Selasa, 07 Des 2021,


memahami-puisi-tidak-perlu-berkerut-keningDedet Setiadi. (istimewa)


Arie Giyarto
Memahami Puisi Tidak Perlu Berkerut Kening
Peluncuran Buku Puisi Apokalipsa Kata Tandai Sepuluh Tahun Sastra Bulan Purnama
SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Oktober 2021, Sastra Bulan Purnama genap berumur sepuluh tahun.  Menandai itu, diselenggarakan peluncuran buku puisi berjudul Apokalipsa Kata karya Dedet Setiadi, penyair dari Magelang.


Acara tersebut dijadwalkan digelar Sabtu (16/10/2021) pukul 13:00 – 15:00 di Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis 8,5 Timbulharjo Sewon Bantul.


Karena masih dalam situasi pandemi, peserta dibatasi 30 orang dan harus mendaftar. Sampai berita ini ditulis kuota peserta terpenuhi dan tidak bisa ditambah lagi. Semua  peserta diwajibkan taat prokes, dan tidak mengajak teman sehingga tidak memungkinkan menambah peserta.

Puisi-puisi karya Dedet Setiadi akan dibacakan oleh Sashmyta Wulandari dan Tosa Santosa. Selain itu, akan dialunkan lagu puisi oleh Joshua Igho, penyair dari Magelang. Bahkan di sepanjang acara, Joshua Igho akan memainkan piano untuk memberi ilustrasi musik.


“Saya akan memainkan musik dari awal sampai akhir acara, agar perayaan 10 tahun SBP yang diisi peluncuran buku puisi karya Dedet Setiadi memiliki nuansa musical,” kata Joshua.

Buku puisi setebal 100-an halaman diterbitkan penerbit Tri BEE dari Magelang ini bertindak sebagai kurator adalah Wicahyanti Rejeki, seorang penyair yang juga tinggal di Magelang.

Wicahyanti, sudah cukup lama meminta Dedet menerbitkan puisi-puisi karyanya. Namun karena kesibukan Dedet, sulit memilih puisi-puisinya, sehingga sepenuhnya Wicahyanti yang menyeleksi berdasarkan yang sudah tersebar di berbagai media.

“Membaca puisi-puisi Dedet Setiadi yang jujur (tidak mengada-ada di balik kerumitan jungkir balik diksi) kita akan menemukan nilai kehidupan yang kadang luput dari  pengamatan,” ujar Wicahyanti.

Selain dibacakan, puisi Dedet akan dibincangkan oleh dua orang penulis, Joko Pinurbo, penyair Yogya dan Joni Ariadinata, cerpenis Yogya. Keduanya akan berkelakar dengan puisi Dedet.

Bincang puisi oleh kedua penulis tersebut dilakukan sambil berkelakar, sehingga tidak perlu berkerut kening, tetapi tetap serius dalam membahas puisi.

Ons Untoro selaku Koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, 10 tahun Sastra Bulan Purnama akan diisi dengan beberapa kegiatan, di antaranya penerbitan buku puisi yang diberi judul 121 Purnama yang menyajikan puisi karya 81 penyair dari berbagai kota di Indonesia.

Buku tersebut akan diluncurkan melalui zoom dan waktunya berbeda dengan peluncuran buku puisi Apokalipsa Kata karya Dedet Setiadi.

“Penyair yang puisinya masuk buku puisi 121 Purnama akan membacakan puisi karyanya sendiri dan ditayang secara live melalui youtube” ujar Ons Untoro.

Dedet Setiadi merupakan penyair yang tinggal di Dusun Ngluwar Pakunden Magelang, sudah sejak tahun 1980-an menulis puisi. Penyair alumni UNS Solo ini, puisi-puisinya dimuat di berbagai media.

Tahun 1987 dia mengikuti Puisi Indonesia 1987 di TIM Jakarta. Dua buku puisi tunggal karyanya adalah Gembok Sangkala (Forum Sastra Surakarta (2012) dan Pengakuan Adam di Bukit Huka (Teras Budaya Jakarta, 2015). Selain itu puisi-puisinya ada di dalam sejumlah antologi bersama. (*)


TAGS: Sastra  puisi 

SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini