Bakpia Jiwa Jogja Berawal dari Toko Batik
Banyak wisatawan datang ke sini membeli batik, tetapi mereka juga mencari bakpia.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Bakpia selama ini dikenal sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta dengan cita rasa klasik seperti kacang hijau dan kumbu hitam. Namun, perubahan tren konsumsi, terutama di kalangan generasi muda, mendorong pelaku usaha berinovasi agar tetap relevan di tengah persaingan industri oleh-oleh yang semakin ketat.
Ini dilakukan Bakpia Jiwa Jogja. Menariknya, usaha bakpia ini lahir bukan dari industri kuliner melainkan berawal dari toko Batik Yudhistira di Jalan Taman Siswa yang kerap dikunjungi wisatawan.
Owner Bakpia Jiwa Jogja, Anis Suci Fajarwati, di sela peluncuran dua varian baru Bakpia Jiwa Jogja, Minggu (7/6/2026) sore, mengungkapkan ide itu muncul sekitar dua tahun silam setelah banyak pelanggan toko batiknya menanyakan lokasi pembelian oleh-oleh khas Yogyakarta.
"Banyak wisatawan datang ke sini membeli batik, tetapi mereka juga mencari bakpia. Karena banyak permintaan itu, akhirnya kami mencoba membuat bakpia sendiri dengan bahan-bahan premium," ujarnya.
Memiliki identitas
Berangkat dari kebutuhan pelanggan tersebut, Suci bersama tim kemudian mengembangkan produk yang tidak sekadar menjadi pelengkap toko batik, tetapi memiliki identitas tersendiri sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta.
Untuk menghasilkan produk yang berbeda, Jiwa Jogja menggandeng peracik resep bakpia Heri Prasetya untuk mengembangkan bakpia premium. Berbagai percobaan dilakukan hingga lahirlah sejumlah varian bakpia yang kini menjadi andalan. Tidak hanya mengandalkan rasa tradisional, Jiwa Jogja juga melakukan sejumlah inovasi yang menyasar pasar anak muda.
Salah satunya adalah varian matcha dan cappuccino yang baru diluncurkan setelah melalui proses riset cukup panjang.
Menurut Anis, keputusan membuat rasa-rasa tersebut bukan tanpa alasan. Tren konsumsi generasi Z yang gemar menikmati kopi dan minuman berbasis matcha menjadi pertimbangan utama.
Lebih kekinian
"Anak-anak sekarang suka sekali kopi dan matcha. Kami melihat permintaan pasar ke arah sana. Karena itu kami mencoba menghadirkan rasa yang lebih kekinian tanpa meninggalkan identitas bakpia itu sendiri," katanya.
Dia menilai pasar oleh-oleh juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya wisatawan lebih banyak mencari rasa-rasa klasik, kini generasi muda cenderung mencari pengalaman baru dan cita rasa yang dekat dengan keseharian mereka.
"Dulu identiknya kacang hijau, kumbu hitam atau rasa-rasa tradisional lainnya, sekarang Gen Z ingin sesuatu yang lebih kekinian. Kami berusaha mengikuti perkembangan itu," ujarnya.
Meski dengan berbagai inovasi, Jiwa Jogja tetap mempertahankan bakpia kacang hijau sebagai produk utama. Bagi mereka, rasa klasik tetap menjadi identitas yang tidak bisa dipisahkan dari bakpia Yogyakarta.
Mempertahankan rasa
"Bakpia kacang hijau itu seperti ikon. Orang membeli bakpia pasti tetap mencari kacang hijau. Jadi kami tetap mempertahankan rasa tersebut sambil mengembangkan varian baru," katanya.
Selain matcha dan cappuccino, salah satu produk yang cukup menarik perhatian adalah bakpia layer yang terinspirasi dari kudapan berlapis khas Tiongkok. Produk ini menawarkan tekstur berbeda dibandingkan bakpia konvensional.
Heri menambahkan, varian klepon juga menjadi salah satu favorit pelanggan dan hingga kini masih menjadi produk terlaris di luar rasa klasik. Di balik pembuatan setiap varian baru, terdapat proses riset yang tidak singkat.
Heri menjelaskan pengembangan produk dilakukan mulai dari survei pasar hingga penyempurnaan resep agar sesuai dengan karakter konsumen yang dituju.
Kualitas bahan
Komitmen terhadap kualitas bahan juga menjadi prinsip yang dipegang Jiwa Jogja. Di tengah ketatnya persaingan bisnis bakpia, mereka memilih mempertahankan kualitas dibandingkan bersaing melalui harga murah. Dalam sehari, Jiwa Jogja bisa menjual lebih dari 400 boks beragam varian.
"Kami tidak ingin menurunkan kualitas bahan hanya untuk menjual lebih murah. Kami ingin konsisten menggunakan bahan premium karena itu yang menjadi nilai jual kami," ujarnya.
Untuk memperkuat kepercayaan pelanggan, Jiwa Jogja menerapkan konsep open kitchen. Melalui konsep ini, pengunjung dapat melihat secara langsung proses pembuatan bakpia dari dekat.
Transparansi tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi bagi wisatawan mengenai proses produksi salah satu kuliner ikonik Yogyakarta.
Wisata edukasi
Tidak berhenti pada penjualan produk, Jiwa Jogja juga mengembangkan program wisata edukasi melalui kelas pembuatan bakpia bagi anak-anak sekolah maupun keluarga yang berkunjung.
Pengunjung dapat belajar membuat bakpia secara langsung dan mengenal bahan-bahan yang digunakan dalam proses produksi.
Keunikan lainnya, karena berada dalam satu kawasan dengan toko batik, wisatawan juga dapat memperoleh paket pembelian atau bundling antara produk batik dan bakpia.
Kombinasi antara kuliner dan kerajinan khas Yogyakarta tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin membawa pulang pengalaman Jogja dalam satu paket.
Perjalanan Bakpia Jiwa Jogja menunjukkan bagaimana pelaku UMKM mampu membaca perubahan zaman. Berawal dari toko batik yang melayani kebutuhan wisatawan, kini usaha tersebut berkembang menjadi produsen bakpia dengan berbagai varian rasa yang menyasar generasi muda. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
