atas1

Wayang Jogja Night Carnival Kenalkan 14 Wayang Milik Keraton

Selasa, 08 Okt 2019 | 00:34:55 WIB, Dilihat 321 Kali
Penulis : Muhammad Zukhronnee Ms
Redaktur

SHARE


Wayang Jogja Night Carnival Kenalkan 14 Wayang Milik Keraton Wayang kapi harima, salah satu dari 14 wayang yang dibawakan ke 14 kecamatan seluruh kota Yogyakarta. (Muhammad Zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Kekeringan, Volume Air Sempor Tinggal 0,95 Juta Kubik


KORANBERNAS.ID -- Sebanyak 14 kecamatan di kota Yogyakarta dalam 14 kelompok wayang tampil kolosal dalam Wayang Jogja Night Carnival 2019 (WJNC). Seperti tahun sebelumnya, Bertepatan dengan ulang tahun kota Yogyakarta ke 263, helatan keempat ini berpusat di perempatan Tugu Yogyakarta Senin (7/10/2019) malam.

Tugu Yogyakarta yang ikonik, beberapa monitor LED berukuran besar memproyeksikan visual wayang sebagai tradisi bangsa Indonesia menjadi latar panggung ratusan peserta menarikan gerakan-gerakan yang beragam namun harmonis.

Dibuka oleh kereta berbentuk Udang raksasa yang dikendarai oleh seorang putri cantik, Urang Ayu yang diceritakan merupakan puteri dari Baruna si penguasa laut. Beserta pasukannya Urang Ayu dan iring-iringan WJNC bergerak dari perempatan Tugu Yogyakarta kearah Selatan menuju Stasiun Tugu.

Wayang Jogja Night Carnival kali ini mengusung tema yang tak biasa, Ringgit Wanara Kagungan Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau yang juga dikenal sebagai Wayang Kapi-kapi. Wayang Kapi-kapi adalah wayang milik Kraton Yogyakarta yang jarang di bawa ke khalayak. Wayang ini unik, lantaran memiliki bentuk perpaduan bagian tubuh hewan yang merepresentasikan kehidupan di dunia.

Yetti Martanti, Selaku Show Director WJNC mengatakan, bukan tanpa alasan pemilihan tema pada event ini akan menjadi ajang mendekatkan masyarakat dengan 14 karakter Wayang Kapi-kapi yang jarang terekspos.

“Agar masyarakat bisa mengenal Wayang Kapi-kapi dan memaknai filosofinya dalam kehidupan sehari-hari. Karena Wayang Kapi-kapi sendiri mengajarkan agar kita harus saling mengayomi meski memiliki pribadi berbeda-beda, sangat pas untuk konteks seperti sekarang,” terangnya.

Wayang Kapi-kapi terdiri dari 14 karakter yang kuat, di antaranya Wayang Kapi Kingkin, Wayang Jaya Harima atau Wayang Kapi Harima, Wayang Kapi Wraha, Wayang Kapi Warjita sering juga disebut Kapi Wercita atau Cacingkanil, Wayang Kapi Jaya Anala atau Kapi Anggeni, Wayang Kapi Satabali, Wayang Kapi Liman Dhesthi, Wayang Kapi Premujabahu atau Kapi Permujabahu, Wayang Kapu Sembawa, Wayang Kapi Cocak Rawun, Wayang Kapi Endrajanu, Wayang Kapi Widagsi Wayang Kapi Jaya Arina, Wayang Kapi Trewilun atau Kapi Terwilun.

Yetti melanjutkan, Terdapat tujuh seniman profesional yang membantu peserta dalam mengawal proses produksi, diantaranya KPH Notonegoro, RM. Kristiadi, Ali Nursotya Nugraha, Anon Suneko, Emerentiana Tri Ikhtiarningsih, Agung Tri Yulianto, dan Hermawan Sinung Nugroho.

"Dengan adanya kreativitas dan pengetahuan yang dimiliki oleh para seniman profesional yogyakarta ini diharapkan bisa membuat masyarakat semakin mengenal wayang kapi-kapi," pungkasnya.

Urang Ayu membuka Wayang Jogja Night Carnival Senin (7/10/2019) malam. (Muhammad Zukhronnee Ms/koranbernas.id)

Sementara itu, Gubernur DIY dalam sambutan yang dibacakan Pakualam X menyampaikan, Sebagai sebuah Kota Pelajar, Yogyakarta diharapkan mampu menjadi sebuah entitas yang mampu memberikan fasilitas pembelajaran formal maupun informal, sekaligus menjadi bahtera pembelajaran sejatinya hidup bagi segenap warganya.

Inilah sejatinya belajar sepanjang hayat lanjutnya, lifelong learning yang akan membawa setiap manusia mencapai kesejahteraan jasmani dan rohani dalam berbagai bidang kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, maupun budaya.

"Yogyakarta adalah jantung peradaban Jawa, melalui aneka ragam budaya yang lahir atas eksistensi institusi kebudayaan seperti Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman, maupun yang lahir dari olah cipta, rasa dan karsa masyarakat," imbuhnya.

"Besar harapan saya, Yogyakarta akan mencapai tataran sejahtera dari olah budaya, implementasi nilai-nilai budaya dan sastra yang lahir dari rahim peradaban Jawa nan agung ini. Tentu dalam Segoro Amarto-- Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyakarto dan tercermin dalam spirit Kemandirian, Kedisiplinan, Kepedulian dan Kebersamaan," tutupnya. (yve)



Selasa, 08 Okt 2019, 00:34:55 WIB Oleh : Nanang WH 475 View
Kekeringan, Volume Air Sempor Tinggal 0,95 Juta Kubik
Senin, 07 Okt 2019, 00:34:55 WIB Oleh : Putut Wiryawan 329 View
Jangan Sakit
Senin, 07 Okt 2019, 00:34:55 WIB Oleh : Despan Heryansyah 339 View
Pembatalan Perda

Tuliskan Komentar