adu-siasat-sekolah-tak-bertatapilustrasi pendidikan daring ditengah pandemi Covid-19 (lilik sumantoro/koranbernas.id)


Redaktur

Adu Siasat Sekolah Tak Bertatap

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Gadis desa ini tampak murung. Beberapa hari terakhir wajahnya pucat. Padahal biasanya, Tri Novi Rahmadani atau sering dipanggil Novi ini, selalu ceria. Pelajar umur 16 tahun itu pada beberapa pekan terakhir sulit tidur. Setiap malam, matanya sulit terpejam. Pandangannya kosong. Pikirannya menerawang seperti tidak punya arah.

Siswa kelas 8 SMPN 2 Panggang Gunungkidul ini bingung. Masalah yang dihadapi diupayakan dipecahkan sendiri. Namun selalu kandas. Akhirnya, dengan hati berdebar disertai tekat yang kuat, warga Padukuhan Prahu Kalurahan Girimulyo Kepanewonan Panggang Gunungkidul ini memberanikan diri menghadap ibunya.


Baca Lainnya :

“Mbok aku tak metu seka sekolah wae ya (Ibu saya keluar dari sekolah saja ya - Red),” kata gadis kelahiran 9 Oktober 2005 ini dengan mimik bergetar.

Bagai disambar petir siang bolong. Wakiyem (54), terlihat kaget ketika mendengar suara anaknya itu. “Kowe kuwi omong apa (Kamu itu bicara apa - Red),”. Alasan Novi karena dia tak punya handphone untuk belajar daring. Padahal alat ini menjadi satu-satunya syarat agar para siswa bisa belajar di rumah secara daring, sebagai dampak pandemi Covid-19. Namun ibunya yang mengandalkan buruh tani, untuk bisa makan setiap hari, harus bersusah payah.


Baca Lainnya :

Dia berceritera tentang perjuangannya mengikuti kegiatan sekolah online, meski dirinya tidak punya HP. Secara kebetulan ada pemilik  konter handphone di wilayah Kalurahan Girimulyo berbaik hati. Pemilik konter handphone itu bersedia meminjamkan HP-nya setiap pagi kepada Novi agar ia bisa mengerjakan tugas dari para guru. Namun Novi harus mengerjakannya di konter tersebut.

Setiap pagi Novi harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer dari rumahnya ke konter handphone itu.

"Biasanya saya berangkat pukul 06:00 dan sampai di konter pukul 07:30," ungkapnya.

Tak Kenal Belajar Daring

Zelgai Dhayulhaq Ainun (9) siswa kelas 3 SDN 1 Terong Dlingo Bantul terlihat tekun mengerjakan tugas sekolah di rumahnya belakang Balai Desa Terong. Ketika ada soal yang tidak paham, dia bertanya ke ayahnya, Ainun Najib, yang memang bergantian dengan istri mendampingi Zeo, panggilan akrabnya, belajar  di rumah.

Sejumlah sekolah di Kecamatan Dlingo yang berbatasan dengan Gunungkidul itu, sejak awal masa pandemi Covid-19 memang tidak menerapkan sekolah online. Dengan kata lain, model sekolah tersebut tidak berlaku di wilayah ini.

“Di sini sejak awal pandemi tidak ada pembelajaran secara daring atau online. Siswa beberapa hari sekali mengambil tugas ke sekolah, nanti  dikumpulkan lagi di sekolah ketika pekerjaan selesai untuk dikoreksi gurunya,” kata Ainun kepada koranbernas.id, Senin (24/8/2020).

Tentu saja siswa maupun orang tua tidak paham materi yang diajarkan. Beruntung pihak sekolah memberikan kesempatan untuk bertanya langsung kepada guru di sekolah, sehingga saat mengerjakan  tugas tidak mengalami kendala berarti.

Tidak Semua Mampu

Sistem Belajar di Rumah (BDR) masih diterapkan di Sleman, menyusul pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai. Bagi siswa terutama siswa SD maupun SMP, tentunya akan mengalami perubahan baik perilaku maupun cara belajar. Seperti yang dialami Arman Satya, pelajar kelas V SD di Kalasan, mengaku dengan sistem daring ada perubahan cara belajarnya. Menurut Arman, perubahan belajarnya sekarang tiap hari diberi tugas sama guru.

“Setiap hari tugasnya dishare di grup siswa. Kemudian saya mengerjakan tugas setelah. Selesai tugasnya dikirim ke ponsel guru,” kata Arman, Rabu (19/8/2020).

Belajar daring seperti ini tentu ada kendalanya. Namun menurut Amelia, ibu dari Arman, bagi anaknya tidak terlalu merasakan kendalanya karena anaknya pegang ponsel sendiri sehingga kalau ada tugas dari guru bisa segera dikerjakan.

“Beberapa hari lalu saya sempat ketemu wali murid yang lain. Ada yang curhat sama gurunya minta agar diadakan  home visit. Karena ada yang mengalami kendala  orangtuanya kerja dan anak tidak pegang ponsel. Jadi tugas sekolahnya dikerjakan setelah orangtuanya pulang kerja,” tutur Amelia.

Satu Telepon Genggam untuk Beramai-ramai

Di Purworejo, keluarga Partimah pun kerepotan dengan pembelajaran daring. Partimah bekerja di toko Kelontong. Sementara suaminya bekerja serabutan yang notabene tidak mempunyai penghasilan tetap. Tak heran, pembelajaran dengan sistem daring yang dilakoni anaknya selama pandemi, dirasa merepotkan warga Desa Sidomulyo, kecamatan dan Kabupaten Purworejo ini.

Potret Partimah tersebut mungkin bisa mewakili keluarga lainnya yang merasa kerepotan tatkala anak-anaknya harus belajar daring dengan fasilitas sangat minim.

Partimah adalah seorang ibu yang memiliki 4 orang anak. Anak pertama lulusan SMK di Purworejo dan sudah bekerja. Anak kedua laki-laki masih kelas IX di SMK Swasta Purworejo, anak ke tiga perempuan sekolah di SMPN VI kelas 8 dan anak bungsunya seorang laki-laki yang masih sekolah di SMPN 4 Purworejo, kelas 7.

Menurut Partimah, tiga anaknya selama belajar dalam jaringan (daring) menggunakan 1 telepon seluler berbasis android secara bergantian.

“Ketiga anak saya untuk belajar daring menggunakan satu telpon seluler secara bergantian,” terang Partimah.

Selama belajar di rumah, anak-anaknya harus mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu. Setelah selesai, baru mengerjakan pekerjaan sekolah.

“Yang perempuanku harus membersihkan rumah dan memasak. Sementara yang anak laki-laki membantu pekerjaan bapaknya mencari rumput untuk pakan ternak,” jelas Partimah.

Walaupun dibebani pekerjaan rumah, anak-anaknya kata Partimahtetap penuh semangat belajar dan bersekolah.

Orang Tua pun Ikut Stres

“Gendeeengg akuuu.  Ternyata gak cuman aku yang hipertensi dengan pendidikan online selama pandemi Covid 19 ini, tapi banyak ortu yang lain mengalami nasib sama. Apalagi pas upacara 17 Agustusan kemarin,” teriak Rita Hidayati, ibu empat anak dan dua diantaranya anak kembar saat bercerita tentang pendidikan daring salama pandemi.

Penduduk kecamatan Jangli, Kota Semarang ini mengaku pusing apalagi saat menemani dua anaknya yang kembar kelas 5 SD Jatingaleh, Kota Semarang untuk belajar di rumah. Sementara untuk dua kakaknya yang duduk di bangku SMP dan SMA sudah lebih ringan karena mereka berdua sudah lebih bertanggungjawab.

 “Duh kadang-kadang tugasnya aneh-aneh, contoh pelajaran olah raga, gurunya meminta tugas olga ini dikumpulkan. Terpaksa harus membuat video masing-masing anak yang kembar tersebut, dan mereka berdua harus dijaga mood nya, kalau tidak akan saling menggangu,” ujar Rita.

Rela Berjalan Kaki

Di tengah pandemi Covid-19 yang entah kapan akan berakhir, mengundang keprihatinan para guru, tak terkecuali Jumiati (40), guru SDN 4 Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah. Desa Siwarak adalah desa paling ujung utara Kabupaten Purbalingga, berada di kaki Gunung Slamet yang memiiki ketinggian 3.428 meter di atas permukaan air laut.Hawa udara di desa ini terasa dingin, siang maupun malam. 

Mengingat pembelajaran secara daring tidak sepenuhnya bisa dilakukan di daerah ini lantaran banyak siswa yang tidak memiliki ponsel dan keterbatasan ekonomi, maka Jumiati rela mendatangi satu per satu siswanya dari rumah ke rumah untuk mengajar.

Menurut Jumiati, beberapa mata pelajaran tertentu akan terasa lebih pas jika dilakukan secara tatap muka.Karena itu, Jumiati tergerak hatinya untuk tetap mendatangi rumah siswanya satu per satu.

“Meski ada WhatsApp (WA), tidak semua metode pembelajaran bisa diterapkan melalui online. Misal mengajari berhitung, membaca dan mengeja. Tidak bisa lewat WA, namun harus praktik langsung,” ujar Jumiati kepada koranbernas.id, Minggu (23/8/2020).

Akhirnya Semua Dipaksa Online

 “Sampai pandemik, relatif belum ada yang bisa menjalankan konsep pembelajaran online ini. Regulasi sudah ada, tapi belum ada yang menjalankan. Jadi menurut saya, ini berkah tersembunyi untuk pelaksanaan program pembelajaran jarak jauh. Tapi secara ide, adanya UT adalah gagasan penyelenggaraan jarak jauh. Tapi wujudnya belum ada,” ungkap Pengamat pendidikan dari PKBTS Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa, Darmanintyas, beberapa waktu lalu.

Baru setelah pandemi, semua dipaksa untuk melakukannya. Karena kondisi terpaksa, tentu ada yang sudah bagus ada yang belum. Karena untuk pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini, sangat dipengaruhi oleh infratstuktur jaringan listrik dan internet. Di daerah yang bagus, masyarakat punya dana atau uang untuk kuota dll, tentu saja tidak masalah.

Perlu Terobosan

Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Sofyan Setyo Darmawan, khawatir sistem pembelajaran online jika tidak berlangsung secara menarik, efektif, nyaman serta menggairahkan siswa, hasilnya justru akan bertolak belakang dari tujuan semula.

“Kalau kita tidak melakukan langkah-langkah kreatif dan terobosan-terobosan yang sungguh-sungguh, kita khawatir siswa siswi menjadi korban dalam konteks yang lain. Artinya mereka menjadi mager atau malas gerak dan jadi sangat lekat dengan gadget. Ini akan menimbulkan persolan baru. Kita tidak menginginkan itu,” ujarnya.

Dia sepakat harus segera dilakukan langkah-langkah untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Dikhawatirkan pula jika masalah tersebut berlangsung berlarut-larut tanpa ada terobosan baru yang menyegarkan, akan muncul bentuk-bentuk penyakit baru.

“Bukan hanya Corona tetapi penyakit malas, penyakit rebahan dan penyakit semacam itu. Mudah-mudahan tidak terjadi, naudzubillahi min dzalik,” sergahnya.

Out of The Box

Psikolog sekaligus Dosen di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Diana Setiyawati mengatakan tidak layak juga kita menyalahkan tenaga pengajar yang belum mampu menyampaikan ilmunya kepada anak didik ditengah kondisi seperti ini. Menurutnya, meskipun dengan segala predikat terbaik saat belajar masih konvensional, mereka tidak dipersiapkan untuk ini.

"Sebelum ini mungkin peningkatan sumberdaya guru tentang hal itu juga belum prioritas, kita juga melihat sekolah negeri di Jogja pun mengalami hal serupa, guru-gurunya ada yang keteteran," lanjutnya.

Yang kalau yang kesenjangan-kesenjanagan internet dan sebagainya Itu itu lebih kasihan, tapi bahkan yang di kota kota-kota seperti Jogja pun digital literasinya belum sampai untuk dengan cepat belajar tentang learning management system misalnya dari kuliah online, sekolah online itu kan dia perlu perlu wawasan yang tidak bisa instan juga.

"Namanya juga bencana, kalau carut-marut ya iya, tidak hanya kita, bahkan seluruh dunia belum pernah mengalaminya. Berbeda dengan gempa atau bencana alam lainnya, yang kita sudah pernah dan kemudian tahu bagaimana melaluinya," terangnya

Pandemi Justru Menguatkan Pilihan

Sri Wahyaningsih, atau kerap dipanggil Wahya, Pendiri Sanggar Anak Alam memaparkan jika ini merupakan ujian bagi Salam, Ujian terhadap pilihan Salam sejak awal. Salam yang selalu melibatkan orang tua dan proses belajarnya serta melalui riset justru merasa kalau pandemi ini semakin menguatkan kami. Salam menjadi teruji dengan segala situasi, proses belajar tetap berjalan biasa.

"Yang membedakan, mungkin karena kita sebagai makhluk sosial tentu ketemu itu merupakan sesuatu yang sangat berarti, karena dengan bertemu kita juga belajar. Tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain, Hal inilah yang dirasakan Salam bahwa yang biasanya inspirasi itu datang dari sebuah pertemuan, sekarang proses itu hanya terbatas virtual," paparnya saat ditemui koranbernas.id di kediaman sekaligus sekolah, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta.

"Tetapi secara esensi kami tidak ada beban apa-apa, justru dengan pandemi kami semakin dikuatkan dengan pilihan-pilihan kami untuk belajar melalui empat pilar yaitu pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya," lanjutnya.

Gelontor Internet Gratis Demi Komunikasi

Indosat mendukung kebijakan belajar di rumah tersebut dengan memberikan secara gratis kuota sebesar 30GB selama 30 hari yang bisa diaktifkan melalui *123*369#. Selain itu, gratis kuota 30GB ini juga dapat digunakan untuk mengakses ke lebih dari 60 platforme-Learning dan situs resmi dari universitas-universitas di Indonesia.

Hal senada dilakukan PT Telkom dengan memberikan program khusus guna mendukung learning from home. Diantara program tersebut, adalah IndiHome LFH Free Access, yang memungkinkan pengguna menikmati layanan internet gratis dengan kecepatan 10 megabyte dan kuota 100 gigabyte, dengan abonemen bulanan Rp 169 ribu.(Tim Koran Bernas)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini