Minggu, 09 Mei 2021,


membaca-daya-hidup-seniman-menghadapi-pandemiBudayawan Butet Kartaredjasa usai membuka pameran Daya Hidup di Museum dan Tanah Liat. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Membaca Daya Hidup Seniman Menghadapi Pandemi

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Setahun pandemi Covid-19 tidak menyurutkan kreatifitas seniman-seniman di Yogyakarta, apalagi mandeg. Waktu harus di rumah saja dan keterbatasan gerak untuk bersosial menjadikan mereka kian produktif dan menajamkan eksplorasi berkesenian. Kegiatan pameran seni rupa pun terus menggeliat dengan konsep hybrid, yaitu daring dan luring.

Melengkapi geliat tersebut, puluhan seniman memamerkan karya-karya seni rupa di Museum dan Tanah Liat (MDTL) sejak Sabtu (17/4/2021).

Pameran yang dikuratori Hari Prajitno ini menampilkan 42 karya seni dari 26 seniman berbagai usia. Pada pameran bersama bertajuk Daya Hidup ini, seniman-seniman mapan maupun seniman-seniman muda sejatinya memiliki semangat daya hidup yang sama.

"Tema Daya Hidup diambil karena ini yang paling mewakili semangat pantang menyerah para seniman di tengah pergulatan hidup yang sulit di masa pandemi ini," terang May Mawar, mewakili Nom Management selaku penyelenggara pameran, Sabtu (17/4/2021).

Maka, pameran ini hadir untuk mengapresiasi energi murni yang sebenarnya ada dalam setiap mahkluk. Energi yang mendorong seniman untuk terus maju. Bukan sekedar bertahan hidup, melainkan juga berkembang melampui kesulitan-kesulitan yang menghadang.

"Energi yang tak lain kami sebut sebagai daya hidup," imbuhnya.

Ketika pasar seni lesu terdampak Covid-19, seniman terus berkarya dalam segala keterbatasan, terus menebarkan inspirasi, terlepas ada atau tidaknya penjualan. Sebuah komitmen hidup yang tidak mudah.

"Tidak perlu lagi meragukan daya hidup seniman. Karena seniman adalah kelompok yang sudah terbiasa dan dapat bertahan dalam hidup susah," papar Ugo Untoro, seniman sekaligus pemilik Museum dan Tanah Liat, Kersan, Nitiprayan, Bantul.

Sementara budayawan Butet Kartaredjasa menghubungkan daya hidup dan wabah pandemi adalah menurunnya daya beli karya seni.

"Kalau soal daya hidup, lalu dipertalikan dengan wabah pandemi dan daya hidup dengan relasi kemungkinan menjadi income. Pameran itu salah tujuannya adalah karya itu diapresiasi kawan-kawan lalu menjadi income setelah tiarap cukup lama," kata Butet.

Selain itu, Butet menyebut pilihan tempat penyelenggaraan pameran di Museum dan Tanah Liat ini jelas salah satu unsur yang melengkapi wilayah Bantul sebagai kabupaten seni atau art district seperti imajinasi seniman-seniman.

"Beberapa waktu lalu kami bertemu Bupati Bantul, dan membanggakan diri karena Bantul adalah art district dan titik pijak kebudayaan. Itulah yang akan dijadikan kebanggaan kabupaten Bantul. Diantaranya tentu saja tempat panitia menyelenggarakan pameran kali ini," paparnya.

"Kita tahu, di sini [Bantul] ada juga Putu ‘Liong’ Sutawijaya dengan Sangkring, SaRang Building milik Jumaldi Alfi, ada Tembi serta banyak tempat-tempat lain di Kabupaten Bantul. Sehingga terjadi sinergi antara kekuatan-kekuatan seni dalam komunitas-komunitas itulah yang akan memperkokoh eksistensi Bantul," lanjut Butet.

Seniman serba bisa ini melanjutkan, bupati juga berjanji akan segera membangun berkomunikasi dengan Heri Pemad (Direktur Artjog-red) agar ke depan Artjog itu pindah ke Kabupaten Bantul dan akan difasilitasi.

"Jadi kita akan berbangga jika Pemad mau, maka Artjog akan berada di Bantul. Maka Bantul sebagai art district itu bukan hanya imajinasi tetapi akan segera diwujudkan oleh Bupati. Moga-moga ini juga bukan hanya angin surga yang diberikan kepada eniman," tutupnya.

Para seniman yang berpartisipasi di pameran ini antara lain Agusti, Ali Efendi, Anjastama HP, AT Sitompul, Bestrizal Besta, Budi Ubrux, Diana Puspita Putri, Digie Sigit, Dipo Andy, Dodi Irwandi, Fatoni Makturodi, Gusmen Hariadi, Handiwirman Saputra, I Putu Adi Suanjaya (Kencut), Joko Sulistiono, Jumaldi Alfi, Justian Jafin Wibisono, Klowor Waldiyono, M Fadhlil Abdi, Nurohman, Oktaviyani, Ong Hari Wahyu, Ostheo Andre, Septian Adi Perdana, Sri Lestari Pujihastuti, dan Ugo Untoro.

Selama pameran berlangsung, penikmat seni bisa datang berkunjung ke MDTL dengan jam kunjung mulai pukul 10.00 –17.00 WIB, tentunya dengan mengikuti protokol kesehatan.

Bagi mereka yang tidak bisa hadir, bisa mengikuti update NOM di sosial media, beserta beberapa video artist talks yang akan diunggah di www.nommanagement.com. Di website tersebut, pengunjung bisa mengunduh katalog pameran, menikmati foto dan video pameran, dan juga berinteraksi dengan pihak NOM Management. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini