Inilah Jejak Tradisi Hidup Sehat Bangsa Indonesia
KORANBERNAS.ID, JOGJA -- Sebagai bentuk kepedulian terkait pandemik Covid-19 di berbagai belahan dunia, khususnya Indonesia, Museum Sonobudoyo menggelar pameran di Gedung Pameran Temporer eks Koni JaIan Pangurakan No. 6 Yogyakarta. Pameran bertajuk "Nanti Kita Cerita Tentang Sehat Hari Ini" bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan DIY, RSUP Sardjito, dan Polda DIY.
Pameran yang berlangsung tanggal 16-24 Maret 2020 ini mengangkat tema kesehatan dan kehidupan sehari hari dalam lingkup kebudayaan Jawa dengan menampilkan koleksi perspektif masa lalu. Dari berbagai benda koleksi dan narasi, ditampilkan bagaimana masyarakat Jawa jaman dahulu menjaga kesehatan dan menyikapi terjadinya wabah penyakit dengan pengobatan tradisional.
Disebutkan dalam sebuah tulisan pameran yang dicetak cukup besar, bahwa dunia pernah dilanda Pandemik Influenza seabad silam, yaitu pada 1918. Pandemik ini diperkirakan mengkontaminasi 60% penduduk bumi saat itu, dan menewaskan lebih dari 25 juta jiwa.
Selain narasi-narasi yang diletakkan di ketiga sisi dinding ruang pameran temporer, juga diperlihatkan beberapa benda yang berhubungan dengan tradisi hidup sehat nusantara yang memang telah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia.
Pipisan dan Gandhik, misalnya, benda yang terbuat dari batu koleksi Museum Sonobudoyo ini adalah hibah dari Java Institut pada 1935. Pipisan dan Gandhik merupakan alat yang digunakan untuk menggiling bahan jamu pada masa itu. Rempah serta bahan-bahan jamu yang telah digiling kemudian diperas untuk diambil sarinya.
Ada juga Bothekan dan Kotak Obat yang merupakan wadah jamu dalam bentuk serbuk maupun empon-empon. Pada masanya, pemberian ramuan kepada si sakit menggunakan hitungan weton (tanggal lahir dalam hitungan kalender Jawa-red).
Kepala DInas Kebudayaan, Aris Eko Nugroho, mengaku tidak butuh lama untuk memilih koleksi yang akan dipamerkan. Hal ini dilakukan karena peristiwa pandemik Corona Virus Desease 19 (Covid-19) sangat cepat menjadi ramai dibicarakan. Meski demikian semua koleksi ini tetap bisa disajikan kepada masyarakat dalam ruang pamer.
Sekarang ini, lanjut Aris, Covid-19 menjadi pembicaraan antara Dinas Kebudayaan, Pemda, RSUP Sardjito, Dinas Kesehatan dan Kepolisian untuk menyampaikan kepada masyarakat. "Harapan kami agar masyarakat mengetahui bahwa ada sisi positif yang harus mereka tahu, tidak hanya isu negatifnya saja, tapi kami berharap sisi positifnya juga merupakan bagian yang dibicarakan," paparnya saat ditemui di sela-sela pembukaan pameran, Senin (16/3/2020).
Menanggapi banyaknya event yang ditunda bahkan dibatalkan karena pandemik Covid-19 ini, Aris menyatakan pihaknya akan sangat hati-hati dalam mengambil keputusan. Dalam hal ini pihaknya tetap melihat kondisi riel yang ada di masyarakat, apakah hingga saat ini event budaya masih dilakukan atau tidak.
"Jika masih diselenggarakan oleh masyarakat, tidak serta merta kami minta untuk meniadakan. Kami lihat dulu. Tapi yang jelas dalam melakukan kebijakan, kami dalam satu komando pemerintah daerah," tegasnya.
"Pemda telah meminta kepada kita untuk berhati-hati, maka itu yang akan dilakukan. Salah satunya adalah kami melakukan protokol kesehatan yang sesuai. Hal ini menjadi bagian penting yang harus ada, misal menyediakan hand sanitizer dan masker pada setiap penyelenggaraan event," lanjutnya.
"Salah satu akan kami coba yaitu checking suhu pada pengunjung yang datang pada satu acara. Tapi saat ini sedang kami siapkan, karena ternyata untuk mendapatkan alat ini harus inden untuk waktu yang lama. Secara prinsip, protokol kesehatan akan disiapkan dalam setiap layanan yang akan kami selenggarakan," tandasnya.
Selain pameran, Museum Sonobudoyo juga mengadakan kegiatan Diskusi Kesehatan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Polda DIY. Dinas Kesehatan memberi sosialisasi mengenai Covid-19 serta kampanye perilaku hidup bersih dan sehat. Termasuk gejala, penularan, pengobatan, pencegahan, kebijakan dan instruksi pemerintah, RS Rujukan, serta Hotline Information Covid-19.
Sementara Polda DIY juga melakukan sosialisasi terkait kesiapan pengamanan, penanganan hoax, maupun tindaklanjut kegiatan oknum yang menimbun masker dengan tujuan meninimalisir kepanikan dari masyarakat.
Dengan diselenggarakannya pameran ini, masyarakat dapat lebih teredukasi dalam menyikapi pandemi Covid-19. Kemajuan teknologi kesehatan dan gaya hidup sehat dapat menjadi sarana pencegahan persebaran penyakit. (eru)