Dompet Dhuafa Yogyakarta Pacu Ekonomi Industri Batik di Gunungkidul
MI Muhammadiyah Pengkol, Nglipar menciptakan batik khas sekolah dengan corak daun jati dan ulat jati. Filosofi ini diambil dari lingkungan sekitar sekolah yang banyak ditumbuhi pohon jati.
KORANBERNAS.ID, GUNUNGKIDUL -- Memasuki usia yang ke-32 tahun, Dompet Dhuafa terus berkomitmen melakukan inovasi untuk menjawab tantangan zaman. Di tengah kondisi ekonomi nasional yang sedang menghadapi tantangan besar, di mana jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) semakin meningkat, lapangan kerja berkurang dan angka kemiskinan kian bertambah, Dompet Dhuafa mengambil peran strategis melalui program-program pemberdayaan.
Salah satunya diwujudkan melalui Program Sidomukti, yaitu program pendidikan yang memiliki dua value utama. Pertama, sebagai sarana edukasi untuk menjaga dan melestarikan batik sebagai warisan budaya bangsa. Kedua, membekali keterampilan membatik yang memiliki nilai jual sebagai upaya membangun kewirausahaan baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar.
Salah satu sekolah binaan Program Sidomukti adalah MI Muhammadiyah Pengkol, Nglipar Gunungkidul. Murni selaku Kepala Sekolah saat ditemui (4/7/2025) menyampaikan rasa syukurnya atas pelaksanaan program tersebut.
Praktik pembuatan batik di MI Muhammadiyah Pengkol Gunungkidul. (istimewa)
Sebelumnya, sekolah memiliki mata pelajaran muatan lokal membatik, namun karena keterbatasan perlengkapan dan pengetahuan dasar, mata Pelajaran itu tidak berjalan. Kini, dengan adanya Program Sidomukti, para guru sudah memiliki keterampilan dan mampu membatik mulai dari proses produksi hingga pewarnaan.
Murni menambahkan membatik bukan hanya sekadar melukis kain, tetapi juga melahirkan karya seni dengan makna mendalam. Setiap coretan kuas memiliki arti tersendiri yang tidak bisa dipungkiri.
MI Muhammadiyah Pengkol, Nglipar menciptakan batik khas sekolah dengan corak daun jati dan ulat jati. Filosofi ini diambil dari lingkungan sekitar sekolah yang banyak ditumbuhi pohon jati. Ketika musim kemarau, daun-daun jati akan berguguran, sementara saat musim hujan tiba, daun akan bersemi dan muncul kehidupan baru, termasuk ulat jati yang bermetamorfosis di pohon jati. Proses tersebut mengajarkan rasa syukur atas setiap tahapan kehidupan dan nikmat diberikan Allah SWT.
"Kami sangat bersyukur dengan adanya Program Sidomukti ini. Melalui pelatihan yang diberikan, kami para guru akhirnya bisa belajar membatik dari dasar hingga pewarnaan. Kami juga diajarkan bagaimana mengembangkan batik menjadi produk bernilai jual. Harapan kami, batik khas sekolah ini dapat menjadi kebanggaan sekaligus memberikan manfaat ekonomi untuk meningkatkan fasilitas dan kualitas pendidikan di MI Muhammadiyah Pengkol," ujar Murni.
Branding sekolah
Dengan kemampuan tersebut, pihak sekolah mulai menyiapkan produksi batik sekolah secara mandiri. Untuk membuka pasar, MI Muhammadiyah Pengkol akan mengadakan expo dan fashion show karya batik sekolah, sebagai langkah awal memperkenalkan hasil karya mereka kepada masyarakat luas sekaligus menguatkan branding sekolah sebagai pusat edukasi dan produksi batik.
Pada usianya ke-32, Dompet Dhuafa terus berikhtiar melahirkan berbagai terobosan program yang lebih efektif, efisien, serta memberikan dampak yang lebih besar, luas, dan berkelanjutan.
Kini, Dompet Dhuafa meluncurkan Dompet Dhuafa Goes Communal Industry, sebagai upaya implementasi Zakat Produktif yang lebih advance, dengan harapan dapat menciptakan kemandirian ekonomi umat melalui penguatan industri berbasis komunitas.
“Dengan adanya Program Sidomukti, kami berharap dapat melahirkan generasi yang memiliki keterampilan membatik, sekaligus membuka peluang usaha baru yang bermanfaat bagi sekolah maupun masyarakat sekitar. Selain itu, ini juga menjadi upaya nyata dalam menjaga kelestarian budaya batik sebagai warisan bangsa,” ujar Muhammad Zahron, Pimpinan Dompet Dhuafa Yogyakarta. (*)
Siaran Pers
