Pelita Kebenaran

Oleh: Sudjito Atmoredjo

Negeri ini seolah tak ada siang, kecuali malam gelap-gulita terus. Realitas sosiologis-empiris menunjukkan sedemikian banyak orang tersesat di jalan, berdusta, dan korupsi dalam semua urusan. Kegelapan telah menyelimuti hati, mata, pandangan, wawasan, hingga sesat arah-tujuan kehidupan. Kebenaran dikatakan sebagai kesalahan. Kesalahan diklaim sebagai kebenaran. Banyak orang pinter tetapi keblinger.

Pelita Kebenaran
Sudjito Atmoredjo. (istimewa).

MATAHARI pagi telah beranjak. Datanglah siang hari. Berlanjut menjadi malam. Entah siang atau malam, tampak jelas bahwa kasus korupsi di negeri ini semakin gila (menjadi-jadi).

Korupsi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), hanya sekadar puncak gunung es. Tanpa menyebutkan kasus-kasus korupsi lainnya, dapat diyakini, banyak pihak (orang, keluarga, teman, instansi, lembaga, pejabat, dll.) terlibat di dalamnya.

Apakah korupsi itu perilaku yang benar? Jawab: Salah. Mengapa dilakukan? Faktor internal dan eksternal bergayut, berkelindan, dan berbaur, menjadi alasannya. Entah karena kesengajaan, ataukah karena kelalaian, banyak orang terjebak pada kuasa dunia dan materi. Uang dijadikan barang berharga, diburu setiap hari. Tak peduli dengan cara korupsi. 

Beragam pendapat, komentar, dan analisis pun menyertai maraknya fenomena ini. Sedemikian gemes, ada saran agar koruptor disapu habis (dihukum mati). Pendapat lain, cukuplah mereka dimaafkan, asalkan uangnya dikembalikan ke negara. Ragam pendapat mana pun, mesti diingat, bahwa bibit-bibit korupsi terlanjur tersemai pada jiwa anak-anak bangsa karena salah asuhan. Salah diasuh oleh sistem pendidikan (orang tua, masyarakat, dan sekolah), sehingga tumbuh-berkembang menjadi manusia bernafsu serakah (ingin cepat kaya). 

Dalam perspektif moralitas-religius, orang akan memanfaatkan waktu/usia/umur, untuk memaksimalkan amal kebajikannya, dan sekaligus menjaga diri, tidak terbenam dalam kegelapan/kejahatan. Terakumulasinya amal kebajikan merupakan modal kebahagiaan, ketenteraman, dan kenyamanan hidup. Sebaliknya, setitik noda, setetes dosa, selangkah kesesatan, merupakan penderitaan, kenestapaan, dan kehinaan.

Negeri ini seolah tak ada siang, kecuali malam gelap-gulita terus. Realitas sosiologis-empiris menunjukkan sedemikian banyak orang tersesat di jalan, berdusta, dan korupsi dalam semua urusan. Kegelapan telah menyelimuti hati, mata, pandangan, wawasan, hingga sesat arah-tujuan kehidupan. Kebenaran dikatakan sebagai kesalahan. Kesalahan diklaim sebagai kebenaran. Banyak orang pinter tetapi keblinger.

Kapanpun, ketika kehidupan berada dalam kegelapan, relevan untuk diperbincangkan perihal pelita kebenaran. Pada objek kajian ini, segala hal bisa/boleh didiskusikan dan dianalisis, sehingga jelas sangkan-paraning dumadi – dari mana dan mau ke mana: sumber, motivasi, arah, petunjuk, hingga tujuan kehidupan. Kebenaran dijadikan ukuran, nilai spiritual, dan ancangan melangkah demi terwujudnya kehidupan "baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur".

Pelita kebenaran, dalam arti fisis-materiil maupun simbolik, bersumber pada Ilahi Rabbi. Pelita kebenaran sebagai karunia Tuhan diberikan kepada hamba-hamba-Nya, agar peri kehidupannya senantiasa semangat, teguh, kokoh, konsisten pada kebenaran. Bila konsistensi demikian terjaga, dijamin arah kehidupan pasti lurus, tertuju pada ridha Allah Swt. Ujungnya diperoleh kebahagiaan dunia-akhirat.

Pelita kebenaran merupakan penerang manusia masuk ke rumah kebahagiaan. Ada tiga tingkatan kebahagiaan, yakni: (1) Kebahagiaan terendah, ketika keinginan/hasrat/nafsu duniawinya terpenuhi. Misal: ingin jabatan, gaji besar, populer. Tercapai. Bahagialah dia. Tapi itu bersifat relatif dan sebentar. (2) Kebahagiaan ketika merasa berkecukupan. Sederhana. Sedikit tapi berkah. (3) Kebahagiaan tertinggi, ketika merasa berada di alam transendental. Bukan lagi mencari, tetapi ingin berbakti secara total kepada Ilahi Rabbi.

Koruptor, dan manusia umumnya, banyak berada pada kebahagiaan tingkat dasar. Hidup dan kehidupannya berjalan mundur dan menurun. Faktor eksternal - utamanya kehidupan hedonistik, sekuler, dan materialistik - amat berpengaruh. Faktor internal, karena pelita kebenaran sejati/hakiki, jauh dari jangkauan. Kalau lihat duwit, matanya ijo. Asyik rapat, diskusi, atau bisnis, daripada bersegera shalat ketika sudah terdengar adzan. Anehnya, orang-orang macam ini merasa paling benar.

Kepada siapa pun, kiranya layak diingatkan pengajaran Ibnu Sina perihal kebenaran. Dikatakannya, ada tiga jenis kebenaran, yaitu: (1) kebenaran agama/religius, (2) kebenaran rasional/filosofis, dan (3) kebenaran sosiolos/empiris.

Pada orang modern, kaum sekuler, dan pengikut rasionalisme, keberadaan akal/logika/rasio, menjadi titik-tolak aktivitas bernalar/berpikir. Kebenaran atas segala fenomena kehidupan, diverifikasi pada akal/logika/rasio. Fenomena supra-rasional dan irasional, dinyatakan bukan kebenaran karena tidak bisa diverifikasi oleh/terhadap akal/logika/ratio. Akal/logika/rasio diposisikan amat tinggi, di atas segalanya (ratio above else). Manusia hebat adalah manusia ber-IQ tinggi. Manusia ini sering diposisikan sebagai pemimpin. Bahkan sebagai pelita kebenaran.

Realitas sosiologis-empiris menunjukkan, tidak sedikit orang ber-IQ tiggi, tetapi hampa perasaan, hampa empati, hampa kemampuan berolah hati-nurani. Boleh jadi, dia menjadi pemimpin/tokoh karena rasionalitas dan elektabilitas. Dia menang/unggul atas lawan-lawannya. Akan tetapi, ketika dalam kepemimpinannya sarat dengan kedustaan, omon-omon, dibenci oleh rakyat, hampa simpati dan empati, anti-kritik, maka lenyaplah  legitimasi baginya.

Mestinya, pemimpin itu menjadi pelita kebenaran. Kalifatullah. Syayiddin panatagama. Segala pemikiran, sikap, dan perilakunya, benar secara hakiki. Riuh di pengadilan, ketika koruptor bernyanyi bahwa apa yang dilakukan karena pesanan atasan, tekanan lembaga lain, atau permintaan mitra, merupakan indikasi ketiadaan/kelangkaan pelita kebenaran di negeri ini. Sesungguhnya, pelita kebenaran sejati/hakiki selalu hadir dalam kehidupan kita. Sayang, kehadiran-Nya dilecehkan, dan dilupakan, serta-merta pelita kebenaran dikultuskan/dilekatkan pada orang-orang tertentu saja. Wallahu’alam.

Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.

Guru Besar pada Sekolah Pascasarjana UGM