Harga Kedelai Impor Naik, Serapan Industri Tahu Tempe di Kebumen Masih Stabil
Kenaikan harga kedelai impor, belum mempengaruhi permintaan atau serapan kedelai dari perajin tempa dan tahu di Kebumen.
KORANBERNAS.ID, KEBUMEN--Kenaikan harga kedelai impor untuk bahan baku industri tahu dan tempe di Kebumen, belum mempengaruhi permintaan atau serapan kedelai di Primer Koperasi Tahu Tempe (Primkopti) Kebumen.
Ketua Primkopti Kebumen Sulmanudin kepada koranbernas.id menjelaskan, sebelum dan sesudah menurunnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, permintaan kedelai impor untuk industri tahu dan tempe relatif stabil. Pembelian oleh produsen tahu dan tempa, rata-rata 50 - 60 ton per bulan.
“Sekarang harga kedelai impor di Primkopti Kebumen Rp 10.700 per kilogram,” kata Sulmanudin.
Perajin membayar Rp 100 - Rp 200 lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual. Kelebihan pembayaran itu sebagai titipan uang perajin ke Primkopti. Titipan itu dikembalikan pada menjelang Lebaran.
Sulmanudin menambahkan, volume penjualan kedelai impor di Primkopti Kebumen untuk keperluan 100 perajin di 10 Tempat Pelayanan Koperasi (TPK) yang tersebar di 10 kecamatan/ sentra industri tahu dan tempe.
“Sampai hari ini industri tahu dan tempe anggota Primkopti Kebumen belum mengurangi produksi,” kata Sulmanudin.
Primkopti Kebumen tidak melakukan pembelian kedelai dalam jumlah besar dari importir. Pembelian setiap DO (delivery order) hanya 10 ton. Kebijakan ini dilakukan dengan memperhitungkan kebutuhan perajin, sehingga stok di gudang Primkopti dan TPK tidak sampai kosong.
Kenaikan harga kedelai impor, oleh perajin tahu dan tempe di Kebumen umumnya disiasati dengan memperkecil ukuran tahu atau tempe, atau menaikkan harga jual. (*)
Nanang W Hartono
