Selasa, 18 Mei 2021,


perangi-stunting-hindari-empat-terlaluBKKBN menggelar kegiatan Sosialisasi, Advokasi dan KIE Program Bangga Kencana Bersama mitra kerja di Hotel Ros In, Jalan Ring Road Selatan, Senin (12/4/2021) siang. (sariyati wijaya/koranbernas.id)


Sariyati Wijaya
Perangi Stunting, Hindari Empat Terlalu

SHARE

KORANBERNS.ID, BANTUL--Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar kegiatan Sosialisasi, Advokasi dan KIE Program Bangga Kencana Bersama mitra kerja dengan tema “Peran Pemuda Dalam Percepatan Penanganan Stunting” di Hotel Ross In, Jalan Ring Road Selatan, Senin (12/4/2021) sore.


Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, Deputy Pengendalian Penduduk BKKBN Dr Dwi Listia Wardani, Ketua GP Ansor DIY Muhammad Syaifudin, Wakil Bupati Bantul Joko B Purnomo dan anggota Ansor. Kegiatan diisi dengan MoU antara GP Ansor dengan BKKBN dalam kaitan memerangi stunting serta penyerahan bantuan dari Bank BPD untuk keluarga penderita stunting.


Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau lebih pendek (kerdil) dari standar usianya.

Dwi Listia mengatakan ketika calon pengantin mengalami anemia atau kurang darah, maka berpotensi stunting. Sehingga generasi muda harus menyadari itu, dan jauh-jauh hari menyiapkan kondisinya agar saat menikah dan hamil, hingga melahirkan tidak stunting.


“Maka perlu adanya Generasi Berencana (Genre),”katanya.


Salah satu upayanya dengan tidak melakukan empat terlalu. Yakni terlalu muda menikah, terlalu dekat jarak kelahiran, jangan terlalu tua melahirkan dan jangan terlalu banyak.


“Jangan terlalu muda menikah, di dalam UU minimal 19 tahun naik dari UU sebelumnya 16 tahun. Kalau kami berharap usia hamil, menikah dan melahirkan pada 21 tahun. Dan mempersiapkan kehidupan berumah tangga. Juga jangan hamil dan melahirkan diatas 35 tahun. Jangan terlalu rapat, jarak minimal 3 tahun dan jangan terlalu banyak. Demi keselamatan ibu dan anak,”terangnya.

Usai penandatangan MoU, Muhammad Syaifudin mengatakan, angka stunting saat ini cukup besar. Untuk itu, perlu gerakan bersama dengan semangat kemanusiaan. Selain bencana fisik, adanya pendemi juga menyebabkan angka stunting naik karena ada penurunan ekonomi secara global, maka ada ancaman terhadap anak.

“Kita ingin mengawal semua kebijakan pemerintah daerah, kita akan berdiri sebagai pemerhati kemanusiaan dan mengawal hingga di arus bawah. Kader-kader Ansor akan kita rekomendasikan untuk menjadi relawam-relawan tertentu hingga tingkat desa sampai kecamatan,”katanya.

Adapun pola yang dilakukan adalah program ketahanan pangan, dan juga perlu ditambah subsidi vitamin bagi ibu hamil dan anak-anak.

“Kita ada tenaga pendamping desa. Dan kita akan up grade data, salah satunya yang jadi prioritas adalah Dlingo,” katanya.

Nanti juga akan diinput dari dua sumber yakni program dari masing-masing desa dengan program pemerintah. Nantinya mereka juga akan ada pelatihan relawan untuk penanganan stunting. Adapun aksi untuk penanganan stunting rencana setelah Idul fitri.

“Tidak perlu panjang, selesai lebaran kita mulai. Kita lihat tahun pertama untuk kemudian kita evaluasi. Dan angka target penurunan stunting adalah 14 persen sesuai target pemerintah, maka Ansor siap mendukung. Selain ada juga kolaborasi dengan program yang kita miliki,”katanya.

Wakil Bupati Bantul, Joko B Purnomo mengatakan kegiatan tersebut sangat bermanfaat dan diharapkan bisa menekan stunting di Kabupaten Bantul.

“Untuk membina dan membangun generasi yang akan datang perlu adanya pelibatan generasi muda. Saya yakin target menekan 14 persen bisa tercapai,” katanya.

Pemkab Bantul, lanjut Joko sangat serius dalam menangani stunting. Salah satunya dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) telah menyiapkan anggaran untuk diberikan kepada kalurahan dan anggaran itu basisnya pemberdayaan masyarakat tingkat pedukuhan. Dimana untuk Bantul ada 933 pedukuhan.

“Dianggarkan 46,6 miliar termasuk spesifik penanganan stunting dan gizi buruk, ibu hamil risiko tinggi maupun Balita. Hal itu diatur Perbup Nomor 20/2021 dan di sana juga diatur bagaimana dalam pertemuan di tingkat pedukuhan dengan melibatkan anak muda, ibu kader posyandu dan tokoh masyarakat,”katanya.

Hasto Wardoyo mengatakan faktor utama stunting bisa terjadi sejak awal kehamilan hingga 270 hari.Maka asupan gizi harus dipenuhi dalam periode itu . “Stunting itu mempengaruhi ke masa depan karena biasanya kecerdasan kurang dan sering sakit-sakitan,”katanya. (*)

 

 

 



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini