Hidupkan Kembali Mahakarya Klasik, Pameran “Batikku 3 Negeri” Angkat Batik Jadi Karya Seni Adibusana

Batik Tiga Negeri dikenal sebagai salah satu karya batik kuno paling istimewa. Teknik pembatikan yang unik dan proses produksi yang memakan waktu lama, menjadikannya mahakarya bernilai tinggi

Hidupkan Kembali Mahakarya Klasik, Pameran “Batikku 3 Negeri” Angkat Batik Jadi Karya Seni Adibusana
Gedung PDIN akan menjadi lokasi pameran Batik Tiga Negeri dan peluncuran buku "Batikku 3 Negeri Afif Syakur". (warjono/koranbernas.id)

​KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Maestro batik dan perancang busana kenamaan Yogyakarta, Afif Syakur, siap memukau publik dengan gelaran akbar Pameran Batik dan Peluncuran Buku “Batikku 3 Negeri Afif Syakur”. Acara ini bukan sekadar pajangan, melainkan sebuah misi artistik untuk mengangkat kembali derajat Batik Tiga Negeri—sebuah mahakarya kuno yang sarat makna dan teknik—dari komoditas dagang menjadi apresiasi seni rupa bernilai tinggi.

​Digelar di Gedung PDIN (Pusat Desain Industri Nasional) Yogyakarta, pameran ini menjadi penanda pencapaian penting bagi Afif Syakur dalam upaya melestarikan dan merevitalisasi warisan budaya.

Melampaui Masa Lalu, Mencipta Masa Depan Batik

​Batik Tiga Negeri dikenal sebagai salah satu karya batik kuno paling istimewa. Teknik pembatikan yang unik dan proses produksi yang memakan waktu lama, menjadikannya mahakarya bernilai tinggi. Melalui pameran ini, Afif Syakur ingin menghidupkan kembali teknik dan filosofi para pembatik pendahulu, lantas mengkolaborasikannya dengan konsep dan metode masa kini.

“Batik Tiga Negeri perlu digali, dipelajari, dan dikembangkan, sehingga dapat dinikmati lagi oleh masyarakat luas,” ujar Afif Syakur pada awak media di Gedung PDIN, Jumat 28/11/2025).

​Puluhan Karya Batik

Afif Syakur, akan memamerkan sekitar 25 lembar hasil karya batik yang diciptakannya dengan teknik pembatikan Tiga Negeri. Karya ini adalah penjelmaan visinya: batik tidak hanya tentang masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa yang akan datang.

​Afif Syakur menegaskan bahwa pameran ini adalah upaya untuk berbagi pencapaian kepada masyarakat dan sesama pembatik. Ia mendorong untuk eksplorasi konsep para pendahulu dan elaborasi dengan ide kekinian untuk menciptakan karya-karya baru.

​​Melalui karya-karyanya, Afif Syakur memiliki harapan besar agar batik dapat “naik kelas”. Ia ingin masyarakat melihat batik bukan hanya selembar kain kerajinan tangan atau komoditas dagang, melainkan sebagai sebuah karya seni yang layak diapresiasi di kancah seni rupa yang lebih luas.

“Saya ingin mengajak masyarakat melihat batik dari kacamata seni. Sudah semestinya karya batik dapat turut mewarnai perkembangan seni rupa Tanah Air,” harap Afif Syakur.

​Ini adalah ajakan bagi semua pihak, termasuk penggemar seni, untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap kekayaan karya para leluhur.

​​​Acara ini mendapat dukungan penuh dari kolaborator penting, termasuk Drs. Tri Karyadi Riyanto Raharjo, S.H M.Si (Kepala Dinas Perindustrian Koperasi UKM Kota Yogyakarta), Nurzaidi, ST (Kepala UPT Logam), dan Eko Cahyo Saputro, HDII (Direktur ECSA Studio).

​Eko Cahyo menuturkan, pameran “Batikku 3 Negeri Afif Syakur” akan dibuka secara resmi pada 2 Desember 2025. Pameran ini terbuka untuk umum mulai 3 hingga 7 Desember 2025, pukul 09.00 - 16.00 WIB. Pada hari terakhir akan diselenggarakan juga bedah buku. Pameran akan berlangsung di Gedung PDIN (Pusat Desain Industri Nasional), Jl. C. Simanjuntak, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta. (*)