UPN Yogyakarta Ubah Air Berbau Besi Jadi Layak Minum di Rumah Tahfidz Moyudan
Tim Pengabdian bagi Masyarakat (PbM) dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) turun tangan mengatasi kondisi air sumur yang mengandung zat besi tinggi di Rumah Tahfidz Al-Mu’thi, Moyudan, Sleman. Tim menerapkan teknologi membran canggih, yang berhasil mengubah air tak layak konsumsi menjadi jernih, aman, dan sehat.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN--Air berwarna kekuningan seperti teh encer, berbau logam, dan meninggalkan noda permanen pada pakaian. Itulah kondisi air sumur yang selama ini menjadi satu-satunya sumber air bagi para santri di Rumah Tahfidz Al-Mu’thi, Moyudan, Sleman. Namun, masalah menahun itu kini berakhir.
Tim Pengabdian bagi Masyarakat (PbM) dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) turun tangan dengan menerapkan teknologi membran canggih. Mereka berhasil mengubah air yang tak layak konsumsi menjadi jernih, aman, dan sehat.
Ancaman di Balik Air Ber-zat Besi
Masalah air dengan kandungan besi (Fe) tinggi adalah problem umum di banyak wilayah pedesaan DIY, termasuk Moyudan, yang secara geologis lapisan batuannya mudah melarutkan unsur besi ke dalam air tanah. Kondisi ini bukan sekadar masalah estetika.
Ketua Tim PbM UPNVY, Dr. Ir. Ekha Yogafanny, S.Si., M.Eng., menjelaskan bahwa mengonsumsi air dengan kadar besi tinggi dalam jangka panjang membawa risiko kesehatan serius.
"Dampaknya bisa berupa gangguan pencernaan, iritasi kulit, hingga masalah kesehatan lainnya. Ini jelas menurunkan kualitas hidup, terutama bagi para santri yang tinggal dan beraktivitas di sini setiap hari," ujarnya.
Tim dari UPN Veteran Yogyakarta memberikan penjelasan terkait fasilitas penjernih dan pembersih air serta cara perawatannya. (Dokumentasi Tim UPN Veteran Yogyakarta)
Teknologi Membran: Menyaring Hingga Partikel Terkecil
Menjawab tantangan tersebut, tim yang didanai hibah internal LPPM UPNVY ini memasang sistem pengolahan air dengan teknologi membran ganda: Ultrafiltrasi (UF) dan Reverse Osmosis (RO).
Sederhananya, sistem ini bekerja dalam dua tahap penyaringan super ketat:
1. Membran Ultrafiltrasi (UF): Berfungsi sebagai pra-filter untuk menyaring partikel-partikel besar, sedimen, dan kotoran kasat mata.
2. Membran Reverse Osmosis (RO): Tahap inti yang menyaring partikel super kecil hingga level ion, termasuk ion besi (Fe) yang menyebabkan warna dan bau tak sedap. Hasilnya adalah air murni yang sangat layak minum.
Edukasi untuk Kemandirian Jangka Panjang
Implementasi teknologi ini tidak berhenti pada pemasangan alat. Pada 18 Agustus 2025 lalu, Dr. Ekha bersama timnya yang terdiri dari dosen dan mahasiswa menggelar sosialisasi dan pelatihan langsung di Rumah Tahfidz Al-Mu’thi.
Para santri dan pengelola tidak hanya diberi pemahaman tentang bahaya air dengan kandungan besi tinggi, tetapi juga dilatih secara teknis cara mengoperasikan dan merawat alat tersebut.
“Tujuan kami bukan hanya memberikan solusi sesaat. Kami ingin memberdayakan mereka agar bisa mengelola sistem ini secara mandiri dan berkelanjutan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan mereka,” tambah Dr. Ekha.
Melalui inisiatif ini, UPNVY membuktikan peran nyata perguruan tinggi dalam menyelesaikan masalah konkret di masyarakat, mengubah ilmu pengetahuan di dalam kampus menjadi manfaat yang bisa dirasakan langsung setiap hari. (*)
Siaran Pers
