Kamis, 21 Okt 2021,


-sempat-tolak-pemakaman-prokes-warga-kini-justru-jadi--relawanWarga Lopati, Trimurti, Srandakan Bantul mengikuti pelatihan pemulasaran atau ruhti jenazah dengan standar Prokes, Sabtu (14/8/2021). (sariyati wijaya/koranbernas.id)


Sariyati Wijaya
Sempat Tolak Pemakaman Prokes, Warga Kini Justru Jadi Relawan

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Warga di Dusun Lopati, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Bantul mengikuti kegiatan pelatihan pemulasaran atau rukti jenazah Covid-19, Sabtu (14/8/2021) siang. Kegiatan ini digelar oleh Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Bantul bekerjasama dengan Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) PP Muhammadiyah.


Pada pelatihan tersebut mengundang narasumber Budi Santoso dari tim media MCCC dan juga tim FPRB Bantul.


“Awalnya dulu warga disini sempat ada penolakan terhadap pemakaman standar prokes ketika ada warga yang meninggal dan terkonfirmasi positif. Namun kini telah tumbuh kesadaran bahkan mereka yang meminta untuk dilakukan pelatihan rukti jenazah dan kini siap menjadi relawan. Tentu sebuah hal yang sangat membanggakan,” kata Ketua FPRB Bantul, Waljito SH, ketika diwawancarai di lokasi.

Penolakan itu, lanjut Waljito, karena ada salah persepsi yang berkembang. Warga saat itu beranggapan jika pemakaman prokes tidak memenuhi syariat Islam. Ternyata setelah diberi pengertian mereka paham jika pemakaman prokes sesuai syariat Islam sehingga menyatakan dukungannya.


“Hari ini mereka mendapat pelatihan agar semakin memahami tentang cara-cara pemulasaran jenazah. Termasuk mengetahui jika semua tahapan sudah sesuai syariat Islam dan sesuai aturan kesehatan,” ungkapnya.

Ada pun untuk jumlah peserta latihan ada 35 orang dan terbagi dalam dua sesi. Sementara Sutiyem, salah satu warga Dukuh Lopati mengatakan, jumlah yang mengikuti pelatihan untuk laki-laki 20 orang dan sisanya perempuan.

“Ini adalah bentuk antisipasi kami. Ketika ada warga yang meninggal dan harus dimakamkan dengan prokes. Kami sudah siap baik untuk rukti jenazah laki-laki atau perempuan,” katanya.

Sedangkan untuk kasus penolakan, semua dipicu karena ada miskomunikasi di tengah warga.

“Dan sekarang kami mengikuti pelatihan ini agar semakin paham seperti apa pemakaman dengan prokes itu. Peserta dari berbagai unsur baik tokoh masyarakat, takmir ataupun PKK dan kelompok lain,” tandasnya. (ros)

 

 

 



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini