baik. Semua itu tidak lepas dari bantuan dinas dan instansi, termasuk dari Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sleman.

“Jujur, tanpa dibantu pemerintah kita tidak bisa berjuang sendiri. Kita juga disponsori oleh Bapak Sadewa Lastiono, Wakil Bupati Banyumas. Ilmu dari UNY akan kita aplikasikan. Model manajemen santri sangat baik untuk diterapkan khususnya yang berkecimpung membantu narkoba dan narkolema,” tambahnya.

Pondok Pesantren Bidayatussalikin 2 memiliki sekitar 40 santri. Separo dari mereka mampu menghafal Quran beberapa juz meski saat disimak oleh ahlinya tingkat kesalahannya masih lima sampai sepuluh kali. “Saya selalu bilang ke santri, ayo berhijrah dibarengi kesungguhan,” kata dia.

Tak hanya mengaji, ponpes juga memberikan kesempatan santri mengembangkan bakat dan minatnya. Siang itu, kemampuan mereka ditunjukkan di atas panggung berupa pentas musik dan puisi berbahasa Inggris.

Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sleman, AKBP Siti Alfiah S Psi SH MH, sangat mendukung ponpes tersebut yang melaksanakan program rehablitasi dari BNN.

“Ini adalah kerja sama dengan BNN. Rawat inapnya di sini. Dari hasil asesmen terpadu kita kirim ke sini. Sedangkan rawat jalan di Klinik Pratama Sembada Bersinar,” ucapnya kepada wartawan.

Pondok Pesantren Bidayatussalikin merupakan Pondok Pesantren Khusus Rehabilitasi Penyalahguna Narkoba, kenakalan remaja dan narkolema yang terintegrasi dengan sekolah tingkat SMP dan SMA dengan menerapkan Model Manajemen Santri Terintegrasi.

Diakui, memang masih ada sejumlah kendala di antaranya terkait dengan kerja sama antara pemerintah dengan instansi swasta. “Rehabilitasi itu tidak ditanggung oleh pemerintah, tetapi oleh keluarga,” jelasnya. (*)


TAGS: santri  ponpes 

SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini