Selasa, 09 Mar 2021,

biksu-asal-thailand-meresmikan-patung-dewa-empat-muka-di-kelenteng-kwan-sing-bio-tubanAlim Sugiantoro bersama Biksu Bhante Khanit Sannano Mahathera asal Thailand. (istimewa)


Siaran Pers
Biksu Asal Thailand Meresmikan Patung Dewa Empat Muka di Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA—Biksu asal Thailand, Bhante Khanit Sannano Mahathera meresmikan patung dewa empat muka di Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Senin (9/11/2020) pukul 09.09 WIB. Bhante juga langsung memimpin ritual doa yang diikuti oleh sejumlah perwakilan umat.

Kedatangan biksu dari Thailand ini, menandai babak baru bagi kerukunan umat beragama di Tuban. Pendirian Patung Buddha Se Mien Fo di Halaman Belakang Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menjadi simbol bersatunya umat, yang selama ini menjadi idaman.


“Hari ini kita meresmikan patung Se Mien Fo,” ungkap Bhante Khanit Sannano Mahathera, sebagaimana rilis yang dikirimkan Ketua Pembina Khonghucu di TITD Kwan Sing Bio Tuban, Alim Sugiantoro, Senin (9/11/2020) malam. Peresmian patung dewa empat muka bertepatan dengan hari ulang tahun Se Mien Fo yang jatuh pada 9 November 2020.

Biksu Bhante Khanit memimpin ritual doa di depan patung dewa empat muka. Diikuti oleh umat yang hadir, Bhante Khanit kemudian ikut membakar 4 batang dupa yang masing-masing untuk 4 wajah patung Buddha.


Tokoh spiritual ini, kemudian mengajak semua umat yang ada di kelenteng Kwan Sing Bio untuk bersatu. Termasuk, mendoakan agar seluruh umat bisa hidup rukun dan damai.

“Kita berdoa untuk Kelenteng, semoga bisa damai, tenteram, sukses dan tidak ada masalah,” ungkap Bhante.

Ia menjelaskan patung Brahma ini memiliki empat sifat. Pertama Metta (mencintai kebaikan dan kebajikan), kedua Karuna (kasih sayang), ketiga Mudita (sukacita simpatik dan empati), dan keempat Upeksha (keseimbangan).

“Kalau selalu cinta kasih, kasih sayang, simpati hati dan seimbang hati, maka hati kita akan tenteram bahagia. Kita harus selalu cinta kasih pada semua mahkluk,” jelasnya.

Pembangunan patung dewa empat muka setinggi 129 centimeter itu atas ide dan dipelopori oleh Alim Sugiantoro seorang tokoh agama Khonghucu sekaligus Ketua Pembina Khonghucu di TITD Kwan Sing Bio Tuban. Pembangunan patung ini, sebagai simbol dan semangat serta bentuk kerukunan umat, dan melengkapi unsur agama yang ada di kelenteng yakni Tri Dharma (Buddha, Tao, dan Khonghucu).

Alim mengatakan, pembangunan patung dewa empat muka ini untuk kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama yang ada di Kelenteng.

Menurut Ketua Penilik Domisioner Kelenteng Tuban ini, TITD Kwan Sing Bio Tuban tidak boleh dijadikan tempat ibadah Wihara atau di Buddha-kan. Sebab di kelenteng Tuban ini adalah Tri Dharma yakni Buddha, Tao, dan Khonghucu.

“Saya orang Khonghucu, tetapi saya membangun ini untuk umat Buddha. Tujuannya agar masing-masing umat saling menghormati dan juga hormat dengan agamanya masing-masing,” tegas Alim.

Dikatakan, selain patung dewa, juga dibangun rumah tari dan rumah dewa empat muka. Biaya pembangunan berasal dari sumbangan keluarga Ketua Penilik Domisioner Kelenteng Tuban Alim Sugiantoro, istri Henny Pudji Astuti, dan didukung beberapa pihak keluarga.

“Setelah ini, umat yang tidak berkesempatan ke Thailand untuk beribadah, bisa datang ke Kelenteng Tuban. Patungnya kita datangkan langsung dari Thailand,” kata Alim.

Lebih lanjut, ia menjelaskan perbendaan yang ada di kelenteng Tuban ini harus dijadikan contoh untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Sebab, selama ini umat yang datang ke kelenteng yang berasal dari luar daerah sangat menghormati perbedaan.

“Umat kelenteng Tuban harus menjadi contoh yang baik dalam rangka menjaga kerukunan antar umat beragama. Jika kita tidak rukun maka malu dengan teman-teman luar daerah yang datang ke Tuban,” terangnya. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini