Kamis, 06 Mei 2021,


wah-ada-cat-anti-radar-berkat-teknologi-nuklirKapal milik TNI AL yang telah dicat menggunakan cat anti deteksi radar yang dikembangkan BATAN. (dok. BATAN)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Wah, Ada Cat Anti Radar Berkat Teknologi Nuklir

SHARE

KORANBERNASD ID, YOGYAKARTA -- Siapa sangka mineral Logam Tanah Jarang (LTJ) yang kurang termanfaatkan di Indonesia bisa menjadi bahan yang cukup vital untuk industri teknologi. Material ini menjadi pemicu lahirnya teknologi baru yang masih akan terus berkembang seperti LCD, magnet dan baterai hybrid. Hal ini pula yang mengakibatkan permintaan LTJ yang terus meningkat.

Indonesia boleh bangga. BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) sebagai satu-satunya lembaga di Asia Tenggara yang mampu melakukan pengujian bahan dengan menggunakan teknologi berkas neutron. Pengujian ini mampu menjelaskan berbagai interaksi magnetik dan elektrik yang terjadi di dalam bahan LTJ yang kemudian dikembangkan BATAN dalam pengembangan cat anti deteksi radar.

Dalam penelitian yang telah dikembangkan sejak 2015, BATAN berhasil membuat teknologi anti deteksi radar berbasis smart magnet untuk alat utama sistem pertahanan (Alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI).

BATAN telah berhasil membuat prototipe skala pilot berupa cat anti deteksi radar yang telah diaplikasikan pada potongan pelat kapal logam dari alumunium dan besi yang tidak dapat dideteksi oleh radar pada frekuensi X-band (8-12 GHz).

"Cat anti deteksi radar ini telah diujicobakan pada kapal Patkamla Sadarin milik TNI Angkatan Laut (TNI AL) pada 2019 silam," papar Anhar Riza Antariksawan, Kepala BATAN, kepada wartawan, Senin (12/4/2021).

"Logam tanah jarang merupakan mineral yang penggunaannya banyak banget. Semua zat-zat sekarang pun menggunakan logam tanah jarang, termasuk industri pertahanan. Ini merupakan teknologi terkini dan hanya dimiliki oleh negara-negara maju," lanjutnya.

“Ini merupakan teknologi milenial yang mampu menyerap gelombang radar pada frekuensi tertentu. Teknologi ini hanya dimiliki oleh negara-negara maju dan tidak bersifat komersial karena merupakan bahan yang sangat strategis untuk pertahanan nasional suatu negara,” jelasnya.

Anhar melanjutkan, BATAN terlibat ke sana karena yang sedang dikembangkan saat ini merupakan pengembangan dari kemampuan BATAN dalam mengolah pasir monasit menjadi LTJ sebagai salah satu material dari smart magnet.

"Pasir monasit itu ditemukan di limbah tambang timah di Bangka Belitung. Di pasir monasit ini ternyata mengandung berbagai unsur yang sangat strategis, yaitu logam tanah jarang," katanya.

Dalam hal ini, pihaknya bekerja sama dengan PT Timah. Pertama, memisahkan dulu uranium dan thoriumnya dari pasir monasit. Setelah uranium dan thorium terpisahkan, kemudian diekstraksi menjadi mineral tanah jarang.

Ini merupakan produk yang terus didorong agar bisa dimanfaatkan. Dalam konteks ini, selain membangun SDM secara nasional, juga memberikan kontribusi, bahkan bisa memberikan layanan kepada negara lain yang akan belajar dengan gabungan antara pakar dari BATAN dan pakar dari mereka sendiri.

Di pusat teknologi akselerator, lanjut Anhar, BATAN membuat fasilitas bernama internet reactor laboratory. Dengan internet operator ini, bisa belajar mengenal reaktor kemudian sedikit banyak tahu cara beroperasinya reaktor nuklir melalui internet.



Internet reactor laboratory ini sudah berkembang jauh. Di Indonesia sudah dicobakan ke beberapa universitas. Tidak hanya di Jawa, tetapi juga di Sumatera dan Kalimantan.

Kini, internet reactor laboratory tidak hanya digunakan secara nasional. Beberapa universitas di luar negeri juga menggunakannya secara rutin yaitu Uni Emirat Arab.

"Negara itu sekarang sudah punya PLTN, meskipun mereka merupakan negara penghasil minyak. Walau baru satu yang beroperasi secara komersil, tapi mereka saat ini sudah memiliki empat buah pembangkit listrik bertenaga nuklir," lanjut Anhar.

"Tetapi mereka tidak punya reaktor riset. Jadi mahasiswa yang ingin belajar reaktor nuklir, mereka memanfaatkan internet reaktor laboratory yang reaktornya adalah reaktor Kartini Yogyakarta. Selain itu ada dua universitas di Malaysia yang saat ini sedang dalam pembicaraan untuk ikut menggunakan internet reactor laboratory ini dan satu universitas di Amerika serikat yang juga tertarik," pungkasnya. (*)







SHARE

'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini