ODGJ Bisa Hidup Produktif, Baru Sebagian Kecil Memanfaatkan Fasilitas Kesehatan Jiwa

Tekanan ekonomi juga bisa menjadi faktor pemicu gangguan jiwa.

ODGJ Bisa Hidup Produktif, Baru Sebagian Kecil Memanfaatkan Fasilitas Kesehatan Jiwa
Ruang rawat inap pengidap schizophrenia di Rumah Sakit dr Soedirman Kebumen, seperti terlihat Kamis (9/10/2025). (nanang w hartono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, KEBUMEN – Sebenarnya, orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) termasuk pengidap schizophrenia bisa menjalani kehidupan normal dan produktif, asalkan memperoleh terapi di fasilitas kesehatan jiwa. Namun demikian, masih sebagian kecil ODGJ dan keluarganya memanfaatkan fasilitas tersebut.

"Di Hari Kesehatan Mental hari ini saya mengajak masyarakat untuk awareness terhadap orang di sekeliling kita,'" kata dr Nurmi Widyarti Sp KJ, psikiater Rumah Sakit dr Soedirman Kebumen kepada koranbernas.id, Jumat (10/10/2025).

Menurut Nurmi, tiga pemicu gangguan jiwa, biologis atau keturunan, psikologis dan sosial, bisa menjadi cara mengurangi keparahan gangguan jiwa.

“Seseorang dengan keturunan ada yang mengalami gangguan jiwa, tidak mesti mengalami gangguan jiwa yang sama, jika bisa mengelola stres dengan baik,” ungkapnya.

Jangan dipendam

Misalnya mengalami masalah, curahkan masalah itu kepada orang lain. Tekanan pikiran jangan dipendam, sehingga menumpuk di benak seseorang menjadi gangguan jiwa.

Menurut Nurmi, tekanan ekonomi juga bisa menjadi faktor pemicu gangguan jiwa. "Diperlukan awareness, kepedulian dan pemahaman dengan perilaku orang di sekitar kita," katanya.

Orang dengan gangguan jiwa memerlukan perhatian dari orang orang terdekat. Masalahnya adalah stigma yang kurang baik dari sebagian masyarakat membuat keluarga menyembunyikan penderita gangguan jiwa seperti schizophrenia. Kondisi ini seperti fenomena gunung es.

Seharusnya keluarga terdekat berempati dan memberi dukungan pengidap gangguan jiwa. Seperti menemani perawatan di fasilitas kesehatan jiwa. "Pengidap schizophrenia bisa menjalani hidup normal dan produktif, jika menjalani terapi dan support positif," tambah Nurmi.

Pasien pemuda

Stigma yang kurang baik terhadap ODGJ menjadi hambatan mereka sehingga tidak memanfaatkan fasilitas kesehatan jiwa. "Penderita schizophrenia bisa menjalani kehidupan normal dan produktif dengan minum obat seumur hidup,” kata Nurmi.

Di Bangsal Seroja sebagai bangsal rawat inap jiwa Rumah Sakit dr Soedirman Kebumen, koranbernas.id menemui seorang pemuda pasien rawat inap. Dia mengaku pusing ketika keinginannya memiliki sepeda motor belum terwujud.

Pemuda ini mengaku karyawan sebuah perusahaan beton di Bogor dengan upah Rp 5 juta lebih per bulan. Tidak bisa menabung, meskipun ada mes untuk karyawan.

Gaya hidup yang melampaui penghasilannya menjadikan kehidupannya berantakan. "Bapak kok tahu, saya malu," ujar pemuda itu saat koranbernas.id menyebutkan salah satu gaya hidup boros adalah berlibur di tempat karaoke.

Warna gelap

Di ruang perawatan pasien itu terlihat belum stabil. Pemuda ini sedang ditemani kakaknya. Anehnya dia merasa betah tinggal di ruangan dengan warna cat gelap. "Saya betah di sini," ujar pemuda yang akan kembali bekerja setelah dibolehkan pulang dari RSDS Kebumen.

Kepala Bidang Umum Komunikasi Publik BPJS Cabang Kebumen Andi Sulistiyanto menjelaskan di Kabupaten Kebumen rumah sakit yang melayani rawat inap jiwa yaitu Rumah Sakit dr Soedirman Kebumen, Rumah Sakit Prembun dan RSU PKU Muhammadiyah Gombong.

Sedangkan rumah sakit yang memiliki poli jiwa/rawat jalan selain ketiga rumah sakit rawat inap adalah Rumah Sakit Palang Biru Gombong.

Jumlah kunjungan rawat inap tahun 2025 hingga September ada 813, sedangkan rawat jalan 12.115. Total biaya terverifikasi rawat inap mencapai Rp 3,65 miliar, rawat jalan Rp 2,36 miliar. (*)