Politeknik LPP Yogyakarta dan BPDP Berdayakan UMKM, Kembangkan Produk Turunan Kelapa Sawit
UMKM digandeng pada kegiatan ini untuk memberikan edukasi meningkatkan lapangan kerja dengan menciptakan atau menginspirasi para UMKM untuk mengembangkan produk turunan kelapa sawit dan akan menaikkan pendapatan per kapita
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Politeknik LPP Yogyakarta berkolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sukses menggelar Workshop dan Fieldtrip UMKM Sawit dengan tema “Pemberdayaan UMKM Guna Mendukung Pemanfaatan Produk Turunan Kelapa Sawit” di Yogyakarta, Rabu (26/2/2025).
Wakil Direktur II Politeknik LPP Yogyakarta, Galuh Banowati, menyampaikan workshop ini merupakan bentuk penerapan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Pihaknya berupaya menggandeng para pelaku UMKM dalam penyebaran edukasi, untuk mengembangkan produk turunan kelapa sawit.
“UMKM digandeng pada kegiatan ini untuk memberikan edukasi meningkatkan lapangan kerja dengan menciptakan atau menginspirasi para UMKM untuk mengembangkan produk turunan kelapa sawit dan akan menaikkan pendapatan per kapita,” ujar Galuh.
Hadir dalam acara ini, Direktur Utama BPDP yang diwakili Kepala Divisi UKMK BPDP, Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil Ditjen Perbendaharaan DIY, Kepala Seksi Bank KPPN Yogyakarta, Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM DIY.
Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM DIY, Agus Mulyono memaparkan, terdapat 344.000 pelaku UMKM yang berproduksi dari produk turunan sawit, di antaranya di bidang kuliner, bahan kebutuhan rumah tangga, dan lainnya. Namun, terdapat permasalahan dasar yang sering muncul, yaitu tantangan pengembangan usaha mikro/kecil menjadi usaha menengah.
“Maka kami mengundang para pelaku UMKM untuk mengikuti arah pembinaan dan pengembangan, salah satunya dengan mengikuti kegiatan workshop. Kegiatan ini dirasa menjadi salah satu solusi yang bisa ditawarkan,” jelas Agus.
Menurutnya, Dinas Koperasi telah menyediakan tempat pemasaran melalui SIBAKUL. “Kami harap pelaku UMKM dapat menggunakan media tersebut agar bersama, berkolaborasi untuk meningkatkan peluang UMKM untuk naik kelas,” timpalnya.
Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil Ditjen Perbendaharaan, Juli Kestijanti menambahkan, dibutuhkan SDM yang kompeten dalam perekonomian Indonesia. Pemerintah berharap pelaku UMKM dapat meningkatkan kualitas produk sehingga mampu bersaing di pasar lokal hingga global.
“Pemerintah menyadari bahwa akses pendanaan menjadi kesulitan bagi pelaku UMKM, maka APBN menjadi solusi dalam modal kerja, salah satunya dengan menggunakan KUR dengan bunga dua persen,” sebutnya.
Anggaran juga diperlukan untuk mendukung program digitalisasi UMKM agar para pelaku dapat meningkatkan usaha dengan jangkauan yang lebih luas. “Transformasi digital harus terus berkembang sehingga UMKM dapat bersaing,” imbuhnya.
Kolaborasi dan Potensi Ekspor
Sementara itu, Kepala Divisi UKMK BPDP, Helmi Muhansyah, menyampaikan pentingnya para pelaku UMKM untuk dapat meningkatkan peluang, salah satunya dengan menciptakan produk turunan kelapa sawit. Pelaku UMKM juga dapat membantu meningkatkan ekspor.
“BPDP hadir untuk siap berkolaborasi dengan para pelaku UMKM,” jelas Helmi.
Saat ini Indonesia akan mengembangkan biodiesel sebesar 40 persen, secara tidak langsung maka akan menghemat devisa hasil ekspor yakni dengan mengurangi bahan bakar dengan bahan bakar berbahan baku minyak sawit.
“Sawit juga mengalami banyak black campaign di antaranya deforestasi, dan lain-lain, diharapkan mahasiswa dapat menjadi advokat untuk mendukung hal-hal positif dari sawit,” katanya. (*)