Sabtu, 27 Feb 2021,

pertama-kalinya-mahasiswa-umy-kkn-di-panti-asuhanKampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (istimewa)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Pertama Kalinya, Mahasiswa UMY KKN di Panti Asuhan

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL--Pandemi Covid-19 ternyata tidak hanya melumpuhkan perekonomian secara umum. Pandemi berkepanjangan juga berefek besar bagi panti asuhan, yang secara finansial bertahan hidup dari donasi. Adanya pembatasan bagi dermawan yang ingin menyalurkan bantuan untuk hadir langsung ke panti asuhan, menjadikan penyaluran dana bantuan hanya bisa dilakukan melalui transfer.

Hal ini menjadi konsentrasi mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang mulai awal 2021 ini terjun langsung ke 22 Panti Asuhan Muhammadiyah dan Aisyiyah yang ada di Yogyakarta. Mereka tidak hanya memberdayakan anak-anak panti, tapi juga pengurus panti untuk melakukan inovasi terbaru terkait laporan keuangan, berapa banyak penurunan donasi, dan berapa banyak kenaikan, dengan sistem digitalisasi.

  • Ketersediaan Pangan Tak Penuhi Populasi Manusia

  • Banyak hal yang dilakukan mahasiswa di panti asuhan tersebut. Yaitu memberdayakan dan membekali anak-anak panti dengan program-program yang berguna bagi sesama.

    Namun sebelum jauh mengaplikasikan program kerja yang sudah dirancang, UMY melalui Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) tidak melepas begitu saja mahasiswanya. Pembekalan langsung bersama Ir. Sularno, M.Si selaku Ketua Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah, diberikan kepada mahasiswa KKN melalui sambungan virtual zoom, Jumat (22/1/2021).


    “Melalui KKN ini, mahasiswa dan teman-teman KKN semua diharapkan bisa meningkatkan pemahaman dan keterampilan anak-anak panti agar tidak menjadi beban masyarakat ke depannya. Karena di panti asuhan ada batas waktunya, jadi anak-anak akan dilepas setelah lulus SLTA,” terangnya dalam keterangan pers kepada koranbernas.id, Senin (25/1/2021).

    Sularno menyampaikan, banyak panti yang memiliki lahan cukup untuk diberdayakan. Hal itu bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk membantu panti asuhan menambah sumber pemasukan, atau dengan mendirikan koperasi bahkan warung.

    “Namun perlu dipahami, pada prinsipnya kita bukan mempekerjakan anak-anak panti, melainkan mengajak anak-anak untuk mengenal pekerjaan agar mereka mampu mandiri tidak membebani diri sendiri serta masyarakat,” ujarnya.

    Tantangan berat menanti mahasiswa KKN untuk menerapkan programnya di 22 Panti Asuhan Muhammadiyah dan Aisyiyah di DIY. Sebab protokol kesehatan tidak boleh diabaikan. Hal ini untuk menghindari adanya klaster Covid-19 baru. “Jadi tolong teman-teman semua terapkan protokol kesehatan. Kalau di panti asuhan yang mahasiswa diami tidak memiliki tempat cuci tangan memadai, jangan sungkan untuk membuatkannya. Jangan lupa beri edukasi terkait pentingnya menjaga kesehatan di saat pandemi,” imbuh dosen pertanian di Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.

    Tak kalah pentingnya, stigma keliru tentang panti asuhan yang menjurus pada mendiskreditkan tempat mulia tersebut juga perlu diperhatikan oleh mahasiswa KKN.

    “Kadang kan misal ada anak bertiga memakai baju yang sama kemudian disebut dari panti asuhan tertentu. Hal tersebut cukup menyakitkan. Kita ini harus mencontoh KH Ahmad Dahlan, bahwa adanya panti asuhan justru untuk menolong kesengsaraan umum,” lanjutnya.

    Sularno menambahkan, melalui pemberdayaan ini, diharapkan bisa menjadikan panti asuhan sebagai mata air yang menghasilkan generasi cemerlang, bukan lagi panti asuhan sumber air mata.

    “Jika KKN ini sukses, maka UMY akan jadi percontohan PTM di seluruh Indonesia yang melaksanakan KKN di panti asuhan,” katanya. (*)

     

    Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (istimewa)


    TAGS: UMY  panti  asuhan  KKN 

    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini