Menanti Pembeli di Rooftop Sunyi Pasar Sentul: “Hari Ini Zonk, Besok Bayar Sewa"

Jualan zonk, sama sekali tidak ada yang beli. Tapi tanggal 20, pedagang wajib setor uang sewa lunas Rp 1,3 juta

Menanti Pembeli di Rooftop Sunyi Pasar Sentul: “Hari Ini Zonk, Besok Bayar Sewa"
Salah satu lapak penjual di pujasera lantai 3 Pasar Sentul, Kota Yogyakarta. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA–Di sudut lantai tiga Pasar Sentul yang baru, Murtijo (50) lebih sering duduk termenung daripada melayani pembeli. Eskalator di hadapannya terus berdengung, bergerak naik tanpa henti, namun nyaris tak pernah membawa satu pun pengunjung ke atas sana.

Bangunan pasar bergaya Indische itu memang tampak megah dan mewah dari luar. Namun bagi Murtijo dan segelintir pedagang kuliner eks Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman yang tersisa di rooftop tersebut, kemegahan ini terasa dingin dan mencekik.

“Hari ini belum pecah telur. Kemarin juga zonk, sama sekali tidak ada yang beli. Tapi tanggal 20, kami wajib setor uang sewa lunas Rp 1,3 juta,” ujar warga Surokarsan itu dengan tatapan kosong, Sabtu (17/1/2026).

Ingatan Murtijo melayang ke masa lalu, saat ia masih berjualan di kawasan Sewandanan Pakualaman. Di sana, asap sate dan uap kuah soto mengepul setiap hari, menyambut ratusan pelanggan. 

“Dulu, jual 100 porsi sehari itu hal biasa. Di sini? Bisa laku 10 porsi saja rasanya seperti keajaiban,” tuturnya lirih.

Kini, rooftop Pasar Sentul tak ubahnya aula sunyi. Dari 40-an rekan seperjuangannya yang direlokasi, satu per satu memilih angkat kaki. Sebagian menyerah karena bangkrut, sebagian kiosnya disegel dinas karena tak sanggup membayar retribusi. 

Siang hari hanya tersisa lima pedagang, dan saat matahari terbenam, Murtijo seringkali hanya berdua dengan satu pedagang lain di tengah hamparan kios yang tertutup rolling door rapat-rapat.

Nihil Empati

Rasa perih di hati Murtijo bukan hanya soal sepinya pembeli, tapi juga perlakuan yang dirasa tak adil. Ia menuturkan ironi yang kerap terjadi. Saat para pejabat atau dinas menggelar rapat di area tersebut, mereka justru membawa nasi kotak dari katering luar.

“Kami ini disuruh meramaikan tempat ini, tapi saat mereka datang, mereka bawa makan sendiri dari bawah. Kami di sini cuma jadi komanan sampah, disuruh membereskan bekas makan mereka,” ungkapnya dengan nada getir. 

“Padahal kami berharap dilarisi, wong dagangan kami juga enak dan bersih,” lanjutnya.

Konsep bangunan yang tertutup tembok tinggi tanpa pemandangan kota (city view) membuat area kuliner ini terasa pengap, tak seperti rooftop pada umumnya. Pengunjung yang terlanjur naik seringkali langsung putar balik karena disambut suasana suram.

Di tengah ketidakpastian itu, tagihan sewa terus berjalan tanpa kompromi. Tidak ada sistem bayar harian seperti dulu, kini semua harus dibayar di muka per enam bulan. 

Murtijo mengaku sering harus mengambil jatah belanja dapur istrinya hanya untuk menutup biaya operasional kios yang merugi.

“Mau optimis bagaimana? Lihat bangku-bangku kosong ini saja saya bingung. Kami seperti hidup segan, mati tak mau,” pungkasnya, sembari kembali menatap eskalator kosong yang terus berputar. (*)