Kincir Air Tradisional di Minangkabau Terancam Punah
Yayasan Umar Kayam bekerja sama dengan The British Museum melakukan penelitian.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Kincir air tradisional yang selama berabad-abad digunakan masyarakat Minangkabau kini menghadapi ancaman kepunahan. Perkembangan teknologi modern, deforestasi serta semakin sulitnya memperoleh bahan baku seperti kayu dan bambu membuat keberadaan teknologi tradisional ini kian langka.
Melihat kondisi tersebut, Yayasan Umar Kayam bekerja sama dengan The British Museum melakukan penelitian sekaligus pendokumentasian kincir air tradisional di Sumatera Barat melalui program Endangered Material Knowledge Program.
Peneliti Yayasan Umar Kayam, Marjito Iskandar Tri Gunawan, Sabtu (25/4/2026), menjelaskan pendokumentasian ini dilakukan untuk merespons semakin berkurangnya praktik penggunaan kincir air tradisional yang dulu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Minangkabau.
Menurutnya, teknologi kincir air tersebut bukan hanya alat produksi, tetapi juga warisan pengetahuan lokal yang telah dipraktikkan secara turun-temurun. Bahkan, dalam catatan perjalanan Thomas Stamford Raffles saat melakukan ekspedisi ke Sumatera pada 1818, teknologi kincir air Minangkabau disebut sebagai teknologi asli masyarakat setempat.
Berbagai kebutuhan
“Raffles meyakini teknologi kincir air tradisional di Minangkabau merupakan teknologi lokal yang belum pernah dia lihat di wilayah lain di Nusantara atau Hindia Timur, termasuk Jawa,” ujar Marjito.
Di berbagai wilayah Sumatera Barat, kincir air tradisional selama ini digunakan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari mengairi sawah, menumbuk beras atau tepung, hingga kini mulai dikembangkan sebagai pembangkit listrik skala kecil melalui sistem mikrohidro.
Keberadaan kincir air untuk penumbuk beras atau tepung kini semakin jarang ditemukan. Selain tergeser teknologi modern, kerusakan hutan juga mengancam keberlanjutan sumber air yang menjadi penggerak utama kincir tersebut.
Sebagai bagian dari penelitian, tim Yayasan Umar Kayam melakukan restorasi dengan membangun kembali beberapa jenis kincir air tradisional. Restorasi dilakukan untuk kincir air pengairan sawah berbahan bambu, kincir air penumbuk tepung berbahan kayu, serta kincir air untuk pembangkit listrik mikrohidro.
Sungai Sinamar
Salah satu kincir air bambu yang berhasil direstorasi memiliki diameter sekitar delapan meter dan dipasang di Sungai Sinamar, Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Limapuluh Kota. Kincir air tersebut mampu mengairi sawah seluas hingga empat hektar.
Peneliti Yayasan Umar Kayam lainnya, Budhi Hermanto, mengatakan proses pembuatan hingga pengoperasian kincir air didokumentasikan secara menyeluruh.
“Kami mendokumentasikan proses pembuatan, perakitan, hingga pengoperasiannya menggunakan video, fotografi, animasi, audio, serta catatan tertulis,” ujarnya.
Dokumentasi tersebut akan disusun menjadi arsip digital agar dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang mengenai teknologi kincir air tradisional di Sumatera Barat.
Penumbuk beras
Saat ini, proses restorasi dan pendokumentasian masih terus berlangsung, termasuk untuk kincir air mikrohidro di Palembayan, Kabupaten Agam serta kincir air penumbuk beras atau tepung di Pariaman.
Tim peneliti menilai upaya ini penting bukan hanya untuk menjaga warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana edukasi mengenai perubahan iklim. Perubahan lingkungan, seperti deforestasi, dapat mengurangi debit air sungai yang menjadi sumber energi kincir air, sementara curah hujan ekstrem berpotensi memicu banjir bandang yang merusak struktur kincir.
Karena itu, pelestarian kincir air tradisional tidak hanya menyelamatkan teknologi warisan leluhur, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem hutan dan sungai agar tetap lestari. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
