BNN Studi Banding ke Desa Ponggok Klaten
Dulu di Ponggok ada 383 rumah tidak layak huni, sekarang menjadi rumah layak homestay. Dulu mereka miskin tapi sekarang juragan homestay.
KORANBERNAS.ID, KLATEN -- Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia mengadakan kegiatan studi banding di Desa Ponggok Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten, Kamis (7/8/2025). Studi banding lewat pembangunan dan pemberdayaan potensi yang ada di desa itu nantinya bisa diaplikasikan di wilayah masing-masing.
Studi banding yang dipimpin langsung Kepala BNN Republik Indonesia Komjen Pol Marthinus Hukom juga disertai Deputi Pencegahan BNN dan Deputi Pemberdayaan Masyarakat. Selain itu, juga membawa tujuh Kepala BNN Provinsi (BNNP) dan tujuh kepala desa.
Tujuh Kepala BNNP yang dibawa serta yakni Kepala BNNP Jawa Tengah, Kepala BNNP Banten, Kepala BNNP Jawa Timur, Kepala BNNP DKI Jakarta, Kepala BNNP Jawa Barat dan Kepala BNNP Kalimantan Barat.
Dalam sambutannya, Marthinus Hukom menyampaikan tujuannya mengadakan studi banding di Desa Ponggok karena Desa Ponggok menjadi inspirasi baginya dan jajaran BNN Republik Indonesia. "Studi banding ini untuk belajar. Pendapatan Asli Desa Ponggok sudah luar biasa melalui pemanfaatan potensi yang ada," katanya.
Tugas BNN
Jenderal bintang tiga polri itu menambahkan, tentu ada yang bertanya-tanya mengapa BNN ke Desa Ponggok untuk studi banding terkait pembangunan desa?
“BNN bukan Menteri Desa, bukan Menteri Pembangunan Keluarga, bukan Menteri Ekonomi. BNN bukan itu semuanya. Tapi tugas BNN ada di semua bidang. Mulai dari kemiskinan, keluarga, pembangunan manusia, pembangunan keluarga, pembangunan masyarakat, pembangunan hukum, pembangunan koneksitas yang semua itu berkaitan dengan tugas BNN,” jelasnya.
Berbicara narkotika dan narkoba Adalah bicara suplai. Pasti berbicara tentang ekonomi legal. “Mereka (pengedar) mencoba memanfaatkan memanfaatkan orang-orang miskin menjadi kaki-kaki mereka untuk memperluas pasar,” tandasnya.
Satu kesimpulan, lanjut dia, suplai perdagangan narkoba bergerak cepat berbanding lurus dengan pendapatan yang rendah. “Kalau begitu, pendapatan asli Desa Ponggok yang sudah besar tidak akan masuk,” tambahnya.
Propraganda semu
Kedua, ujar Marthinus Hukom, ketika kita bicara tentang pertumbuhan ekonomi masyarakat maka akan berbanding lurus dengan demand (permintaan), karena pasar akan mencari orang-orang yang punya kemampuan membeli.
Bahkan desa yang tidak punya pendapatan pun bisa tersentuh atau mencengkeram di situ. Ini tentu ada propaganda semu yang kemudian memberikan semacam pengetahuan kepada masyarakat ketika menggunakan narkoba maka anda akan punya produktivitas yang tinggi. Selain itu, mereka juga menggunakan informasi atau propaganda lain bahwa menggunakan narkotika terus-menerus akan mempengaruhi syaraf.
Contoh, kata dia, di Sumatera Utara ada pekerja kebun yang hanya memperoleh gaji sebulan memilih beli narkoba daripada untuk membeli kebutuhan sehari-hari maupun kegiatan sosial.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyampaikan Kabupaten Klaten terletak di antara dua kota besar yakni Yogyakarta dan Surakarta. Di Klaten juga terdapat banyak potensi, UMKM, industri, pariwisata, pertanian.
Lima besar
Sayangnya kata dia, di Klaten juga terdapat potensi masalah besar. Informasi terakhir, Klaten menduduki posisi lima besar peredaran narkotika di Jawa Tengah.
Dia berharap, dengan kunjungan Kepala BNN beserta pejabat BNN lainnya di Desa Ponggok bisa menurunkan posisi Kabupaten Klaten dalam kasus peredaran narkotika di Jawa Tengah.
"Dalam setiap perlombaan, kita ingin berada di posisi teratas. Tapi khusus masalah ini, kami berusaha untuk turun dari lima besar menjadi sepuluh besar dan selanjutnya tidak ada lagi. Karena narkoba sangat berbahaya," kata mantan Ketua DPRD Klaten itu.
Menurut dia, Desa Ponggok adalah desa kebanggaan Kabupaten Klaten, BUMDes Ponggok selalu jadi juara tingkat nasional dan selalu menjadi inspirasi. Berbagai macam program sudah diluncurkan seperti satu KK 1 sarjana dan BPJS. Hari ini menjadi percontohan sebagai desa bersih narkoba.
Dulu kumuh
Kepala Desa Ponggok, Junaedi Mulyono, mengatakan desa yang dia pimpin sebenarnya kecil bila dibandingkan desa lain. Jumlah penduduk 2.700 jiwa dengan 1.005 Kepala Keluarga (KK). Potensi Desa Ponggok adalah sumber daya air. Visi misi Desa Ponggok menjadi desa wisata yang mandiri, maju dan berbudaya sudah tercapai.
"Dulu Ponggok adalah desa kumuh, tak terawat, daerah miskin. Sekarang kita ubah menjadi kawasan wisata. Kawasan saluran yang dulu menjadi tempat pembuangan sampah sekarang jadi tempat budi daya ikan. Sekarang ini produksi ikan di Ponggok 20 ton per bulan. Kuncinya mengubah masalah menjadi potensi. Dulu Ponggok ada 383 rumah tidak layak huni, sekarang menjadi rumah layak homestay. Dulu mereka miskin tapi sekarang menjadi juragan homestay," ujar Joned, panggilan akrab Junaedi Mulyono.
Pada kegiatan studi banding tersebut diserahkan penghargaan kepada sejumlah pihak atas dedikasinya dalam pencegahan dan pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran narkotika. (*)
Masal Gurusinga
