Aja Gumunan, Aja Kagetan!

Benar kata Puan Maharani, dalam politik berlaku hukum, kawan bisa menjadi lawan, sebaliknya lawan bisa menjadi kawan. Menyikapi situasi politik yang semakin memanas, barangkali ada baiknya setiap orang mengingat nasihat orang Jawa yang pernah dipopulerkan kembali oleh Pak Harto, penguasa Orde Baru. Aja gumunan, aja kagetan! (Jangan mudah heran dan jangan mudah kaget!)

Aja Gumunan, Aja Kagetan!

SEBENARNYA sudah banyak orang menduga, bahwa Prabowo akan berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka dalam kontestasi Pilpres 2024; sekalipun banyak juga orang yang meragukannya. Peristiwa Rapimnas Partai Golkar Sabtu pagi (21/10/2023), yang secara resmi mencalonkan Gibran Rakabuming Raka sebagai bacawapres untuk berpasangan dengan Prabowo Subianto, seperti menjadi penegasan atas spekulasi yang berkembang belakangan ini. Dan tetap saja, fakta yang terungkap cukup membuat kaget banyak pihak. Hal yang semula ada yang menganggapnya mustahil, kini menjadi nyata. Boleh jadi, Gibran pun juga ikut terkaget-kaget. Tak menyangka, bahwa selangkah lagi, ia menjadi salah satu pimpinan nasional, dalam usia yang masih sangat muda.

Memang, Koalisi Indonesia Maju sampai tulisan ini diunggah belum secara resmi mengumumkan pasangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka sebagai bacapres dan bacawapres. Agaknya, ini hanya soal waktu. Dalam satu atau dua hari ini, peresmian itu akan terjadi. Masih mungkin berubah? Seratus kurang satu persen tidak. Partai Bulan Bintang dan Partai Garuda, sudah langsung mengiyakan dan mengambil langkah sejalan dengan Golkar. Apalagi, Sekjen PBB Afriansyah Noor, minggu terakhir September 2023, sudah menyebut nama Gibran sebagai pendamping Prabowo. Partai Demokrat, PAN dan Partai Gelora, agaknya juga tidak akan mengambil posisi melawan arus yang kian membesar. Terlalu besar taruhannya.

Panggung politik dalam setahun ini menyuguhkan banyak lakon yang sering membuat para penonton mengernyitkan dahi, para ahli membuat analisis sambil terus menebak-nebak maksud lakon. Tentu, lakon yang tergelar itu tidak terbatas pada apa yang bisa disaksikan penonton melalui berbagai media. Mainstrem maupun media sosial.

Masih cukup segar dalam ingatan, ketika Walikota Surakarta Gibran Rakabuming Raka menjamu makan malam Menteri Pertahanan Prabowo Subianto di Solo. Hanya berdua saja. Duduk saling berhadapan dalam suasana santai. Episode ini membuat DPP PDI-P agak berang. Gibran dipanggil untuk menjelaskan pertemuannya dengan Prabowo. Dengan santun, Gibran mengatakan, siap diberi sanksi, siap salah, siap dihukum.

Untuk mengembalikan suasana, beberapa hari kemudian, Gibran mengajak kader PDI-P berkeliling di kampung-kampung wilayah kerjanya. Ia menempelkan sticker Ganjar Pranowo sebagai capres. Sticker ditempel di pintu-pintu rumah warga. Aksi ini terhenti, karena Bawaslu menyemprit bahwa aksi itu tak elok dilakukan oleh seorang kepala daerah.

Pada kisah yang lain, lebih setahun yang lalu, pertengahan tahun 2022, Gibran berkunjung ke kandang kuda Prabowo di Hambalang. Prabowo bersama Gibran kemudian naik kuda putih. Apakah itu pertanda bahwa pada lebih setahun kemudian Gibran akan mengambil langkah kuda sebagaimana permainan catur? Hampir tak ada yang menduga. Dan itu sekarang terjadi.

Realitas politik Sabtu pagi, bagaimanapun menyentak kandang banteng moncong putih. Bahkan sebelum Golkar menggelar Rapimnas, aroma Gibran yang bakal naik panggung politik nasional sudah ditengarai elite PDI-P. Setelah Megawati Soekarnoputri mengumumkan nama Mahfud MD sebagai bacawapres Ganjar, sang putri yang juga menjadi Ketua DPP PDI-P menyuarakan kegerahan itu. Puan Maharani minta kepada media, agar media menanyakan kepada Presiden Joko Widodo, apakah mendukung capres Ganjar dan cawapres Mahfud MD, atau mendukung calon lain. Ia juga ingin tahu jawabannya. Tentu saja, Puan bukan tidak tahu ke mana sebenarnya arah dukungan Jokowi.

Berbagai cara dilakukan agar Gibran batal menjadi bacawapres Prabowo. Setidaknya, itu dapat dibaca dari terbitnya perintah DPP PDI-P yang ditandatangani Ketua DPP Bambang Wuryanto dan Sekjen Hasto Kristiyanto. Surat itu berisi perintah kepada sejumlah kepala daerah untuk menjadi tim pemenangan Ganjar-Mahfud. Tentu saja, perintah ini termasuk untuk Gibran Rakabuming Raka yang menjadi Walikota Surakarta dengan kendaraan politik PDI-P.

Surat itu, boleh jadi tidak bermakna apa-apa bagi Gibran, karena hampir pasti, sang bacawapres akan segera mengundurkan diri sebagai kader PDI-P untuk melempangkan jalan menuju kursi wakil presiden.

Benar kata Puan Maharani, dalam politik berlaku hukum, kawan bisa menjadi lawan, sebaliknya lawan bisa menjadi kawan. Menyikapi situasi politik yang semakin memanas, barangkali ada baiknya setiap orang mengingat nasihat orang Jawa yang pernah dipopulerkan kembali oleh Pak Harto, penguasa Orde Baru. Aja gumunan, aja kagetan! (Jangan mudah heran dan jangan mudah kaget!) **