200 Tahun Peringatan Perang Jawa di Purworejo, Putro Wayah Pangeran Diponegoro Tapak Tilas
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO--Dua ratus (200) tahun Peringatan Perang Jawa di Purworejo, Putro Wayah Pangeran Diponegoro Lakukan Niti Yudha atau Tapak Tilas. Sejarah mencatat, pada abad 18 silam Pangeran Diponegoro melawan Belanda di wilayah Purworejo. Tapak Tilas meliputi wilayah perbatasan Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Purworejo tepatnya di Desa Jogoboyo, Desa Bubutan, Desa Wonoroto dan Desa Cengkawakrejo.
Niti Yudha (Napak Tilas) Perjuangan Pangeran Diponegoro dilakukan untuk penelusuran kembali titik-titik pertempuran Besar Perang Jawa yang ada di Wilayah Purworejo.
Pegiat Sejarah Sudibyo Prawiroatmodjo bersama keturunan Pangeran Diponegoro dan warga memperingati 200 Tahun Perang Jawa dalam Niti Yudha Pangeran Diponegoro.
Sudibyo Prawiroatmodjo adalah dosen tetap pada Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, turut memprakarsai tapak tilas Pangeran Diponegoro dan dialog Perang Diponegoro melawan Belanda.
Dia menuturkan pada 26 September 1829 Pangeran Diponegoro disertai 50 sampai 60 pengikut memasuki wilayah Bagelen dengan menyeberangi Sungai Bogowonto melalui Desa (Pasir) Kadilangu. Setelah semalam sebelumnya mereka menginap di Desa Wonoroto Muara Sungai Bogowonto (Jalur transit Sang Pangeran), akrab disebut Desa Jogoboyo.
Rute berikutnya menuju Benteng Bubutan yang dibangun pada 1829 merupakan saksi peristiwa tidak menyenangkan terhadap tubuh 3 panglima kepercayaan Pangeran Diponegoro yang gugur di Sengir. Salah seorang kepercayaan Pangeran Diponegoro meyakinkan Komandan Hulptroepen bahwa yang gugur tersebut sentana Kasultanan Yogyakarta.
“Dari Desa Bubutan rute berikutnya adalah Desa Cengkawakrejo, merupakan salah satu kubu pertahanan pasukan Belanda. Pada 1828 di sini dibangun sebuah benteng yang kokoh. Tahun 1829 terjadi pertempuran besar antara pasukan Diponegoro dan pasukan Belanda untuk memperebutkan benteng. Pasukan Belanda didukung Hulptroepen (pasukan bantuan) di bawah Tumenggung Cakrajaya berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan benteng ini. Dalam pertempuran sengit yang menyebabkan jatuhnya banyak korban di kedua belah pihak, mereka berhasil menghalau pasukan Pangeran Diponegoro ke arah timur ke kawasan Bukit Menoreh. Sampai ke pedesaan di sekitar Pripih di Desa Sengir, tiga orang panglima perang Pangeran Diponegoro gugur. Kepergian 3 orang tersebut menyebabkan Pangeran Diponegoro sangat terpukul sampai terbetik keinginan untuk mengakhiri perlawanan.
Sudibyo berharap, tapak tilas tersebut sebagai warisan nilai-nilai nasionalisme dari Pangeran Diponegoro untuk generasi muda saat ini. Dia sangat prihatin dengan pengaruh-pengaruh yang mengatasnamakan suasana di negeri konoha dan bendera One Piece yang marak terpasang belakangan ini.
“Saya berharap dengan semangat Pangeran Diponegoro, generasi muda jangan mudah diterpa oleh isu-isu yang menyurutkan nilai-nilai nasionalisme. Saya juga berharap agar generasi muda bangga dengan Indonesia,” jelasnya di Rumah Budaya Tjokrodipo.
Angko Setiarso Widodo sebagai pemilik Rumah Budaya Cokrodipo menuturkan, kakeknya turut bersama Pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda.
Peserta tapak tilas Pangeran Diponegoro berkumpul di Rumah Budaya Tjokrodipo yang berada di jalan Kalikepuh Kelurahan Sindurjan Kecamatan/Kabupaten Purworejo, Minggu (10/8/2025).
Tapak tilas pertempuran perang Pangeran Diponegoro, star dari rumah Budaya Tjokrodipo Purworejo menuju Muara Sungai Bogowonto (Jalur transit Sang Pangeran), akrab disebut Desa Jogoboyo Kecamatan Ngombol. Rute berikutnya menuju Benteng Bubutan Kecamatan Purwodadi ke Desa Cengkawakrejo Kecamatan Banyuurip. Setelah itu rombongan kembali ke di Rumah Budaya Tjokrodipo.
“Dengan tapak tilas perjuangan Pangeran Diponegoro harapannya mampu mengibarkan semangat. Kita punya warisan semangat perjuangan melawan Belanda,” jelas Angko. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
