Banyak Orang Takut Mati Terkena Corona, Seniman Ini Justru Pesan Makam

Banyak Orang Takut Mati Terkena Corona, Seniman Ini Justru Pesan Makam

KORANBERNAS.ID, BANTULJodho, pati lan rejeki wis pinesthi dening Gusti. Salah satu falsafah Jawa yang sangat populer ini rasanya sangat pas dan mengena untuk kondisi sekarang. Saat pandemi virus Corona atau Covid-19 banyak orang dibayang-bayangi ketakutan akan mati, justru seorang seniman Yogyakarta menyatakan dirinya siap menjemput maut yang datangnya pasti dan tak bisa ditunda lagi.

Siapa tak kenal Meritz Hendra? Aktor kawakan papan atas yang kebesaran namanya sepadan almarhum WS Rendra ini, Rabu (22/4/2020), tiba-tiba muncul di kompleks makam Seniman Giri Sapto Imogiri Bantul.

Diantar rekan-rekannya serta sejumlah seniman di antaranya Muhammad Boy Rifai dan Pungki Purbowo, siang itu Meritz sengaja datang untuk pesan makam, sebagai tempat peristirahatan terakhir kelak ketika tiba waktunya sowan Gusti Allah SWT.

Kebetulan, seniman kelahiran Surakarta 22 April 1949 itu tepat berusia 71 tahun. Sebagai aktor kawakan yang hampir separo hidupnya dihabiskan untuk teater sejak dari Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) Yogyakarta pada 1971 berlanjut di Teater Alam bersama Azwar AN pada 1972, Meritz menyadari usianya kini tidak lagi muda.

Lama tinggal di Jakarta sejak 1979 sampai 2011, lantas pulang ke Bantul bergabung di Kampung Edukasi Watu Lumbung, Meritz mengaku dirinya siap pulang ke kampung akhirat.

“Hari ini ulang tahun saya sekaligus untuk mengingat kematian saya. Mohon maaf, ada sabda Nabi Muhammad SAW, orang-orang yang cerdas adalah yang selalu mengingat kematian dan memperbanyak bekal untuk mati,” ucapnya seraya berdoa semoga dirinya memperoleh hidayah di dunia dan akhirat.

Bersama rekan-rekannya, Meritz Hendra ziarah di makam Sapto Hoedjojo. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Bertemu guru

Dipilihnya Makam Seniman Giri Sapto karena tempatnya bagus, unik, sepi, jauh dari keramaian dan cukup luas. Makam di lereng perbukitan itu dibangun oleh Sapto Hoedjojo yang juga dimakamkan tempat tersebut.

InsyaAllah nanti kalau saya dimakamkan di sini, saya bisa bertemu guru-guru saya. Ada Pak Sapto Hoedjojo, Kusbini, Soenarto dan seterusnya. Ini tempat yang luar biasa,” kata Meritz.

Keputusan untuk pesan makam tercetus spontan dua tiga hari silam di Watu Lumbung. Waktu itu Meritz bertemu Yani Sapto Hoedjojo. “Ada gagasan langsung saya sampaikan ke Bu Yani, saya mendaftar dimakamkan di Makam Seniman Giri Sapto. O ya  silakan milih dhewe,” ujarnya menirukan jawaban Yani Sapto Hoedjojo.

Matahari bersinar panas. Dengan diantar Yani Sapto Hoedjojo,  meski sedikit terengah-engah menaiki tangga yang lumayan tinggi, akhirnya Meritz menemukan lokasi makam yang dipesannya, persis di samping pusara GM Sudarta dan R Soenarto.

Sejenak mengamati sekelilingnya, Meritz kemudian membersihkan tempat itu, mencabuti rumput serta tanaman-tanaman perdu. Sebagai wujud rasa syukur dia membaca puisi berjudul Pulang ke Rumah-Nya karya Muhammad Boy Rifai, diiringi petikan gitar seniman grafis Pungki Purbowo.

“Puisi ini esensinya adalah doa pulang ke kampung akhirat. InsyaAllah kita semua menuju ke sana,” ujarnya. Dia kemudian berziarah ke makam Sapto Hoedjojo, mendoakan serta mengirim Al Fatihah.

Foto bersama usai ziarah. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Karya besar

Memang tidak semua seniman dimakamkan di makam tersebut. Setidaknya semasa hidupnya mereka punya karya-karya besar, sebagaimana pesan almarhum Sapto Hoedjojo hidup ini harus bermanfaat bagi orang lain bukan sebaliknya saat hidup maupun saat mati menyusahkan orang lain.

“Yang dimakamkan di sini harus seniman yang punya darma bakti untuk bangsa dan negara, karya-karyanya diakui. Seniman itu seperti pelangi yang indah penuh warna-warni. Saya bangga Mas Meritz ini seniman besar setelah WS Rendra,” ucap Yani.

Sepakat dengan Yani bahwa rezeki, kematian dan jodoh ada di tangan Allah SWT, Boy Rifai menyatakan sejatinya rumah kita yang sebenarnya adalah makam atau kuburan.

Melalui puisi yang dia tulis itulah Boy mengingatkan setiap orang agar ingat saat pulang ke rumah keabadian. “Kalau kita bilang surga dan neraka masih jauh, masih menunggu alam kubur dan kiamat kemudian dihisab di padang mahsyar,” ujarnya.

Seperti halnya Meritz, Boy Rifai mengaku siap dipanggil Allah SWT untuk pulang bahkan dirinya sudah menyiapkan makam. “Mungkin tidak di sini, saya sudah punya makam sendiri. Saya siap kapan pun dipanggil. Kubur sudah menunggu saya. Tuhan menempatkan kita di mana, kita tidak tahu karena kita hanya ciptaan-Nya,” ungkapnya. (sol)