Lonjakan Penumpang KA Bandara Menggerakkan Ekonomi
Di Yogyakarta, akses kereta menuju Yogyakarta International Airport (YIA) memperkuat daya tarik destinasi wisata.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Pertumbuhan penggunaan Kereta Api Bandara dengan skema Public Service Obligation (PSO) sepanjang 2025 tak hanya mencerminkan peningkatan mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi sinyal menguatnya konektivitas dan menggerakkan denyut ekonomi di wilayah layanan.
Direktur Utama PT Railink, Porwanto Handry Nugroho, Rabu (11/2/2026), menilai peningkatan ini tidak terlepas dari peran pemerintah dalam menjaga keterjangkauan tarif melalui skema PSO.
“Pertumbuhan ini menunjukkan transportasi publik yang terjangkau dan terintegrasi semakin dipercaya masyarakat. KA Bandara PSO hadir sebagai solusi mobilitas yang tepat waktu, nyaman dan ekonomis,” ujarnya.
Sepanjang 2025, jumlah penumpang KA Bandara PSO tercatat mencapai 5,4 juta orang, naik dari 4,6 juta penumpang pada 2024 atau tumbuh 16,9 persen secara tahunan (year on year). Angka ini menunjukkan bahwa layanan transportasi publik berbasis rel semakin menjadi pilihan utama masyarakat menuju dan dari bandara.
Penumpang meningkat
Secara rinci, pada 2024 volume penumpang KA YIA PSO tercatat sebanyak 1,7 juta penumpang dan KA Srilelawangsa PSO sebanyak 2,8 juta penumpang. Pada 2025, KA YIA PSO melayani 1,8 juta penumpang atau meningkat 3,08 persen.
Sementara KA Srilelawangsa PSO mencatat pertumbuhan paling signifikan, yakni mencapai 3,6 juta penumpang atau melonjak 25,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, keberadaan KA Bandara PSO memberi dampak lebih luas daripada sekadar mengangkut penumpang. Konektivitas yang baik menuju bandara mempercepat pergerakan orang dan barang, yang pada akhirnya turut menggerakkan sektor pariwisata, UMKM, hingga jasa transportasi penunjang.
Di Yogyakarta, akses kereta menuju Yogyakarta International Airport (YIA) memperkuat daya tarik destinasi wisata dan mempermudah wisatawan menjangkau pusat kota maupun daerah penyangga.
Semakin efisien
Sementara di Sumatera Utara, layanan KA Srilelawangsa PSO menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat dari dan menuju Kualanamu International Airport.
Konektivitas dengan kereta api jarak jauh dan moda transportasi lanjutan membuat perjalanan masyarakat semakin efisien dan minim hambatan. Model transportasi terintegrasi ini dinilai penting dalam membangun sistem mobilitas yang berkelanjutan di kawasan perkotaan maupun aglomerasi.
“Ke depan, kami akan terus meningkatkan kualitas layanan serta memperkuat konektivitas antar moda transportasi. Tujuannya bukan hanya meningkatkan jumlah penumpang, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah dan seluruh pemangku kepentingan,” kata Porwanto.
PT Railink atau KAI Bandara merupakan anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia dan Angkasa Pura Indonesia yang menyediakan layanan angkutan penumpang dari pusat kota ke bandar udara melalui jalur perkeretaapian. Layanan ini pertama kali beroperasi pada 2013 untuk rute Medan–Kualanamu, disusul KA Bandara Soekarno-Hatta pada 2018, serta pengoperasian KA Bandara YIA sejak April 2022.
Lebih optimal
Seiring penguatan fokus bisnis, sejak Januari 2023 pengoperasian KA Bandara Soekarno-Hatta dialihkan ke PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), sehingga KAI Bandara dapat lebih optimal mengembangkan layanan di Medan dan Yogyakarta.
Menurut Porwanto, selain layanan penumpang, PT Railink juga mengembangkan lini bisnis MOSS (Maintenance, Operations, Spare Parts and Services) sejak 2021, yang berfokus pada pemeliharaan sarana dan penyediaan suku cadang untuk mendukung operasional perkeretaapian di lingkungan KAI Group.
Dengan tren pertumbuhan yang stabil dan dukungan kebijakan subsidi pemerintah, KA Bandara PSO diproyeksikan terus memainkan peran strategis dalam membangun ekosistem transportasi publik yang inklusif, terjangkau, dan berdampak luas bagi perekonomian daerah. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
