Program Fresh Dukung Ketersediaan Susu Segar Program MBG
Susu segar sebagai bagian dari menu wajib program MBG, terutama di wilayah-wilayah sentra sapi perah seperti Sleman.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Upaya kolektif mempercepat pemenuhan gizi anak Indonesia terus diperkuat. Salah satu tonggak penting ditandai dengan peresmian fasilitas pasteurisasi susu milik Koperasi Sapi Merapi Sejahtera (Samesta) yang berlokasi di Plosokerep, Umbulharjo Sleman, Selasa (29/7/2025).
Fasilitas ini diresmikan bersamaan dengan penyelenggaraan Lokakarya dan Kunjungan Lapangan Program FRESH (Farmer Resilience and Enhanced Sustainable Husbandry) yang digelar oleh Sarihusada Generasi Mahardhika (SGM) dan mitra strategis.
Kedua kegiatan tersebut menjadi manifestasi konkret sinergi pemerintah, koperasi, dunia usaha dan organisasi masyarakat dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Agung Suganda, mengungkapkan pentingnya ketersediaan susu segar sebagai bagian dari menu wajib program MBG, terutama di wilayah-wilayah sentra sapi perah seperti Sleman.
Menu wajib
“Susu merupakan salah satu menu wajib di daerah yang memiliki potensi sapi perah. Ini sejalan dengan cita-cita Presiden memenuhi kebutuhan gizi anak-anak kita,” jelasnya.
Menurut Agung, konsumsi rutin susu segar dapat menunjang pertumbuhan optimal anak, terutama dalam masa emas 1.000 hari pertama kehidupan. Apalagi susu segar yang dikonsumsi minimal tiga kali dalam seminggu diyakini akan mendukung pertumbuhan tinggi badan anak-anak secara optimal.
"Jadi nanti kita menang dari Vietnam bukan lagi karena banyak naturalisasi pemainnya, tapi karena anak-anak kita secara fisik dan kemampuan lebih baik, mendapat gizi dari susu,” tambahnya.
Agung menyebutkan FRESH sebagai model pengembangan peternakan masa depan. Program ini tidak hanya menjawab tantangan produktivitas dan regenerasi peternak, tapi juga menjadi solusi adaptif terhadap perubahan iklim.
Langkah strategis
"Pendekatan berbasis teknologi dan kelembagaan koperasi sebagai langkah strategis yang perlu direplikasi ke daerah lain," ujarnya.
Ketua Koperasi Semesta, Ruslan, mengungkapkan koperasi tidak hanya mengelola pengolahan susu namun juga berbagai unit usaha seperti penyediaan pakan, pembibitan sapi, layanan kesehatan hewan, pengolahan pupuk dan biogas, hingga edukasi wisata peternakan.
Koperasi Samesta berdiri sejak 2016 dan saat ini membina 250 peternak dari wilayah Cangkringan, Pakem dan Turi. “Fasilitas ini sangat membantu kami meningkatkan kualitas produksi susu sekaligus mendukung keberlanjutan peternakan sapi perah di daerah ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Karyanto Wibowo selaku Senior Director of Public Affairs & Sustainability Danone Indonesia menjelaskan, fasilitas pasteurisasi menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mendukung gizi anak melalui penguatan sektor hulu peternakan.
Sapi perah
“Kami percaya bahwa keberhasilan industri susu tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan peternak sapi perah rakyat sebagai garda terdepan,” ujarnya.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui Program FRESH, yang resmi diluncurkan pada 2023 oleh Sarihusada, Danone Ecosystem dan Yayasan Rumah Energi (YRE). Program ini bertujuan meningkatkan produksi dan kualitas susu, menaikkan pendapatan peternak sekaligus mengurangi emisi metana.
Fokusnya meliputi pelatihan dan peningkatan kapasitas, penguatan koperasi, digitalisasi serta inovasi ramah iklim. Lokakarya Program FRESH yang diadakan di Kaliurang turut dihadiri oleh jajaran Dinas Peternakan dari Provinsi DIY, Jawa Tengah, Kabupaten Sleman, Boyolali, Klaten serta akademisi dari Fakultas Peternakan dan Kedokteran Hewan UGM.
Direktur Eksekutif YRE, Sumanda Tondang, menyatakan pentingnya intervensi teknologi seperti biogas dan pelatihan manajemen usaha. “Bio-slurry hasil biogas kini digunakan sebagai pupuk hijauan. Ini memberi manfaat ganda menekan biaya energi dan meningkatkan produktivitas peternakan,” ujarnya.
Hasil meningkat
Dampak nyata dari program ini dirasakan langsung oleh Jenarwan, peternak asal Boyolali. Setelah mengikuti pelatihan Good Dairy Farming Practices (GDFP), usahanya kini lebih terukur dan hasil susunya meningkat.
“Dulu saya pikir beternak hanya soal memberi makan. Sekarang saya belajar pencatatan, manajemen biaya dan kesehatan ternak. Hasilnya, produksi dan kualitas susu saya meningkat,” ucapnya.
Hingga pertengahan 2025, Program FRESH telah mendampingi 511 peternak dan enam koperasi secara intensif. Beberapa capaian utamanya mencakup peningkatan produksi susu di Koperasi Samesta, UPP Kaliurang dan KJUB Puspetasari berupa peningkatan kualitas susu (lemak dan protein) serta pembangunan 172 unit instalasi biogas baru dan perbaikan 27 unit lainnya.
Total populasi mengalami peningkatan signifikan, termasuk 18 ekor sapi bunting yang kini dikelola 43 peternak penerima manfaat. FRESH merupakan kelanjutan dari komitmen Sarihusada sejak 1954 untuk mendukung peternak sapi perah rakyat. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
