Generasi Muda, Kritis Politik atau Apatis Politik?

Generasi Muda, Kritis Politik atau Apatis Politik?

BANYAK masyarakat mengira bahwa setiap orang yang terjun di dunia politik, adalah sesuatu yang sia-sia bahkan dianggap politik itu permainan para elite politik untuk mendapatkan sebuah kekuasaan dan juga uang. Bahkan tidak jarang masyarakat berpikiran bahwa politik itu selalu identik dengan korupsi, padahal nyatanya politik itu adalah sebagai rangkaian kebijakan publik yang berpengaruh disetiap lini kehidupan diri kita sendiri. Politik itu bukan hanya sekadar memilih setiap 5 tahun sekali dalam pemilu, bukan hanya sekadar memilih pemimpin daerah, tetapi semua hal yang ada pada kehidupan kita dari sebelum lahir hingga sampai masuk ke liang lahat pun politik sudah mengurus kita. Semua hal itu akan terlihat jika kita memandang politik sebagai kebijakan publik bukan sebagai nafsu kalangan elite yang haus akan kekuasaan.

Generasi muda seharusnya melek terhadap dunia politik sekarang, memang jika dilihat dari sudut pandang publik, generasi muda saat ini memang terlihat apatis terhadap politik, namun mereka masih kritis dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang ada di dunia politik. Ketika kita generasi muda berani bersuara, mengisi setiap petisi yang berkaitan dengan permasalahan isu politik, mengeluarkan uang 10 ribu 20 ribu sebenarnya itu adalah hal sepele yang sudah kita lakukan dalam melakukan tugas politik. Memang sulit membuat generasi muda sekarang peduli terhadap politik yang semakin berjalannya waktu bukan menyejahterakan masyarakat di dalam negaranya, melainkan makin menyulitkan masyarakatnya sendiri.

Mungkin generasi muda sekarang sudah lelah menghadapi permainan politik yang semakin hari semakin rumit, tapi dengan kita lelah menghadapi hal tersebut, berarti kita sebagai generasi muda sudah kalah dan melepaskan tanggung jawab kita yang seharusnya bisa kita lakukan, tapi diambil oleh oknum politisi yang selalu mengatasnamakan rakyat dan negara. Seharusnya kita punya kesadaran untuk membersihkan politik yang punya label “kotor” menjadi bersih kembali dan seharusnya kita melihat kejahatan yang dilakukan politisi itu sebagai sebuah kejahatan, bukan malah memaklumkan hal yang dilakukan lalu menormalitaskan kejahatan tanpa ada pergerakan untuk mengubah itu semua.

Penting bagi generasi muda menyadarkan diri, bahwa suara kita itu penting bagi kehidupan, suara yang kita punya harusnya menjadi sesuatu yang bisa kita lakukan untuk memaksa para penguasa melakukan apa yang kita inginkan. Pada zaman sekarang negara punya kuasa, senjata, uang dan kita sebagai generasi muda punya suara yang seharusnya bisa merealisasikan sistem demokrasi negara kita ini berjalan. Generasi muda harus sadar bahwa hak-hak kita bersuara itu sangatlah penting, politik adalah ketika kita bisa menggunakan tangan, suara dan hak kita untuk mengubah negeri kita menjadi lebih baik lagi. Berkaca dengan kalimat “politik itu kotor” sebenarnya politik itu tidak kotor tapi “orangnya” yang kotor.

Generasi muda juga seharusnya paham bahwa kritik untuk kebijakan politik itu perlu, jika bukan dari kita lalu siapa lagi yang akan melakukannya? Dengan kita memahami kebijakan politik, kita bisa menilai keobjektifan kebijakan tersebut. Ditambah zaman sekarang perempuan pun minim dalam bergabung di dunia politik karena saat perempuan memiliki posisi strategis di dunia politik, banyak cibiran yang selalu mangatakan jika perempuan memiliki posisi dalam dunia politik selain ranahnya yang berada di dapur, dianggap terlalu ambisius dan melawan kodratnya sebagai ibu yang harusnya berada di rumah atau perempuan itu seharusnya diam di rumah saja. Sungguh ironis mendengarnya dan seharusnya generasi muda termasuk perempuan memiliki kemauan dan tekat untuk mampu mengenal politik lebih dalam lagi, bukan malah apatis dengan politik yang ada sekarang.

Najwa Shihab pernah berkata, jangan lihat politik sebagai rame-ramenya elite, politik adalah ketika kita bisa menggunakan tangan, suara, dan daya kita untuk mengubah negeri tercinta. Kalangan anak muda memberikan dampak besar bagi politik yang ada di negeri kita tercinta Indonesia ini. Soekarno pernah mengatakan, “Beri aku sepuluh pemuda maka akan aku goncangkan dunia”. Itu menunjukkan bahwasannya generasi muda adalah tongkat untuk pembangunan negeri ini dan menjadi kunci perubahan pada masa mendatang. Jika sampai sekarang pun generasi muda minim akan politik lalu apa yang akan terjadi di dunia politik ke depannya? Yang berkuasa semakin berkuasa dengan kekuasaan yang menyeleweng dari tujuan awal, yang ingin bersuara semakin terbungkam karena haknya diambil.

Sudah seharusnya kita sebagai generasi muda berpikir kembali bahwa partisipasi dalam dunia politik itu penting dalam mewujudkan politik demokrasi yang sehat, sudah seharusnya generasi muda membuka lebar-lebar wawasan politi agar tidak menelan mentah-mentah berita politik yang ada sekarang karena setiap suara yang ada di genggaman generasi muda penentu nasib bangsa ke depannya. Jika disalahgunakan untuk mendukung orang yang salah maka akan semakin hancurlah dunia politik negara ini. Generasi muda harus menyadari bahwa dunia politik yang terlalu berlebihan itu akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik, karena politik bukan hanya sebuah kekuasaan tetapi mengemban seluruh amanat yang diberikan rakyat di pundak untuk diwujudkan secara nyata.

Tapi kadang kala melihat generasi muda sekarang terlalu apatis terhadap politik itu sendiri. Mereka lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri dan kesenangan pribadi dibandingkan ikut terjun dalam dunia politik. Saya mengambil sedikit kutipan dalam sebuah bacaan yang mengatakan bahwa sesungguhnya di tangan pemuda itu urusan umat dan di kakinya adalah kehidupan umat. Dari kalimat itulah, seharusnya kita menyadari bahwa peranan generasi muda adalah kunci kejayaan negeri ini. Jika kunci itu kita implementasikan dengan nyata, maka tidak akan ada konflik politik pada zaman ini maupun  zaman dulu, sehingga generasi muda mampu mewujudkan politik dengan tujuan kepentingan bersama, bukan lagi kepentingan pribadi apalagi hanya untuk menebalkan dompet dan kekuasaan sendiri, tanpa peduli apakah dia sudah menjalankan kewajibannya atau belum.

Memilih pemimpin dalam pemilu atau pun dalam pemilihan pemimpin daerah memang bukanlah hal yang dianggap mudah tetapi dengan tidak menggunakan hak suara dalam pemilihan, juga bukan keputusan yang bijak untuk dilakukan. Generasi muda yang peduli akan dunia politik pasti akan menggunakan hak suara sebaik-baiknya. Partisipasi dan kesadaran politik itu harus dilandasi dengan kemauan untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda harus aktif dari sekarang dalam berpolitik dengan cara menggunakan hak suara dalam pemilihan umum, menyampaikan aspirasi melalui kegiatan yang positif tanpa adanya kekerasan di dalamnya.

Berdasarkan data Trans Media Sosial, karakteristik generasi muda yang paling sering digunakan adalah Sosial Media seperti Facebook, Youtube, Instagram, WhatsApp, dan media sosial lainnya. Data menyebutkan, sekitar 80% generasi muda mengakses sosial media setiap hari, mereka biasanya mencari informasi mengenai liburan, hiburan, kuliner, agama, politik, olahraga, dan sebagainya. Maka dari itu, demi meningkatkan minat para generasi muda dengan dunia politik, media maupun orang tua harus mampu memberikan pengetahuan pendidikan terkait tentang politik agar generasi muda melek dengan politik. Dari sosial media pun generasi muda mampu mendapatkan pengetahuan tentang apa saja dalam dunia politik itu atau isu-isu politik yang update pada zaman sekarang.

Generasi muda memiliki peluang besar dalam mengubah pola pikir dan memperkaya polarisasi dalam dunia politik yang berkembang pada zaman sekarang. Dengan segala intelektualitas yang dimiliki, generasi muda mampu menjadi penengah, golongan netral maupun menjadi filter dalam menghubungkan segala kepentingan dan isu-isu yang berkembang di dalam masyarakat, untuk diolah menjadi isu yang objektif dan dapat diterima olah siapapun tanpa adanya hate speech (ujaran kebencian) di dalamnya. Pendidikan sekolah juga merupakan hal penting dalam upaya pengenalan politik pada generasi muda. Pendidikan politik menjadi kunci utama generasi muda mendapatkan wawasan tentang politik. Generasi muda pada saat ini akan terus menyesuaikan diri mereka dengan perkembangan era politik yang terus berkembang pesat.

Sudah sepantasnya anak muda membuka wawasan politik dengan lebar agar apapun opini publik yang diberikan, agar tidak menelannya dengan mentah-mentah. Tentunya partisipasi dan kesadaran bagi kalangan anak muda harus dilandasi dengan tujuan bersama. Oleh karena itu, generasi muda harus mampu berdiri dan mengembalikan arena politik pada posisi yang ideal, yaitu jalan bersama menuju lebih baik. Kita sebagai generasi muda harus pintar dalam memilih pemimpin negeri kita sendiri, jangan memilih pemimpin yang hanya mampu bermodalkan uang untuk mendapatkan kursi kekuasaan tanpa menjalankan kewajibannya. Politik sejatinya bukan hanya soal kontestasi dan kekuasaan semata tapi politik terwujud dalam kehidupan sehari-hari kita.

Tentu tidak semua generasi muda harus aktif berpolitik, namun demokrasi di Indonesia yang berkualitas akan terwujud ketika generasi muda mampu menggunakan haknya dalam berpolitik, yaitu memilih dan menyampaikan aspirasinya di hadapan publik. Generasi muda sebagai agen perubahan di bidang politik diharapkan tidak lagi apatis terhadap dunia politik, melainkan harus kritis dalam menghadapi politik tersebut. Kalangan anak muda memberikan keuntungan bagi partai politik apabila masukan pendidikan politik diberikan secara intensif, sebab kesadaran politik yang tinggi akan mewujudkan demokrasi politik yang baik.

Generasi muda yang apatis disebabkan karena mereka acuh tak acuh dan tidak tertarik dengan dunia politik. Ada juga yang tidak yakin bahwa usaha yang mereka lakukan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah akan berhasil dan ada juga yang sengaja tidak memanfaatkan hak pilihnya dalam pemilihan, karena berada di lingkungan yang tidak ikut serta dalam pemilihan pun dianggap hal yang biasa saja. Ada juga kemungkinan, bahwa ketika tidak menggunakan hak suaranya dalam pemilihan tidak akan menyebabkan keadaan yang buruk dan bahwa siapa pun yang dipilih tidak akan mengubah keadaan. Jadi apatis yang dilakukan generasi muda merujuk pada rasa kecewa pada dunia politik.

Anak muda yang akan menjadi generasi penerus bangsa akan senang dalam menyambut kepemimpinan baru pada saat ini. Oleh sebab itu akan terjadi perubahan dalam politik yang akan berubah ke arah yang lebih baik dan itu yang akan menjadi semangat generasi muda dalam berjuang untuk bangsa Indonesia ini dan melahirkan generasi yang berguna bagi bangsa dan negara dengan kepemimpinan yang baik dan jujur dalam berpolitik. *

Saskiya Prambandari Sahanaya

Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Fisipol UMY.