Mengubah Hutan Bakau Jadi Ladang Cuan: Inovasi Mahasiswa UNS Sulap Mangrove Jadi Teh hingga Sabun

Selama ini, masyarakat hanya mengenal mangrove sebagai penjaga garis pantai, benteng alami yang melindungi daratan dari ombak dan abrasi. Namun, siapa sangka, di tangan kreatif sekelompok mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), pohon pesisir ini bertransformasi menjadi aneka produk bernilai ekonomi tinggi, mulai dari teh hingga sabun

Mengubah Hutan Bakau Jadi Ladang Cuan: Inovasi Mahasiswa UNS Sulap Mangrove Jadi Teh hingga Sabun
Mahasiswa KKN UNS bersama warga pesisir selatan Kabupaten Cilacap belajar memanfaatkan daun dan buah mangrove untuk aneka produk bernilai ekonomi. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, SURAKARTA--Selama ini, masyarakat hanya mengenal mangrove sebagai penjaga garis pantai, benteng alami yang melindungi daratan dari ombak dan abrasi. Namun, siapa sangka, di tangan kreatif sekelompok mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), pohon pesisir ini bertransformasi menjadi aneka produk bernilai ekonomi tinggi, mulai dari teh hingga sabun.

Transformasi ini menjadi fokus utama dalam sebuah program sosialisasi yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNS Kelompok 37.

Bertempat di TPI RW 05, Kelurahan Karangtalun, Cilacap Utara, acara yang berlangsung pada Jumat, 15 Agustus 2025, ini berhasil menarik perhatian puluhan warga setempat.

Lebih dari Sekadar Pohon Pelindung

Pagi itu, suasana TPI tampak hidup. Sebanyak 30 warga terdiri dari perempuan dan laki-laki berkumpul dengan antusias. Mereka duduk rapi, menyimak setiap penjelasan yang diberikan oleh para mahasiswa. Fokus utama kegiatan ini adalah memperkenalkan cara-cara baru dalam memanfaatkan buah dan daun mangrove yang melimpah di wilayah mereka.

Dari salah satu meja demonstrasi, aroma harum menyeruak, menarik perhatian para peserta. Kinanti Prameswari Tungga Dewi, salah satu anggota tim KKN, tengah menyeduh teh yang terbuat dari daun mangrove. 

“Awalnya saya kira hanya tanaman pesisir, ternyata bisa diminum juga,” ucap seorang ibu, terkejut sekaligus penasaran, sambil menyeruput secangkir teh hasil olahan Kinanti.

Dari Dapur hingga Produk Rumah Tangga

Tak hanya teh. Mahasiswa KKN UNS ini juga mendemonstrasikan beragam inovasi lain. Dyna Nurhauna Nisa' memperagakan cara membuat sabun cair dari ekstrak buah mangrove, yang memiliki kandungan antibakteri alami. Kemudian, Dimas Bonar Cahyo Wahyuono memperkenalkan antisida (pengusir semut) dan semprotan anti nyamuk yang seluruhnya berbahan dasar mangrove.

Warga yang hadir terlihat sangat tertarik. Beberapa dari mereka langsung mempraktikkan proses yang diajarkan, sementara yang lain sibuk merekam setiap langkah dengan ponsel mereka. Antusiasme ini bukan tanpa alasan. Program ini tidak hanya memberikan keterampilan baru, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang menjanjikan.

“Kalau bisa dikembangkan, produk ini bisa dijual. Lumayan untuk tambahan penghasilan,” komentar salah satu peserta pria, seraya mengamati sabun cair buatan tangannya.

Harapan Baru

Inisiatif mahasiswa UNS ini berhasil mengubah pandangan masyarakat. Mangrove yang tadinya hanya dianggap sebagai vegetasi pesisir biasa, kini memiliki potensi besar sebagai sumber ekonomi kreatif.

​“Kami ingin masyarakat melihat mangrove bukan hanya sebagai pelindung pantai, tetapi juga sebagai peluang usaha yang bisa dikembangkan secara mandiri,” ujar Dyna, mewakili tim KKN.

​Program ini membuktikan bahwa kreativitas dan inovasi dapat mengubah sesuatu yang sederhana menjadi produk yang bernilai. Dengan sentuhan ilmu pengetahuan, mahasiswa UNS tidak hanya mengedukasi masyarakat, tetapi juga menumbuhkan harapan baru untuk masa depan ekonomi yang lebih baik bagi warga pesisir. (*)