Rabu, 26 Jan 2022,


bara-pejuang-hutan-adat-dalam-film-the-flameKakek Iber Djamal, tokoh dalam film dokumenter The Flame (istimewa)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Bara Pejuang Hutan Adat dalam Film The Flame

SHARE

KORANBERNAS ID, YOGYAKARTA -- Indonesia merupakan negara pemilik hutan tropis terbesar ketiga setelah Brazil dan Kongo, Namun berdasarkan data Forest Stewardship Council (FSC), deforestasi atau penggundulan hutan di Indonesia terbilang tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut.

Masifnya deforestasi ini menyebabkan masyarakat dunia resah, hutan-hutan masyarakat adat pun sudah banyak yang menjadi korban. Demi ditukar dengan uang yang tidak seberapa, mereka menjual hutan, industri pun melenggang membabati sumber oksigen dunia ini.

Keresahan ini diangkat menjadi sebuah film dokumenter berjudul The Flame oleh sineas muda Arfan Sabran. Film berdurasi 70 menit ini berkisah tentang kehidupan seorang kakek bernama Iber Djamal dalam mempertahankan hutan adat miliknya.

Dalam usia 77 tahun Iber gigih memperjuangkan hutan terakhir di wilayahnya, yaitu Desa Pilang, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Upaya untuk mendapatkan hak hutan adat diperjuangkannya sepanjang hidup.

"Walau banyak yang menentang kakek Iber tetap gigih. Karena jika Iber berhasil maka hutan tersebut tidak bisa untuk konservasi lahan dan lain sebagainya," papar Arfan Sabran, sutradara filmThe Flame saat ditemui di pemutaran perdana film The Flame di Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2021, di Empire XXI, Yogyakarta, Minggu (28/11/2021).

Arfan melanjutkan, Film yang juga bertujuan memaparkan isu krisis iklim dan lingkungan hidup yang telah menjadi permasalahan besar di negara ini. Pemerintah sebenarnya sudah punya komitmen untuk memberikan 4,7 hektar penggunaan hutan adat dan hutan sosial. tapi sejak tahun 2015 sampai sekarang itu yang terjadi mungkin baru tidak sampai 5 persen.

"Sementara dalam setiap detik, deforestasi di Indonesia mencapai beberapa kali luas lapangan sepak bola. Kami akhirnya merasa cerita Pak Iber ini perlu kita bagikan juga agar awareness tentang kepentingan hutan ini bisa didengar secara luas oleh teman-teman," imbuhnya

Kakek Iber, lanjut Arfan, juga merupakan korban dari pembukaan lahan sejuta hektar pada masa orde baru. Tanahnya dicaplok tanpa kejelasan. Karena itulah kemudian film ini berjudul The Flame atau Bara, karena ada hal mendalam [amarah] di dada Kakek Iber.

"Kemudian itu menjadi menarik karena Kakek Iber mengubah itu semua menjadi upaya mempertahankan hutan adatnya," tandasnya.

Sementara produser film The Flame, Gita Fara menambahkan, Kehadiran film dokumenter “The Flame” di JAFF dapat mempertemukan kembali film dengan penontonnya secara langsung, mulai dari para sineas film di Indonesia hingga Asia.

Film ini juga akan mengunjungi berbagai kota di Indonesia untuk mengajak masyarakat agar turut serta dalam upaya melindungi lingkungan hutan adat di Indonesia, antara lain di DKI Jakarta, DIY Yogyakarta, Makassar, dan Palangkaraya.

"Selain itu, film dokumenter “The Flame” akan menyapa secara virtual daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh bioskop melalui pemutaran film dan diskusi yang mendalam," imbuhnya.

Pihaknya merasa bangga bisa membawa film “The Flame” ke hadapan para penonton secara langsung melalui Jogja NETPAC Asian Film Festival 2021. Melalui program JAFF, film “The Flame” bukan hanya bertujuan menyuarakan kisah tentang perjuangan pelestarian hutan adat di hadapan penonton Indonesia, tapi juga bisa ditonton oleh para pegiat film di Asia.

"Harapan saya kedepannya, film ini dapat diterima dengan baik oleh para penggemar film dokumenter dan problematika perlindungan tanah adat yang layak pun mendapat perhatian kita," lanjutnya.

"Kami sangat senang film ini menjadi bagian dari JAFF ke-16 dan bisa dinikmati oleh para penggemar film. Saya berharap dengan adanya penayangan film “The Flame” di JAFF dapat membantu mempercepat dan memperluas edukasi yang akan kami lakukan di berbagai wilayah Indonesia terkait isu lingkungan hidup, terutama hutan adat yang kian punah," kata Dia.

Selain menonton, juga dilaksanakan sesi diskusi film yang diharapkan dapat menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan tujuan kami untuk mengangkat isu krisis iklim dan deforestasi hutan adat.

“The Flame” merupakan film dokumenter panjang pertama karya Arfan Sabran ini telah tayang di Vision du Reel Film Festival di Swiss pada April 2021, DMZ Documentary Film Festival di Korea pada September 2021, dan Bifed, Ecology Film Festival di Turki pada Oktober 2021.

Film ini juga berhasil meraih nominasi film dokumenter panjang terbaik pada Festival Film Indonesia 2021. Selanjutnya, film dokumenter ini juga akan tayang di Singapore International Film Festival pada Desember 2021.

Film The Flame, produksi Abimata Group, Cineria Film, RM Cine Makassar, dan Al Jazeera Documentary Channel juga bekerjasama dengan yayasan Dian Sastrowardoyo dan juga Citra Subiakto dari Sejauh Mata Memandang.

"Hal ini dilakukan agar film dokumenter ini tidak berhenti di film saja, tetapi juga bisa punya campaign atau awareness yang lebih luas tentang permasalahan hutan yang ada di Indonesia bahkan dunia," tutupnya.(*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini