Penyewa Lahan Berharap Berkah Tol Jogja-Solo

Penyewa Lahan Berharap Berkah Tol Jogja-Solo

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Proses pengukuran dan pematokan lahan yang akan dibebaskan demi kepentingan proyek strategis nasional Jalan tol Jogja – Solo. Pengukuran dilakukan oleh satgas gabungan yang berasal dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan juga Satker Pelaksanan Jalan Bebas Hambatan Jogja – Solo.

Proses ini dimulai dari Dusun Jobonan Desa Bokoharjo Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman pada Senin (19/10/2020) kemarin. Lutfi Alfian Ananda warga Dusun Waras Desa Sariharjo Kecamatan Ngaglik ketika diwawancarai meminta agar pemerintah tidak hanya membayarkan ganti untung bagi pemilik tanah semata, namun juga memberikan kompensasi kepada pelaku usaha yang menyewa di lahan yang akan digusur untuk kepentingan jalan tol.

“Memang sudah ada semacam sosialisasi, tapi yang ikut pemilik tanahnya langsung. Kita sebagai penyewa hanya dikabari ada informasi kalau tempat ini juga terkena pembangunan tol. Sekitar 12 meter ke dalam dari depan jalan,” tutur pengelola Joko Tole Art & Antique.

Lutfi menerangkan, kompensasi bagi pelaku usaha penting artinya sebagai modal awal untuk memulai usaha di tempat yang baru. Terlebih lagi banyak pelaku usaha yang telah merintis usaha mereka belasan hingga puluhan tahun.

“Sederhananya begini, kita sudah 20 tahun di sini, merintis sampai sekarang punya banyak pelanggan. Nanti misal terkena dampak jalan tol kita harus pindah tempat, maka kita harus promosi lagi. Harapan kita, ganti rugi yang diberikan sepadan dengan pengorbanan kita selama ini. Kalau dapat (kompensasi) itu juga sebagai modal awal kita di tempat yang baru,” sebut Lutfi, Rabu (21/10/2020) siang.

Lutfi yang mengelola usaha jual beli mebel antik di bilangan Jalan Ringroad Utara menuturkan, dalam forum sosialisasi yang dilakukan pemerintah terkait pembangunan jalan tol, sempat terlontar wacana untuk memberikan kompensasi kepada penyewa lahan. Dirinya pun berharap wacana itu dapat terealisasi.

“Kalau kami dengar isunya, ketika saya berbicara dengan aparat dan juga warga yang ikut (sosialisasi), nanti penyewa juga mendapat uang ganti rugi. Tapi nanti dibayarkan langsung ke penyewa, tidak lewat pemilik lahan,” ujar dia.

Mengelola bisnis mebel antik lebih dari dua dekade memiliki tantangan tersendiri dalam membangun kepercayaan pelanggan. Lutfi pun berharap dapat mencari tempat pengganti yang cukup strategis apabila harus tergusur.

“Memulai dari awal lagi, terutama dengan alamat yang baru itu kan tidak gampang. Apalagi kalau nanti kita dapat di dalam, di sini kan strategis, di pinggir jalan,” ungkapnya.

Terpisah, Totok Wijayanto selaku pejabat pembuat komitmen pada Satker Pelaksana Jalan Bebas Hambatan Jogja – Solo menerangkan, pihaknya menargetkan pengukuran akan segera selesai sehingga bulan depan dana ganti untung dapat dicairkan. Namun, Totok menyatakan, pencairan menunggu daerah tercepat yang menyelesaikan proses pengukuran.

“Tahun ini, tahun ini kami harus bisa selesai (pencairan) itu. Tapi menunggu mana yang lebih cepat, di kawasan ini Kalasan, atau nanti di Karanganyar (Jawa Tengah). Pokoknya anggaran harus dicairkan tahun ini,” jelasnya.

Jalan Tol Jogja Solo diperkirakan menghabiskan dana mencapai Rp 26 triliun dan merupakan kelanjutan pembangunan interkoneksi jalan tol Trans Jawa yang ditargetkan selesai pada tahun 2024 mendatang. (*)