Memahami Kehidupan dan Kematian Melalui Karya Kolektif Seni Mantra Serapah

Memahami Kehidupan dan Kematian Melalui Karya Kolektif Seni Mantra Serapah
Antino Restu dan Yusda Romi Saputra dalam kolektif Mantra Serapah. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id) 

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Di sebuah ruang pamer bawah tanah Langgeng Art Space Yogyakarta, dinding-dinding putih dipenuhi karya-karya seni yang menggugah imajinasi dan emosi. Kanvas-kanvas berwarna, menampilkan lanskap yang menenangkan sekaligus memicu rasa penasaran tentang makna di balik setiap goresan.

Inilah pameran
Yang Hidup Berharap, Yang Mati Tak Terungkap dari kolektif seni Mantra Serapah, yang mengeksplorasi tema kehidupan dan kematian melalui sudut pandang dua seniman muda, Antino Restu Aji dan Yusda Romi Saputra.

Dua seniman muda ini telah menghabiskan berbulan-bulan mencurahkan keresahan dan harapan mereka ke dalam karya-karya yang kini dipamerkan hingga 6 Juli 2024. Mantra Serapah, sebuah nama yang diambil dari konotasi negatif untuk membalikkan persepsi bahwa tidak semua mantra itu buruk, menjadi wadah bagi Antino dan Yusda untuk mengekspresikan diri dan membangun ekosistem seni kolektif lokal di Yogyakarta.

Berawal dari kegelisahan mereka sebagai seniman kelahiran Yogyakarta yang merasa terasingkan di kota sendiri, kolektif ini bertujuan memperkuat ekosistem seni berbasis daerah.

Di Yogyakarta, banyak kolektif seni kedaerahan, namun jarang yang berbasis Yogyakarta. Kami yang kelahiran Yogyakarta malah terkotak-kotakkan sendiri. Kami ingin membangun ikatan emosional dan bertanggung jawab secara kolektif dalam berkarya, kata Antino saat ditemui di Ruang Pamer Langgeng Art Space pada Sabtu (8/6/2024).

Dengan latar belakang persahabatan yang kuat dan pengalaman yang terus berkembang dalam dunia seni visual, Antino dan Yusda berhasil menerjemahkan gagasan dan wacana mereka ke dalam bahasa kanvas yang memikat. Pameran ini mengeksplorasi tema kehidupan dan kematian dengan cara yang unik dan personal.

Karya-karya Antino Restu, yang dikenal dengan gaya surealisnya, menggali imajinasi dan ketenangan melalui pemandangan warna-warni dan suasana menenangkan.

Saya membayangkan ruang-ruang yang menenangkan sebelum tidur, dan itu tergoreskan dalam karya saya. Sebaliknya, Yusda lebih mengangkat tema ketakutan akan kematian dalam karyanya, jelas Antino.

Kami punya gagasan dan wacana yang berbeda, tapi kami berdiskusi dengan kurator Tommy Firdaus untuk menyatukan karya kami dalam satu ruang yang sama, tambah Antino.

Meskipun berbeda sudut pandang, mereka berhasil menjahit perbedaan karakter dan gagasan mereka menjadi satu kesatuan yang harmonis dalam pameran ini.

Kami punya gagasan dan wacana yang berbeda, tapi kami berdiskusi dengan kurator Tommy Firdaus untuk menyatukan karya kami dalam satu ruang yang sama, tambah Antino.

Selain berkarya di bidang seni rupa, Antino juga aktif di dunia musik dengan grupnya, Marsmolis.
Bermain musik dan itu mempengaruhi karya visual saya. Ada beat dan nuansa yang berbeda di setiap bagian karya saya, katanya.

Pengaruh musik dalam karyanya memberikan dimensi tambahan yang membuat karya-karyanya semakin unik dan menarik.

Meskipun berbeda sudut pandang, mereka berhasil menjahit perbedaan karakter dan gagasan mereka menjadi satu kesatuan yang harmonis dalam pameran ini.

Bagi Yusda Romi Saputra, inspirasi utama dalam karya-karyanya berasal dari buku-buku komik horor Jepang, seperti karya Seruwo Maru, serta seniman barat seperti Charles Burns. Melalui karyanya, ia mencoba mengeksplorasi visual dan fantasi mengenai kehidupan setelah mati sebagai bentuk kontemplasi pribadi tentang kematian.

Kematian, sebagai akhir dari kehidupan, sering kali menimbulkan berbagai pertanyaan dan kegelisahan. Pertanyaan tentang apa yang terjadi setelah kematian menjadi momok bagi banyak orang. Melalui karya-karya saya, saya mencoba menghadirkan visual dan fantasi mengenai kehidupan setelah mati, sebagai bentuk eksplorasi dan kontemplasi pribadi,
ungkap Yusda.

Meskipun tema kematian yang diangkat dalam karya-karyanya mungkin terkesan berat, Yusda menegaskan bahwa karyanya tidak secara langsung merujuk pada fenomena bunuh diri di kalangan remaja yang menjadi isu masif di Yogyakarta belakangan ini. Ia lebih fokus pada media kontemplasi untuk diri sendiri, bukan pada kematian orang lain.

Perjalanan seni Yusda dan Antino dimulai sejak tahun 2011, ketika mereka masuk Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Setelah itu, mereka melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) bersama teman-teman satu angkatan. Selama ini, mereka terus berkomunikasi dan bekerja bersama, yang akhirnya membawa mereka pada pembentukan kolektif Mantra Serapah.

Mantra Serapah menjadi wadah bagi kami untuk saling mengeksplorasi praktik seni yang telah kami pelajari sejak SMA hingga jenjang kuliah. Kolektif ini juga menjadi tempat bagi kami untuk mengekspresikan keresahan kolektif yang kami rasakan, jelas Yusda.

Senada dengan Antino, Yusda menyampaikan keresahan utama yang mereka rasakan adalah kurangnya wadah untuk seni di Yogyakarta, meskipun banyak seniman dari berbagai daerah tinggal di sini.

Yogyakarta mungkin sudah terlalu nyaman bagi penduduk lokalnya sendiri, sehingga kurang mau untuk membangun kolektif lokal seni seperti teman dari kota lain. Saya merasa hal ini menjadi tantangan yang harus diatasi, kata Yusda.

Mantra Serapah berusaha mengatasi keterbatasan ini dengan merekrut berbagai seniman lintas disiplin, dari seni rupa, musik, hingga penulis buku, untuk tampil bersama dalam pameran yang berlangsung selama satu bulan di Langgeng Art Space.

Dengan Mantra Serapah, Antino Restu dan Yusda Romi Saputra berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi dunia seni di Yogyakarta. Mereka ingin menunjukkan bahwa seni adalah medium yang dapat menyatukan perbedaan dan mengungkapkan keresahan serta harapan dalam sebuah harmoni visual.
(*)